Para astronom menemukan sebuah pola pertumbuhan baru dari galaksi, berkembang dengan cara menelan awan gas secara terus menerus, bukan berkembang secara penggabungan dari galaksi kecil seperti pada umumnya.

Kepala peneliti dari Pusat Astrofisika Spanyol (Centre for Astrobiology), Bjorn Emonts seperti dilansir dari laman Science Alert, Rabu (7/12/2016) mengatakan, “Fenomena ini berbeda dengan situasi yang kita saksikan di sekitar alam semesta. Galaksi di gugus galaksi disini tumbuh besar dengan cara melahap galaksi lain.”

Selama ini para ilmuwan beranggapan, bahwa pembentukan “superkluster” dan galaksi raksasa yang terdiri dari puluhan juta galaksi itu karena penggabungan secara bertahap dari galaksi yang lebih kecil di sekitarnya, tapi tidak jelas mengapa ada galaksi yang maha besar pada awal alam semesta, sebab jumlah galaksi kecil kala itu sangat sedikit.

“Pada awal alam semesta telah ada galaksi dengan massa yang sangat besar, ini adalah misteri yang belum terungkap. Kita belum tahu mengapa alam semesta begit cepat menghasilkan galaksi yang sedemikian besar. Tidak bisa dibayangkan dari mana galaksi raksasa yang terbentuk semasa awal alam semesta ini menyerap materi yang sedemikian besar dalam waktu singkat,” ujar Nina Hatch, astronom dari Universitas Nottingham, Inggris.

Karena itu, para ilmuwan mencoba mengamati “galaksi jaring laba-laba” yang berjarak 10 miliar tahun cahaya, untuk menelusuri hal terkait di atas. Dengan menggunakan Australia teleskop kompak Array (Australia Telescope Compact Array) dan The Very Large Telescope Array (VLA) dari National Science Foundation, Amerika, mereka mendeteksi galaksi di kluster galaksi raksasa ini dikelilingi oleh segumpalan awan gas besar.

Gumpalan awan gas ini adalah tiga kalinya ukuran galaksi Bima Sakti, dengan massa 100 miliar setara dengan massa matahari, sementara suhunya ekstrim rendah yakni sekitar minus 200 derajat Celcius.

Diluar dugaan, awan antarbintang di sekitar “galaksi jaring laba-laba” mengandung karbon monoksida, dan data menunjukkan awan antarbintang terus dilahap oleh galaksi terbesar dari kluster galaksi ini.

Fenomena ini mengejutkan, Matius Lehnert dari Paris Institute of Astrophysics mengatakan, ”Kita pernah memprediksi ada banyak galaksi yang hancur disana, sehingga gas dipanaskan, dan sulit untuk mendeteksi karbon monoksida.”

Namun, pengamatan yang sebenarnya diluar dugaan. Para ilmuwan bukan saja mendeteksi adanya karbon monoksida yang melimpah di sehamparan antarbintang raksasa itu, tapi gas-gas ini juga tersebar di antara galaksi,  bukan berada di dalam galaksi yang lebih kecil.

Namun, para ilmuwan belum tahu asal karbon monoksida tersebut.

“Ia adalah produk sampingan di internal bintang, tapi kami tidak tahu dari mana asalnya, dan bagaimana hal itu terakumulasi ke pusat galaksi.” Ujar Bjorn Emonts, kepala peneliti dari Pusat Astrofisika Spanyol. (Epochtimes/Lin Yan/joni/rmat)

Share

Video Popular