Apa yang paling ditakuti anak-anak? Mainannya hilang ? Atau makanan yang enak sudah habis ? Bukan!, Sesuatu yang paling dicemaskan dan ditakuti anak-anak berhubungan dengan orang tuanya, kalian adalah sosok yang paling penting di hati mereka. Sering-seringlah amati hal-hal yang dicemaskan mereka, kemudian jangan lagi mengulanginya, dan jangan lagi menyakiti hati mereka.

1. Ayah-ibu bertengkar

Pernah ada lembaga penelitian psikologi anak-anak melakukan survei terhadap lebih dari 3.000 anak usia sekolah, salah satu item dari survei tersebut adalah “apa yang paling kamu takuti dari ayah-ibu”, dan jawaban terbanyak adalah : “Saya paling takut ayah-ibu marah, takut mereka bertengkar”. Salah satu siswa menulisnya dengan sentuhan yang menggugah perasaan : “Saya paling takut ayah marah, sangat mengerikan melihat dia lagi marah ! sampai-sampai ibu pun menangis dibuatnya, dan membuat saya terkejut ngeri dan ciut seperti tikus, hati saya berdebar tidak karuan, sampai-sampai tidak nafsu makan lagi”.

Para oran tua beranggapan anak masih kecil, sehingga tidak masalah bagi anak-anak terkait dengan apa yang dibicarakan atau dilakukan antara mereka. Padahal, sejak awal sepasang mata anak-anak yang melihat semua itu telah merekam semua ucapan dan tingkah laku orang tuanya. Ada keluarga, dimana suami-isteri selalu bertengkar, mengucapkan kata-kata kasar, bahkan tindak kekerasan, membuat suasana keluarga kerap dalam kondisi tegang, sehingga membentuk tekanan yang besar secara psikologis pada anak-anak. Ada sebagian orang tua, perang dingin di rumah dalam jangka waktu lama, dimana anak-anak merasa hidup tertekan dalam suasana seperti ini, yang lambat laun pasti akan berdampak negatif pada kesehatan mental mereka, akan membuat anak menjadi dingin (sikap), kesepian, keras kepala, kasar, dan menjadi anak cacat secara psikologis.

Karena itu, untuk menciptakan suasana keluarga yang baik, adalah hal yang harus dicamkan setiap pasangan adalah memiliki cinta kasih.

2. Ayah-ibu marah-marah

Anak-anak kembali membuat ulah, ketika Anda sudah berulang-kali mendesaknya, tapi ia tetap bergeming. orang tua yang telah lelah sibuk sepanjang hari acapkali sulit untuk mengontrol emosinya, lalu mulai membentak anak-anak. Marah-marah pada anak memang bisa membuat anak-anak menjadi takut. Dalam ketakutan itu, perilaku atau sikap anak-anak yang menjengkelkan itu lenyap untuk sementara. Tapi bagaimana sikapnya kemudian ? Ada beberapa kemungkinan :

– Patuh mendengarkan perintah Anda, dia akan melakukan apa pun yang Anda suruh ;

– Ia terpaku diam di sana ;

– Menangis keras, tidak akan lagi melakukan hal yang Anda larang, juga tidak akan melakukan hal yang Anda suruh;

– Mencontoh sikap seperti Anda, ia juga ikut kesal (marah), membanting pot bunga yang Anda sayangi.

Anak-anak sangat sensitif terhadap perasaan-emosional seseorang. Oleh karena itu, saat orang tua marah, tentu akan memengaruhi perilaku dan suasana hati anak. Namun, anak-anak belum tahu, apa yang membuat orang tuanya marah. Artinya, ketika orang tuanya marah, dimana meskipun si anak tidak lagi memperlihatkan sikap atau melakukan hal yang tidak diinginkan, tapi mereka tidak tahu apa sebenarnya kesalahan yang mereka lakukan.

Dalam rutinitas sehari-hari, sebaiknya jangan marah-marah pada anak-anak. Jika memang tanpa sengaja menjadi marah pada mereka, sebaiknya jelaskan padanya usai melapiaskan emosi, apa masalah anak itu sebenarnya, apa yang sebaiknya dilakukan, selain itu juga biarkan si anak merasakan kasih sayang dan kepedulian Anda melalui tindakan. Jika memungkinkan, sebaiknya peringatan dulu sebelum marah.

