NASA dikenal luas sebagai badan yang mengeksplorasi tata surya kita dan mekanisme alam semesta.Sebenarnya dengan menggunakan pengamatan dan citra satelit, eksplorasi terhadap bumi juga sangat detail, satelit dapat membantu arkeolog dunia dalam hal temuan yang inovatif.

Menurut laporan, teknologi NASA telah membantu sebuah penemuan kota kuno berusia 10.500 tahun terkubur di bawah hutan rimba.

Sekarang, mekanisme alam semesta ini telah membantu temuan sebuah situs kota kuno, yang diduga sebagai tempat hunian penduduk asli benua Amerika.

Dengan bantuan perangkat laser penginderaan jauh (remote sensing), para ilmuwan dapat memperbesar kota kuno yang diperkirakan berusia 10.500 tahun yang diselimuti hutan belantara di Oklahoma. Para ahli percaya bahwa di masa lalu kota kuno ini dihuni oleh pemburu-pengumpul / hunter-gatherers, mereka mengumpulkan bison di selokan buntu, kemudian berburu bersama.

Situs kota kuno ini berada di dekat Beaver River, Oklahoma, Amerika Serikat. Terima kasih atas bantuan light detection and ranging dan LiDAR.

Perangkat yang dinamakan Teledyne Optech Lidar ini dapat merekonstruksi model 3D, seperti perumputan, hutan, pohon dan sebagainya, juga dapat menciptakan sebuah medan penglihatan permukaan bumi, penghapusan semua rintangan, dan memungkinkan medan penglihatan para ilmuwan mengamati permukaan bumi secara jelas.

“Perangkat ini memungkinkan para ilmuwan mengamati “rerumputan liar hingga struktur atau karakteristik yang tidak bisa dilihat secara jelas dipermukaan bumi,” kata Paul LaRoque, wakil direktur program khusus di Teledyne Optech.

Kota kuno ini diduga pernah dihuni penduduk asli Amerika kuno. Teknologi ini membantu para arkeolog menemukan situs sejarah. (Internet)
Laser penginderaan jauh/ remote sensing (Internet)

Laporan terkait menyebutkan, bahwa perangkat remote-sensing yang inovatif ini memungkinkan para ahli bisa secara jelas mengintip lapisan pohon yang tebal-tebal, dan fosil maupun tulang yang terpendam di bawah permukaan.

Realitas dari teknologi ini, berkat para ilmuwan yang mengembangkan perangkat “observasi planet, bulan, asteroid dan sebagainya.

“Pada awal program Apollo NASA telah menanamkan teknologi light detection and ranging, LiDAR, ujar Lee Bement.”

Sementara itu, ahli remote-sensing, Meg Watters mengatakan, “Anda tidak akan pernah menggunakan light detection and ranging, LIDAR untuk menemukan tulang bison, tetapi Anda bisa menemukan karakteristik geologi yang layak dieksplorasi.”

Menariknya, light detection and ranging dan LiDAR telah membantu banyak temuan yang inovatif baru-baru ini. Teknologi ini juga telah membantu arkeolog menemukan situs sejarah di Honduras, La Ciudad Blanca (White City-Ciudad Blanca).” (Secretchina/Chen Gang/joni/rmat)

Share

Video Popular