Mengapa Semakin Banyak Perusahaan AS Meninggalkan Pasar Tiongkok?

1448
McDonald's sedang dalam negosiasi untuk menjual asset mereka di Tiongkok. (Kevin Lee/Getty Images)

oleh Gao Shan

Banyak perusahaan Amerika Serikat untuk waktu yang cukup lama menganggap pasar Tiongkok sebagai peluang bisnis terbesar di dunia, tetapi kini mungkin sudah tidak lagi berlanjut.

Berita di CNBC menyebutkan bahwa McDonald’s pekan lalu sedang terlibat dalam negosiasi untuk menjual asset termasuk lisensi usaha mereka di Tiongkok. Sementara itu, Yum Brands juga mengambil tindakan serupa. Mereka bahkan pada bulan lalu sudah mendirikan “Yum China” yang terpisah dari perusahaan induknya.

Coca Cola pada bulan Nopember mengumumkan rencana untuk menjual pabrik pembotolan minuman mereka yang di Tiongkok. Perusahaan AS International Paper pada bulan Maret tahun ini mengatakan bahwa mereka sudah melepas usaha packaging mereka yang di Tiongkok dan Asia Tenggara.

Membuka usaha ritel bagi orang asing sulit dan mahal

Notaris Dan Harris yang bekerja di Biro Hukum Internasional ‘Harris Bricken’ dalam ‘China Law Blog’ yang ia kelola menyebutkan : “Tren yang terjadi saat ini adalah, membuka usaha ritel di Tiongkok bagi orang asing adalah sulit dan mahal.”

“Selama bertahun-tahun kami telah mencoba untuk mendesak banyak pelanggan agar tidak melakukan hal itu, tetapi seharusnya berbuat seperti McDonald’s dan Yum Brands, yaitu dengan menarik kembali modal investasi melalui penjualan merk dagang dan goodwill usaha di Tiongkok”. Harris mengatakan : “Tiongkok adalah pasar yang sangat sulit.”

McDonald mengatakan pada bulan Maret bahwa mereka sedang mencari ‘mitra yang strategis’ untuk pasar Asia. Tahun lalu, Yum Brand dengan mempertimbangkan kehati-hatian dalam menerapkan strategi usaha, telah menyatakan bahwa mereka memilih untuk menjual usaha mereka di Tiongkok.

Perusahaan makanan cepat saji sejak hampir 30 tahun lalu membuka usaha di Tiongkok, dengan meningkatnya jumlah orang kaya di Tiongkok, tampak kesempatan untuk memanfaatkan pasar konsumen Tiongkok juga semakin terbuka. Tetapi hambatan juga muncul mengekor, antara lain : Perusahaan cepat saji AS terlilit oleh masalah keamanan pangan sehingga mencemari nama. Mengalami pencurian hak intelektual, merk dagang mereka disalahgunakan.

Presiden Kamar Dagang AS – Tiongkok, Siva Yam mengatakan : “Kita melihat banyak perusahaan AS sedang meronta-ronta dalam menjalankan bisnis mereka di Tiongkok. Pasar semakin matang, tetapi kita juga melihat bahwa jumlah perusahaan AS yang berencana untuk membuka usaha di Tiongkok sedang menurun tajam bahkan mereka memilih kembali ke AS.”

Menurut laporan tahunan Kamar Dagang AS tahun lalu bahwa, 32 % dari perusahaan anggota tidak memiliki rencana untuk memperluas investasi mereka di Tiongkok. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan dengan persentase saat terjadi krisis moneter tahun 2009.

Menurut laporan survei yang diterbitkan pada bulan Januari, seperempat dari jumlah perusahaan anggota Kamar dagang AS – Tiongkok sudah memindahkan usaha atau sedang merencanakan untuk memindahkan usaha dari Tiongkok. 38 % di antaranya sudah kembali ke AS, atau memindahkan usaha ke Kanada dan Meksiko.

Perusahaan asing di Tiongkok selain harus menghadapi perusahaan lokal yang lebih unggul dalam penguasaan karakteristik bisnis setempat atau perolehan dukungan dari pemerintah,  dengan naiknya upah tenaga kerja dan biaya lahan, tantangan usaha perusahaan asing itu jadi semakin besar. Belum lagi menghadapi laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang terus melemah, keuntungan yang diraih mereka dari tahun ke tahun terus menurun dari dulunya yang 2 digit menjadi sekarang hanya tinggal 6 % lebih sedikit.

Penjualan hasil pertanian AS ke Tiongkok masih berjalan dengan baik, Terutam ekspor kedelai dan hasil tanaman lainnya. Karena itu, AS memiliki surplus dalam perdagangan hasil pertanian AS dengan Tiongkok.

Penambahan Jumlah konsumen tidak terjadi

Beberapa perusahaan AS yang sensitif terhadap komoditas seperti Caterpillar sudah menginvestasikan dananya di Tiongkok dalam jumlah besar.  Apple perusahaan yang berorientasi pada kebutuhan konsumen juga telah membuntutinya, mereka mengincar konsumen Tiongkok.

Harga mineral tembaga yang dianggap sebagai indikator dari status kesehatan industri Tiongkok, telah jatuh sebanyak 40 % dari harga puncaknya pada tahun 2011. Ini mungkin yang menyebabkan omzet penjualan perusahaan Caterpillar dalam 4 tahun terakhir terus menurun.

Sementara itu, omzet penjualan produk perusahaan Apple di Tiongkok sejak kuartal kedua tahun ini sudah menurun sebanyak 25 % dibandingan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada hal sebelumnya omzet penjualan masih tumbuh dengan 2 digit, sekarang ?

Kepala Ekonom ‘China Beige Book International’ yang secara rutin melakukan survei tentang transaksi perdagangan Tiongkok. Derek Scissors mengatakan : “Mungkin Anda sedang mengharapkan lonjakan jumlah konsumen Tiongkok.  Namun setelah Anda tunggu-tunggu ternyata harapan itu tak kunjung tiba, sejumlah perusahaan barang-barang konsumen bisa jadi tidak bisa melihat datangnya harapan tersebut.” (Sinatra/asr)