3. Bersikap tidak adil, tidak mencurahkan kasih sayang sama kepada anak-anak

Mungkin masih hangat dalam benak Anda adegan dalam film “Gempa Tangshan”, dimana dalam gempa dahsyat tersebut, seorang bocah perempuan dan laki-laki terhimpit di bawah reruntuhan tembok, sementara sang ibu yang dilema menghadapi sebuah pilihan yang sulit karena hanya bisa menyelamatkan satu anak, akhirnya dengan pedih memilih menyelamatkan putranya. Belakangan, putrinya yang bernama Fang Deng bernasib baik akhirnya selamat dalam bencana itu, diselamatkan oleh sepasang suami isteri dari PLA (Tentara Pembebasan Rakyat) dan diadopsi. Namun, karena terlanjur sakit hati ibunya pilih kasih, lebih memilih menyelamatkan sang adik dalam bencana gempa ketika itu, sehingga sang putri yang telah banyak mengalami penderitaan di luar tidak bersedia pulang ke rumah untuk mengakui orang tuanya, dan karena sakit hati itu, selama 32 tahun ia berpisah dengan keluarganya.

Orang tua yang pilih kasih, membuat anak-anak sejak kecil tumbuh dalam temaran cahaya orang tua. Anak-anak dari sepasang orang tua yang sama, namun, perlakuan dalam hal uang saku, pakaian, perjalanan dan sebagainya tidak sama, ini akan membawa bayang-bayang dalam pertumbuhan anak-anak. Sejumlah besar studi menemukan bahwa sikap atau perlakuan orang tua yang tidak adil (pilih kasih) itu dapat menyebabkan dampak buruk pada kesehatan mental anak-anak, dapat menimbulkan masalah perilaku semasa anak-anak, remaja bahkan masa dewasa. Meskipun setelah mereka dewasa dan meninggalkan rumah selama bertahun-tahun, dan telah memiliki keluarga sendiri juga dampak itu tetap masih terasa kental. Selain itu, tidak peduli apakah anak yang diabaikan, curahan kasih sayang yang tidak sama, atau semacam perlakuan yang tidak adil lainnya, selama ia merasakan orang tua pilih kasih, dipastikan hatinya akan terluka. Anak yang diabaikan atau merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya itu akan sakit hati atau menaruh dendam/kebencian pada orang tua atau anak yang disayang, sementara anak yang disayang itu akan memicu kebencian dari sesama saudaranya.

4. Tidak menepati janji atau berbohong

Beda antara perkataan dan perbuataan, ada orang tua yang berjanji secara lisan, namun, ketika anak-anak menyelesaikan permintaan, mereka malah selalu menghindar dengan berbagai alasan. Misalnya, ada orant tua yang mengatakan : Cepat selesaikan PR, baru nonton TV setelah menyelesaikan PR, tapi begitu anak-anak menyelesaikan PR-nya, selalu menyuruh anak-anak meneruskan belajar . Ada orang tua yang berjanji akan memberikan hadiah asalkan hasil ujian mencapai beberapa ranking terdepan, tapi begitu mencapai ranking, hadiah yang dijanjikan pun tidak kunjung didapatkan. Anak-anak paling benci orang tua mereka yang dengan mudahnya berjanji tapi tidak menepatinya, tidak dapat dipercaya, dan “mempermainkan” dirinya sendiri.

Kehilangan kepercayaan sekaligus wibawa, ucapan orang tua yang tidak sesuai dengan tindakan nyata, tidak hanya kehilangan kredibilitas mereka di mata anak-anaknya, tapi juga tidak baik bagi pertumbuhan anak, bahkan memengaruhi citra diri anak itu sendiri. Ini akan membuat konsep anak yang belum terbentuk dalam hal kepercayaan itu merasa, bahwa janji atau sesuatu yang telah dijanjikan seseorang itu boleh diabaikan, sehingga anak-anak bisa dengan mudah mengembangkan kebiasaan buruk, dimana kelak setelah dewasa, kebiasaan yang tidak dapat dipercaya ini bisa membuat dirinya kehilangan banyak teman-teman dan kesempatan.

Sebagai seorang kepala keluarga yang ucapannya sesuai dengan tindakan itu seharusnya tidak boleh dengan mudahnya menjanjikan sesuatu, tidak sembarangan dalam berkomitmen ; Ketika anak-anak menuntut sesuatu, sebaiknya pertimbangkan dulu dengan matang, apakah permintaanya itu wajar, bisakah diwujudkan, jika wajar dan bisa diwujudkan, maka janji itu harus dipenuhi.(Epochtimes/Jhn/Yant)

Bersambung….

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular