Oleh Xiao Ming

Rohrabacher: Stop Pengambilan Paksa Organ Tubuh Jadi Prioritas Saya Terpilih

Berikut adalah bagian kedua dari wawancara reporter NTDTV Xiao Ming dengan kandidat Menlu AS, Dana Tyrone Rohrabacher.

Jika terpilih sebagai Menteri Luar Negeri, hal pertama yang akan saya lakukan adalah mendesak PKT menghentikan pengambilan paksa organ tubuh.

Reporter: Saya memahami bahwa Anda dan beberapa orang lainnya adalah kandidat Menlu AS. Yang ingin saya tanyakan adalah, bila Anda terpilih nanti, bagaimana dengan struktur konseptual dasar yang akan Anda gunakan dalam menangani hubungan AS – Tiongkok ?

Rohrabacher: Pertama, kita akan mengadakan negosiasi ulang terhadap perjanjian perdagangan antar kedua negara untuk menetapkan aturan mainnya, dengan maksud agar keuntungan dari transaksi perdagangan itu tidak hanya masuk kantong segelintir orang dari kedua negara. Kita tahu bahwa rakyat Tiongkok yang paling parah mengalami eksploitasi. Pada saat yang sama, akan saya upayakan agar tidak cuma para bos Amerika saja yang mendapat keuntungan. Kita bisa merancang aturan main baru untuk menghindari kekayaan dihisap oleh segelintir orang di Tiongkok. kita akan mengupayakan agar perdagangan berjalan lebih seimbang.

Kedua, Kita akan memastikan bahwa pemerintah AS tidak akan menghindar dari tuntutan  untuk menolak pemberian hak yang sama kepada negara yang rakyatnya masih ditindas. Misalnya, di Tiongkok tidak boleh ada partai oposisi, tidak ada kebebasan pers, tidak ada media elektronik yang vokal. Akibatnya hak eksklusif Tiongkok jadi tamat. Oleh karena itu, kita akan melakukan hal dengan tujuan untuk melemahkan hak eksklusif dari segelintir orang di Tiongkok terhadap hak eksklusif rakyat, kita ingin rakyat Tiongkok tahu bahwa kita berada di pihak mereka.

Reporter: Berbicara soal isu HAM di Tiongkok, Anda berkomitmen untuk menghentikan pengambilan paksa organ hidup. Apa yang akan Anda lakukan kelak bila terpilih?

Rohrabacher: Sebagai Menlu, tentang Tiongkok, hal pertama yang bisa saya lakukan adalah memastikan agar setiap kesempatan yang memungkinkan transaksi jual-beli organ tahanan atau yang diambil secara paksa itu bisa segera terhenti. Hal ini tidak sulit, di AS (misalnya) ada orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas atau lainnya sehingga membutuhkan  organ orang lain. Kita ingin memastikan bahwa organ yang dikaruniakan dari Tuhan itu akan disumbangkan secara sukarela oleh sang donatur, bukan organ yang berasal dari pencurian atau pengambilan paksa. Sayangnya, sejauh ini pemerintah Tiongkok tidak menjamin hal ini, tidak ada hukum yang melindungi. Jika seseorang membutuhkan organ untuk transplantasi, siapa yang bisa menjamin bahwa organ itu bukan berasal dari tubuh praktisi Falun Gong yang diambil paksa dalam keadaan hidup? Bukankah praktisi tersebut dibunuh karena ada pesanan organ dari rumah sakit di Amerika? Kita wajib untuk menghentikan tindak kejahatan tersebut. Ini menjadi salah satu hal yang akan saya lakukan.

Reporter: Dibandingkan dengan kandidat Menlu lainnya, Apa perbedaan terbesar antara diri Anda dengan mereka?

Rohrabacher: Jika sebagai Menlu, harus melakukan perjalanan tugas ke Beijing, saya pasti akan mencari kesempatan untuk menemui para tahanan politik, praktisi Falun Gong dan mereka yang teraniaya, bukan hanya menemui para elit bisnis atau politisi demi kepentingan ekonomi semata. Atau mungkin menemui pimpinan yang menyusun dan menerapkan kebijakan yang bersifat penindasan. Bahkan mungkin para personil militer. Orang-orang ini memiliki ambisi dan aksi militer yang mengerika. Sebagai Menlu, beban dan tanggung jawab pasti lebih besar dari ini, Anda boleh yakin bahwa ketika menemui pemerintah dari rakyat yang tertindas, saya ingin menemui langsung orang-orang yang tertindas itu, dan kalau pemerintahnya tidak mengijinkan hal itu terjadi, maka saya akan menolak pergi ke negara tersebut.

Jika Ronald Reagan masih berkuasa, demokrasi Tiongkok sudah terealisir.

Reporter: Anda sudah bekerja untuk Presiden Reagan selama 7 tahun, sebagai pakar dalam menuliskan naskah pidato beliau. Pertanyaan pertama saya, apa perbedaan antara jaman sekarang dengan jaman Reagan? Kedua, Apakah ada kemungkinan pemerintahan Trump berjalan seperti pemerintahan Reagan, melakukan hal yang sama bagi rakyat Amerika?

Rohrabacher: Ketika saya bekerja untuk Reagan, musuh utama kita adalah Uni Soviet. Oleh karena itu, dalam batas tertentu kita ada kerjasama dengan pemerintah Tiongkok untuk mengalahkan kekuatan yang sedang mengancam perdamaian dunia, yaitu komunisme yang menguasai Rusia saat itu. Reagan berhasil melakukan hal itu dengan tanpa menggunakan kekuatan militer baik kita maupun mereka. Ketika pemerintahnya jatuh, komunisme di Uni Soviet runtuh, itu bukan terjadi karena serangan atau tekanan militer, tetapi melalui kerjasama di bidang politik dan ekonomi dengan multinasional, termasuk dengan mereka yang menentang kediktatoran sosialisme dan rakyat Rusia.

Di Tiongkok kita juga hampir berhasil, dengan mengandalkan gencarnya menyuarakan pentingnya demokrasi dan kebebasan, Reagan berhasil mempengaruhi Tiongkok dan rakyat Tiongkok untuk melakukan hal seperti yang dilakukan rakyat Rusia, yaitu menggulingkan partai komunis. Tampaknya keberhasilan sudah tinggal selangkah lagi, rakyat Tiongkok sudah berduyun-duyun datang ke Lapangan Tiananmen. Sayangnya, pada saat itu Reagan bukan presiden AS.

Jika pada saat terjadinya peristiwa Tiananmen Reagan masih menjabat presiden, rezim komunisme di Beijing tidak akan mengirim militer untuk melakukan penindasan terhadap rakyat yang pergi ke Lapangan Tiananmen untuk mengejar demokrasi. Mengapa ? Bukan karena Reagan mengeluarkan ancaman hendak mengirim pasukan untuk menyerang Tiongkok, tetapi ia akan berbicara lewat sambungan telepon dengan para pemimpin preman itu bahwa jika mereka membunuh para peserta gerakan demokrasi, maka seluruh perjanjian, kesepakatan perdagangan terbuka, pengalihan harta, sistem perbankan, investasi yang sedang berjalan dan lainnya akan segera dihentikan, berakhir selamanya. Kita tidak menginginkan sebuah negara yang membantai rakyatnya tumbuh menjadi besar, maka jangan berbuat seperti itu.

Tetapi, seperti yang juga Anda ketahui bahwa pada saat itu Reagan sudah bukan jadi presiden. Presiden George H.W. Bush berbeda dengan Reagan. Semua orang yang pernah bekerja untuk Reagan mengetahui hal ini. Jadi tidak pernah ada pembicaraan lewat telepon. Itulah sebabnya pemerintah Tiongkok tetap bertahan dengan kediktatoran sosialimenya. Rakyat Tiongkok dipermainkan dan ditipu oleh gerombolan koruptor, preman yang secara rakus mengantungi kekayaan negara.

Reporter: Anda menyinggung soal peristiwa Tiananmen, mengingatkan saya soal Falun Gong. Sebagaimana Anda ketahui bahwa selama kurun waktu 20 tahun terakhir ini, AS sudah mengalami beberapa kali pergantian presiden, termasuk George W. Bush dan Obama. Pemerintahan George W. Bush pernah sekali saja mengusung isu Falun Gong kepada pemimpin Tiongkok, tetapi dalam pemerintahan Obama justru belum pernah dilakukan. Saya pikir, jika Ronald Reagan masih hidup, bagaimana ia menanggapi penganiayaan Falun Gong yang sudah berlangsung hampir 20 tahun ini, dan bagaimana menurut Anda apakah pengambilan paksa organ dari tubuh hidup masih bisa terjadi?

Rohrabacher : Ketika pemerintah Uni Soviet dibubarkan dan Partai Komunis Rusia runtuh, sasaran kita sudah bukan lagi menggulingkan kekuatan yang mengancam perdamaian dunia. Partai komunis yang mengedalikan pemerintah Uni Soviet itulah yang menjadi ancaman bagi dunia. mereka kemudian menjadi penyandang dana bagi gerakan komunisme dunia dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah yang dipilih oleh rakyat, itulah ancaman yang sebenarnya. Jadi ketika itu semua sudah berakhir, saya pikir bahwa jika Reagan masih menjabat sebagai presiden, maka perhatian kita akan dialihkan menuju pemerintah Beijing. Itu bakal cuma membutuhkan waktu yang cukup pendek, karena setelah waktu yang pendek itu, melalui peristiwa Tiananmen kita memiliki peluang untuk menerapkan sistem demokrasi.

Presiden George H.W. Bush melewatkan kesempatan emas itu karena ia tidak memiliki keyakinan, ia tidak sama dengan Reagan, ia berpikir jadi presiden sudah cukup dengan masuk kantor setiap hari, bangun pagi untuk merancang dan menyelesaikan tugas yang ada pada hari itu, melakukan kompromi untuk mencapai kesepakatan agar bisa tidur nyenyak pada malam harinya. Tetapi tidak demikian dengan seorang Reagan, ia memiliki wawasan terhadap masa depan AS, masa depan dunia yang lebih baik, di sana setiap orang bisa menghormati hak-hak orang lain, kemakmuran, stabilitas, perdamaian dan demokrasi, tidak saja bagi Amerika, tetapi seluruh dunia harus seperti itu. Dan untuk realisasinya  tidak didasarkan pada usaha-usaha PBB atau lembaga kemanusiaan lainnya. Tetapi presiden AS yang mempeloporinya, melakukan dialog denga masyarakat dunia, memastikan bahwa kita bersatu padu, melalui kontak kejiwaan menggapai cita-cita tersebut.

Reporter: Jadi menurut Anda situasi bisa berlainan tergantung kepada pemerintah yang menangani. Bagaimana dengan isu penindasan Falun Gong?

Rohrabacher: Presiden Trump, jika ia memilih saya sebagai menteri luar negeri, perlu dipahami, keyakinan saya adalah bahwa kita tidak perlu melakukan intervensi yang salah dengan mengirim pasukan ke seluruh dunia, bercampur tangan urusan negara lain. Tetapi kita perlu secara aktif mendukung, setidaknya membiarkan banyak orang mengetahui bahwa kita mendorong masyarakat di negara yang memegang nilai-nilai kita untuk memulai reformasi. Kita perlu memastikan bahwa kita menyampaikan pesan ini kepada para pemimpin negara yang kurang atau tidak menghendaki demokrasi, pada kenyataannya, mereka ini adalah para gangster dan diktator.

Reporter : Apakah masih ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan ?

Rohrabacher: Hari Natal sudah hampir tiba, dan saya ingin memastikan kepada orang-orang Kristen bahwa meskipun banyak orang Amerika sekarang tidak percaya Tuhan, tetapi banyak orang Amerika masih menyimpan nilai-nilai Kristen, peduli dengan orang lain, mengatasi kebencian dengan kasih, membantu orang lain dengan kekuatan sendiri, tidak lagi melalui program besar yang dicanangkan pemerintah. Membantu orang lain secara pribadi. Orang-orang Amerika masih memiliki semangat ini. Justru semangat inilah yang menghubungkan kita dengan orang-orang di seluruh dunia yang juga memuji Tuhan baik yang Kristen maupun yang non Kristen. Melalui kesempatan ini saya ingin menyampaikan selamat Hari Natal dan Tahun baru! Mari kita memastikan bahwa Trump sekarang adalah presiden AS, mari kita bersama-sama memperjuangkan agar tahun depan menjadi tahun yang lebih baik bagi dunia. (ntdtv/Sinatra/rmat)

Share

Video Popular