JAKARTA – Pengadilan Negeri Jakarta Utara menggelar sidang perdana kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di gedung bekas Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat,  pada Selasa (13/12/2016) sekitar pukul 09.00 WIB.

Sidang Ahok dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto didampingi empat orang hakim anggota. Sidang Ahok dihadiri banyak orang terdiri belasan Jaksa Penuntut Umum,  Pengacara Ahok maupun pihak penuntut.

Ruangan sidang yang terbatas tak mampu menampung ratusan orang yang masih berada di luar pagar bekas Gedung Pengadilan Jakarta Pusat itu. Massa Anti Ahok dari berbagai pihak seperti Laskar Pembela Islam (LPI), Satuan Petugas (Sapa) Islam dan Harakah Sunniyah Untuk Masyarakat Islam (Hasumi) berdemonstrasi dan berorasi di depan Gedung untuk menuntut Ahok agar segera ditangkap.

Jaksa Penuntut Umum membacakan surat dakwaan atas kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan dua pasal alternatif pertama adalah pelanggaran terhadap pasal 156 a huruf a KUHP. Kedua aalah alternatif pada pasal 156 KUHP.

Pada dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum Ali Mukartono membacakan pidato yang disampaikan Ahok atas penyebutan Surat Al Maidah Ayat 51  di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 yang diduga berkaitan dengan dugaan penistaan agama.

Jaksa dalam dakwaannya mengatakan, perkataan terdakwa pada saat tersebut seolah-olah Al Maidah 51 telah dipergunakan oleh orang lain untuk membohongi atau membodohi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah. Padahal, kata Jaksa, terdakwa yang mendudukkan atau menempatkan surat Al Maidah 51 sebagai alat atau sarana untuk membohongi dan membodohi dalam proses pemilihan kepala daerah.

Setelah JPU membacakan surat dakwaan, Jaksa bertanya apakah Ahok mengerti pada surat dakwaan tersebut. Ahok pun menjawab bahwa dirinya mengerti atas dakwaan jaksa, namun dia tak mengerti kenapa dirinya dituduh melakukan penghinaan terhadap agama.

“Secara bahasa, saya mengerti. Tapi tuntutannya kenapa saya dituduh menghina agama,” kata Ahok dalam sidang.

Ahok selanjutnya membacakan pembelaan atas dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ditengah-tengah membacakan pembelaan, suara Ahok bergetar dan sesekali dia menyeka air mata yang mengalir di kedua pipinya sambil terisak air tangis.

Pada pembelaannya, Ahok menjelaskan apa yang dia utarakan di Kepulauan Seribu, tak dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam. Ahok juga mengaskan tak berniat untuk menghina para Ulama. Namun ucapan yang disampaikan, kata Ahok, dimaksudkan kepada para oknum politisi yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam Pilkada.

Ahok pada kesempatan itu juga meminta izin untuk membacakan salah satu Sub-judul dari buku, yang berjudul “Berlindung Dibalik ayat suci” ditulis pada tahun 2008. Menurut Ahok, Ayat itu sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit, karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” untuk memilihnya.

Saat membacakan pembelaan Ahok bercerita tentang kehidupan pribadinya yang banyak berinteraksi dengan teman-temannya yang beragama Islam, termasuk dengan keluarga angkatnya Haji Andi Baso Amier merupakan keluarga muslim yang taat asal bugis.

Menurut Ahok, uang pertama masuk kuliah S2 dirinya di Prasetya Mulya, dibayar
oleh kakak angkatnya. Oleh karena itu, Ahok mengatakan dirinyya seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, apabila tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua dan kakak angkat saya yang Islamnya sangat taat.

Sidang Ahok akan dilanjutkan pada Selasa (20/12/2016) mendatang. Sidang diagendakan untuk mendengarkan tanggapan JPU terkait nota keberataan dari terdakwa dalam kasus dugaan penistaan agama. (asr)

Massa pendukung Ahok di sekitar bekas Gedung PN Jakarta Pusat (Foto : M.Asari/Erabaru.net)
Pengamanan saat sidang Ahok berlangsung 13 Desember 2016 (Foto : M.Asari/Erabaru.net)
Lalu lintas di depan PN Jakarta Pusat 13 Desember 2016 (Foto ; M.Asari/Erabaru.net)

Share

Video Popular