Disautonomia , kelainan sistem saraf otonom, diberi label “penyakit tidak tampak.” Oleh karena itu slogan untuk meningkatkan kesadaran tersebut berbunyi: “Jangan karena tidak tampak, maka dianggap tidak ada”.

Disautonomia tidak menunjukan cacat fisik serta tidak memberikan petunjuk yang dapat diandalkan untuk mengetahui penyakit sebenarnya yang diderita penderita.

Lebih dari 70 juta orang di seluruh dunia menderita akibat kelainan sistem saraf otonom, demikian laporan Disautonomia Internasional, sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 2012.

Menurut Disautonomia Internasional, banyak dokter kurang menyadari masalah sistem saraf otonom, sehingga cenderung salah dalam menegakkan diagnosis, seperti sindrom kelelahan kronis atau kecemasan hingga epilepsi atau kondisi migrain atau diagnosis lainnya.

“Dokter dilatih untuk lebih memertimbangkan penyakit umum dengan seksama sebelum menyelidiki lebih lanjut,” klaim pengacara kesehatan dan blogger Kevin Williams. “Jangan sampai salah menegakkan diagnosis… Disautonomia adalah misteri yang rumit untuk sebagian besar dokter.”

Hingga beberapa dekade yang lalu, penderita disautonomia didiagnosis menderita neurosastenia, gangguan psikologis yang ditandai dengan mudah lelah dan kurangnya motivasi. Sebagian besar penderita salah didiagnosis oleh anggota keluarga dan dokter sebagai penderita penyakit psikosomatis atau imajiner, penderita sering dituduh mengada-ada atau pemalas. Penderita dianggap sebagai penderita kecemasan.

“Ketika penderita memiliki keberanian untuk mengeluhkan gejala tanpa memberikan temuan medis yang objektif untuk mendukung gejala tersebut, mereka sering diangga menderita hilang akal,” kata Dr. Richard N. Fogoros, seorang ahli jantung dan peneliti disautonomia yang tinggal di Pennsylvania.

Sistem saraf otonom, bagian dari sistem saraf perifer, bertanggung jawab untuk mengatur fungsi tubuh involunter seperti aliran darah, detak jantung, pencernaan, pernapasan, dan gairah seksual. Sistem saraf otonom dibagi menjadi dua cabang: Sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Sistem saraf simpatis bertindak sebagai mekanisme untuk keyakinan, atau “melawan atau lari “, dan mempercepat detak jantung dan meningkatkan aliran darah ke otot. Sistem saraf parasimpatis berfungsi sebagai penangkis, atau penarik, dan memperlambat denyut jantung dan pernapasan, mengurangi aliran darah ke otot dan menyempitkan pupil mata. Ungkapan yang menarik untuk sistem saraf parasimpatis adalah “beristirahat dan mencerna”.

Kadang sistem saraf ini tidak berfungsi sebagai seharusnya.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Verywell, sebuah jurnal online kesehatan dan kesejahteraan, Dr. Richard N. Fogoros mengatakan,” Gejala sangat berbeda. Disautonomia dapat menyebabkan ketidakberdayaan, dan gejala biasanya jauh dari proporsi temuan fisik atau laboratorium objektif”.

Gejala termasuk kelelahan dan kelemahan yang berlebihan, mual, vertigo, pingsan, dan masalah koordinasi otot, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan iklim atau suhu, atau latihan fisik secara berlebihan. Misalnya, latihan fisik dapat mengakibatkan keringat berlebihan, vertigo, dan mual, sehingga mengharuskan penderita berbaring sampai serangan berlalu, beberapa menit sampai beberapa jam.

Salah satu wujud dari disautonomia disebut sindrom takikardia ortostatik postural, yang mencegah tubuh untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan. Hal ini dapat ditandai dengan detak jantung yang berlebihan ketika bangun atau perubahan posisi. Demikian pula, penderita sindrom takikardia ortostatik postural dapat dicirikan memiliki tetes episodik tekanan darah atau denyut jantung, atau keduanya, yang menyebabkan pingsan. Disautonomia Internasional menjelaskan disfungsi otonom lainnya, seperti gangguan visual, leher dan dada atau nyeri otot, kehilangan keseimbangan, kesulitan bergerak, dan hilangnya keterampilan motorik.

Disautonomia Internasional menyatakan tidak ada penyebab yang diketahui dan tidak ada obat untuk disautonomia. Beberapa ahli berhipotesis bahwa beberapa orang membawa gen yang dapat memicu terjadinya disautonomia, dan diturunkan dalam keluarga. Penyakit virus, paparan bahan kimia, dan trauma diyakini juga menjadi pemicu disautonomia. Kecuali untuk bentuk disautonomia yang jarang ditemukan yaitu atrofi beberapa sistem, yang menyerupai penyakit Parkinson, disautonomia tidak dianggap fatal.

Disautonomia Internasional mengatakan bahwa sebagian besar orang dengan gejala disautonomia memenuhi syarat ketidaksanggupan kerja.

Rasio wanita:pria untuk penyakit disautonomia lebih dari 4:1. Tidak ada yang tahu alasan ini.

Disautonomia Internasional menambahkan bahwa prognosis disautonomia berkisar pada penyesuaian gaya hidup. Meskipun beberapa obat diketahui membantu beberapa penderita, umumnya terutama pada anak menderita dalam mengatasi gejala yang timbul. Namun, sebagian besar penderita dapat hidup dengan gangguan tersebut selama hidupnya. Berarti penderita harus menggabungkan makanan, latihan fisik dan minum banyak air. (Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular