- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Alasan yang Tak Berujung

Pada akhir pekan, kami membawa anak-anak jalan-jalan ke sebuah pulau. Pulau yang tidak jauh dari pantai, ada jembatan kayu yang terpancang. Rancangan jembatan yang tampak elok, berkelok-kelok, bagian tengah juga dibangun semacam teras yang sangat disukai turis untuk sekadar menikmati pemandangan sekitar.

Melihat anak-anak berpakaian rapi, berjalan sambil melompat-lompat di sepanjang jembatan, tak tahan saya pun bergumam : Masa-masa yang paling indah, ceria dan polos dalam sepanjang hayat manusia adalah masa kanak-kanak. Saya pun mengambil kamera ponsel dan memotret anak-anak, tentu saja orang tua mengambil gambar anak-anak itu sama biasanya seperti makan-minum, tapi orang tua yang berbeda sepertinya juga memiliki gaya yang tidak sama.

Tak jauh dari kami tampak sekeluarga lain juga tengah bermain dengan ceria, pasangan suami isteri membawa serta seorang anak perempuan yang baru berusia sekitar tiga tahun. Tanpa sengaja saya mendengar percakapan mereka. Ibunya bermaksud mengambil gambar si anak, tapi ditentang oleh suaminya, yang katanya rambut si anak itu hari ini tampak berantakan tidak rapi, lain kali saja baru difoto.

Usulan ibu sebenarnya sangat umum, reaksi suaimnya juga wajar, karena ingin si anak tampak lebih menarik. Tetapi, sang ibu tampaknya sangat jengkel mendengarkan kata-kata suaminya, kemudian tanpa peduli dengan orang-orang di sekitar, ibu pun berkata dengan nada ketus : “Setiap kali selalu berkata begitu, lain kali saja, lain kali saja, kalau begitu tunggu sampai usia 10 tahun putri kita juga tidak jadi-jadi fotonya.”

Melihat pasangan yang mulai berdebat, diam-diam kami pun pergi, memberi lebih banyak ruang pada mereka untuk berkomunikasi. Namun, dilihat dari reaksi ibu itu, saya yakin itu bukan pertama kalinya si suami mencari-cari alasan. Mungkin bagi dia, memotret bukan hal penting, kapan saja bisa foto, tapi menampik berulang-kali itu jelas alasan yang dibuat-buat.

Alasan adalah sesuatu yang menarik, tidak ada akhirnya, selama hal itu tidak ingin dikerjakan, selalu saja ada alasan untuk menolaknya. Beberapa alasan kita gunakan untuk mengelak ; Beberapa alasan lainnya kita gunakan untuk menghibur diri kita sendiri. Kadang-kadang, mencari-cari alasan itu telah menjadi sesuatu yang alami, bahkan kita sendiri saja tidak menyadari kalau itu hanyalah alasan terhadap sesuatu yang tidak ingin kita lakukan.

Mungkin dalam keseharian kita ada banyak pertengkaran seperti contoh pasangan suami isteri di atas, yang membuat jengkel itu bukan pada apakah bisa menyelesaikan sesuatu hal, tetapi sikap kita terhadap hal itu. Jika karena faktor eksternal, dan memang benar-benar tidak berdaya, saya pikir banyak orang yang bisa memakluminya. Namun, jika hanya dikarenakan diri kita sendiri yang memang tidak bersedia, sengaja mengelaknya dengan mencari-cari alasan, maka hal ini rentan membuat orang menjadi antipati. Jadi, seseorang itu seharusnya lebih mengintrospeksi diri, setiap saat ingin mencari-cari alasan, sebaiknya renungkan dulu, ada berapa banyak alasan yang bisa diandalkan ? Berapa banyak yang menutupi batin ? Jika menyingkirkan alasan yang dibuat-buat, berbincang-bincang dengan tulus dari hati ke hati, bukankah ini jauh lebih baik ? (Epochtimes/ Qing Song/Jhn)