Dimanakah Arah Kebangkitan Budaya Tiongkok (1)

911
Ilustrasi Shen Yun mempertunjukkan kebudayaan orthodok Tiongkok berusia 5000 tahun. (shenyun.com)

Oleh: Gao Tianyun

Pada Rabu (30/11/2016) lalu, dalam Kongres Nasional ke-10 Federasi Sastra dan Seni RRT (CFLAC) dan Kongres Nasional ke-9 Asosiasi Penulis RRT, kepala negara RRT Xi Jinping telah berbicara panjang lebar, menjelaskan pentingnya kebudayaan tradisional Tionghoa.

Xi meminta kalangan sastra dan seni Tiongkok menjunjung tinggi moralitas dan seni serta menyampaikan impiannya tentang kebangkitan agung bangsa Tionghoa. Melihat kembali sejarah lampau serta pergolakan dewasa ini, maka dapat dilihat secara jelas, dimanakah arah kebangkitan bangsa Tionghoa ini.

”Nasib budaya dan nasib negara berkaitan, denyut nadi budaya dan denyut nadi negara saling berhubungan. Budaya adalah roh sebuah negara dan bangsa. Sejarah dan realita telah menunjukkan secara jelas, suatu bangsa yang telah meninggalkan atau mengkhianati budaya dan sejarah diri sendiri, selain tidak dapat berkembang, bahkan sangat mungkin juga akan mengalami adegan demi adegan tragedi sejarah,” kata Xi Jinping.

5000 tahun kebudayaan tradisional Tionghoa, sangat cermelang dan berkembang tiada henti, menjunjung tinggi moralitas dan memiliki kepercayaan sebagai pondasinya. Akan tetapi denyut nadi jiwa bangsa tersebut telah diinjak-injak hampir terhapus oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Sejak PKT merebut kekuasaan (1949), agama Konghucu, Buddha dan Tao semua dilenyapkan (inti ajarannya), tradisional telah disangkal oleh atheisme, nilai tradisional telah digantikan budaya partai PKT, “Menghormati langit dan menerima nasib”  telah diganti dengan “bertarung melawan langit dan bumi.” Pondasi moral dan kepercayaan bangsa Tionghoa telah dihancurkan.

10 tahun “Revolusi Kebudayaan” telah menyapu bersih agama dan budaya bangsa,  tak terhitung jumlahnya peninggalan sejarah yang sangat berharga dihancurkan, banyak sekali kaum elit budaya diganyang bahkan dianiaya dengan sadis hingga tewas.

Di tengah berbagai gerakan yang terus bermunculan, hubungan saling mengasihi dan saling percaya an tara manusia telah dirusak, diganti dengan penyampaian rahasia yang tak berbelas kasih dan dan ketidakpedulian yang sangat egois. Kebajikan, kesetiakawanan, tata krama, kearifan dan keterandalan kian hilang dan menjauh.

Dalam sejarah umat manusia, tidak pernah dijumpai sebuah kekuasaan yang begitu membenci budaya bangsa sampai tega menghancurkan tradisi bangsa. Perusakan terhadap kebudayaan Tiongkok dan moral masyarakat oleh “revolusi kebudayaan” sulit dipulihkan dalam beberapa generasi mendatang.

Beberapa tahun belakangan ini, fenomena kacau bemunculan dalam masyarakat di daratan Tiongkok, semua merupakan akibat dari  kehampaan moral dan kehilangan kepercayaan. Kenyataan yang tragis ini membuktikan, jika tidak memulihkan kebudayaan Tionghoa, mengembalikan prinsip moral dan meluruskan kembali hati manusia, Tiongkok tidak akan memiliki harapan untuk maju. Itu sebabnya, sebagai prasyarat memulihkan kembali  kebudayaan Tionghoa,  harus mencampakkan PKT terlebih dahulu.

”Mewujudkan kebangkitan agung bangsa Tionghoa, diperlukan pengembangan maksimal peradaban meteri, juga diperlukan pengembangan maksimal peradaban spiritual,” kata Xi Jinping.

Sebenarnya, pada 1990-an abad lalu, masyarakat Tiongkok sudah pernah menyaksikan peningkatan dan perkembangan pesat peradaban spiritual. Pada Mei 1992, Falun Gong mulai disebarkan, bagaikan hujan diturunkan dari langit tepat pada waktunya, telah menyapu bersih kebingungan hati ratusan juta masyarakat Tiongkok, telah menciptakan keajaiban dalam hal penyehatan tubuh dan peningkatan moral yang tak terhitung jumlahnya.

Falun Gong dengan “Sejati, Baik, Sabar” sebagai penunjuk, menuntut para praktisinya bertindak mendahulukan kepentingan orang lain baru diri sendiri, menghadapi sesuatu masalah harus mengontrol diri, menjadi orang baik, menjadi orang yang lebih baik. (tys/whs/rmat)

BERSAMBUNG