Oleh: Yu Qingxin

Sepuluh tahun lalu, Castro jatuh sakit, sampai tidak menampakkan diri di ulang tahun ke-80. Kemudian beredar isu akan terjadi peralihan kekuasaan kepada adik kandungnya Raul Castro. Sehingga tidak sedikit orang mulai membuat berbagai prakiraan tentang masa pasca Castro ini, tapi kenyataannya diluar perkiraan semua orang.

Selama sepuluh tahun era pasca-Castro ini, adalah dua orang kakak beradik Castro berkuasa. Konsep pemerintahan keduanya sejalan. 19 April 2016, pada upacara penutupan Kongres ke-7 Partai Komunis Kuba, Fidel Castro mengatakan, “Pemikiran dan konsep para penganut paham komunis Kuba tetap tidak berubah, kita harus terus berjuang.”

Raul Castro pada laporan pembukaan menekankan “Selamanya tidak akan meninggalkan paham sosialis”.

Setelah tercerai berainya barisan paham komunis Eropa Timur yang dipimpin Uni Soviet, pada dasarnya paham sosialis negara telah dikucilkan arus dunia. tapi paham sosialis yang dipertahankan Castro dan model diktator partai komunis Kuba tetap eksis.

Bagaimana sebenarnya rupa paham sosialis Kuba yang dikabarkan sukses itu?

Karena informasi diblokir, Kuba tertutup berlapis-lapis cadar yang sangat tebal. Uni Soviet beserta kubu komunis Eropa Timur telah runtuh bertahun-tahun. Diantara beberapa paham sosialis yang merupakan saudara kecil dari Partai Komunis Tiongkok/PKT, hanya Kuba memberikan suatu kerisauan bagi pihak luar. Pada 2006, penulis ikut rombongan wisata ke Kuba dan menyaksikan sendiri paras paham sosialis Kuba dari jarak dekat.

Setelah Amerika Serikat mengenakan sanksi ekonomi terhadap Kuba dan memutuskan hubungan diplomatik, sebagai gantinya Kuba mendapat bantuan sebesar USD 6 milyar (80 triliun rupiah) per tahun dari bekas Uni Soviet, dan menjadi urat nadi utama bagi perekonomian Kuba.

Setelah Uni Soviet runtuh, bantuan luar negeri pada Kuba pun ikut “rontok”, ekonomi Kuba pun terperosok ke dalam jurang. Di saat tidak punya pilihan lain, Castro membuka negaranya bagi pariwisata. Kuba adalah negara kepulauan Karibia yang kaya akan sumber daya pariwisata, dengan ratusan objek wisata alam yang bisa dikembangkan. Selama satu dekade terakhir sektor pariwisata telah menjadi industri penopang perekonomian rakyat negara Kuba.

Meski demikian, kurangnya bahan kebutuhan dan kendala pasokan di Kuba luar biasa parah. Sebelum bertolak, perusahaan tour menyarankan semua peserta tour untuk membekali diri dengan cukup banyak pecahan kecil mata uang USD, dan sebanyak mungkin membawa benda-benda kecil seperti bolpen, sabun, kaos T-shirt, stocking, coklat, dan lain-lain.

Semua “oleh-oleh” itu, seolah akan menjadi barang kebutuhan yang diinginkan banyak warga Jerman Timur sebelum Tembok Berlin dirobohkan; seperti “oleh-oleh” yang harus dipersiapkan jika berwisata ke Kenya. Belum lagi pergi ke Kuba, sudah terasa betapa miskinnya Kuba, sama seperti Jerman Timur yang menganut paham sosialis puluhan tahun silam, atau setara dengan sejumlah negara miskin Afrika sekarang ini.

Di ibukota Havana, saya berjalan-jalan di sekitar hotel setelah makan malam. Pemandangan yang terlihat adalah lampu penerangan jalan yang redup, jalanan yang tidak rata dan berlubang, jalan yang gelap, tidak ada tanda ‘kehidupan’. Mengapa tidak terlihat kehidupan malam ala masyarakat Amerika Latin yang hiruk pikuk?

Negara yang kaya akan sumber daya alam dan hasil bumi, tapi tragisnya negara Sosialis Kuba tidak bisa menghidupi 11 juta warga Kuba. Ada yang menuding embargo perdagangan AS-lah penyebab Kuba menjadi melarat, tapi faktanya, negara lain seperti Kanada dan Spanyol memiliki hubungan dagang tidak kecil dengan Kuba. (internet)

Menurut pemandu wisata, membuka usaha pub atau bar tidak mendapat suplai minuman beralkohol. Di sebuah estalase toko kami melihat barang-barang yang dipajang seperti: busana, topi dan plastik enamel… sepertinya pernah melihatnya, akhirnya baru teringat, itu adalah produk yang umumnya dijumpai di toko-toko di berbagai daerah di Uni Soviet tahun 1988 silam.

Itu adalah pasokan barang dagangan di masa perekonomian Uni Soviet paling buruk sebelum runtuh, tapi 16 tahun kemudian, mereka memajangnya di sebuah estalase toko besar di ibukota Kuba. Ada yang mengatakan, itu dipajang untuk dilihat oleh para wisatawan asing, orang Kuba tidak mampu membelinya, semuanya barang impor.

Sepanjang perjalanan wisata itu, mobil dan truk yang lalu lalang di jalan adalah kendaraan yang berbentuk aneh dan sudah sangat usang. Pemandu wisata menjelaskan, sejak 1960 setelah embargo AS terhadap Kuba, selama puluhan tahun Kuba harus menggunakan mobil-mobil tua yang sudah seharusnya kadaluarsa.

Suku cadang listrik di dalam mobil sudah diganti berkali-kali, dan tidak mungkin suku cadang asli, bahkan bukan dari jenis mobil yang sama, hanya memodifikasi dan mengubah seadanya sekedar bisa dipakai.

Seorang anak Jerman dalam rombongan bermata jeli, ia mendapati di sepanjang jalan tidak ada garis marka pembatas jalan. Pemandu wisata menjelaskan, untuk membeli bahan cat garis marka jalan harus dengan mata uang asing, jadi ditiadakan.

Para wisatawan Jerman di dalam bus diam saja, sampai akhirnya ada seseorang tidak tahan lagi, dan berkata: toh di sepanjang jalan tidak ada mobil yang layak, ada atau tidak ada garis marka pembatas jalan tidak masalah, memang pantas ditiadakan!

Pemandu wisata buru-buru menambahkan: ada juga pengeluaran yang tidak bisa dihemat, seperti susu untuk balita, sebisa mungkin diberikan hingga usia 7 tahun. Tanpa adanya penjelasan ini, para wisatawan bahkan tidak tahu, bahwa anak-anak di Kuba sudah tidak pernah minum susu lagi setelah berusia 7 tahun.

Kuba sangat kekurangan bahan pangan, daging sapi dan produk susu sangat minim. Selama empat puluh tahun lebih Kuba menerapkan sistem penjatahan untuk produk makanan tambahan. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular