Sindrom iritasi usus (Irritable bowel syndrome/IBM) dan endometriosis mengakibatkan nyeri perut, dan sudah terbukti bahwa wanita penderita endometriosis berisiko tinggi untuk menderita sindrom iritasi usus.

Sindrom iritasi usus adalah gangguan fungsional, yang berarti, sindrom iritasi usus bukanlah penyakit, sehingga gejalanya tidak memiliki penyebab yang dapat diidentifikasikan. Penderita sindrom iritasi usus tidak menunjukkan tanda klinis penyakit dan sering menunjukkan hasil tes yang normal. Sindrom iritasi usus kadang disebut sebagai kolitis spastik atau kolitis mukosa, tetapi ini adalah penamaan yang keliru, sebagai itis berarti peradangan sedangkan sindrom iritasi usus tidak menyebabkan peradangan.

Meskipun sindrom iritasi usus bukan merupakan kondisi yang kritis, namun sangat memengaruhi kualitas hidup seseorang, karena menyebabkan banyak ketidaknyamanan dan kesusahan. Gejala sindrom iritasi usus, mulai dari rasa jengkel karena tidak mampu beraktivitas, mengganggu kehidupan sosial penderita, mengganggu kemampuan untuk bekerja atau bepergian, serta mempengaruhi citra diri penderita.

Endometriosis menyebabkan nyeri pada satu dari 10 wanita selama masa reproduksi. Penelitian statistik menunjukkan perbandingan ini terjadi pada sekitar 176 juta wanita di seluruh dunia yang berusia antara 15 tahun sampai 49 tahun.

Endometriosis adalah jaringan endometrium yang melapisi bagian dalam rahim wanita, tumbuh di luar rahim. Endometriosis dapat terjadi pada ovarium, usus, atau jaringan yang melapisi pelvis. Namun sangat jarang menyebar ke luar daerah panggul.

Pada wanita penderita endometriosis, jaringan endometrium juga menjadi tebal, rusak, dan berdarah pada setiap siklus menstruasi, namun tidak mampu terlepas dari jaringan dinding rahim. Jaringan endometrium harus disingkirkan dari tubuh, namun jaringan endometrium tidak memiliki jalan keluar dari tubuh, sehingga jaringan di sekitarnya mengalami iritasi, yang akhirnya mengakibatkan terbentuknya jaringan parut dan perlekatan, di mana organ-organ saling melekat satu sama lain. Jika endometriosis terjadi di dalam ovarium, maka dapat terbentuk kista.

Hubungan antara endometriosis dan IBS

Seperti disebutkan di atas, wanita penderita endometriosis cenderung berisiko tinggi untuk menderita sindrom iritasi usus. Risiko yang ada sebelum dan setelah diagnosis endometriosis ditegakkan, menunjukkan bahwa sindrom iritasi usus tidak salah didiagnosis sebagai endometriosis.

Hubungan antara endometriosis dan sindrom iritasi usus berasal dari jaringan endometrium yang mencapai usus besar. Ketika jaringan endometrium mengalami peradangan, dapat menyebabkan masalah pada usus.

Jika gejala memburuk selama siklus menstruasi, maka kemungkinan besar disebabkan oleh endometriosis.

Tanda dan gejala sindrom iritasi usus vs endometriosis

Peneliti menyimpulkan bahwa otot-otot di usus besar penderita sindrom iritasi usus lebih mudah kontraksi dibandingkan dengan orang normal, menyebabkan berbagai gejala termasuk:

• Diare, konstipasi, atau saling bergantian
• Nyeri perut atau kram (biasanya di bagian bawah perut)
• Buang air besar lebih keras atau lebih lembek daripada normal
• Kelebihan gas

Bagaimana seseorang tahu apakah ia menderita endometriosis? Ada beberapa gejala endometriosis, tetapi nyeri panggul adalah yang paling umum. Gejala lain meliputi nyeri, nyeri setelah hubungan seksual, rasa tidak nyaman dengan gerakan usus, pendarahan yang parah selama menstruasi atau antara menstruasi, nyeri punggung bagian bawah, dan, tentu saja, ketidakmampuan untuk hamil.

Perbedaan penyebab antara sindrom iritasi usus dengan endometriosis

Masih banyak perdebatan mengenai penyebab sindrom iritasi usus. Walaupun stres tidak diragukan lagi sebagai aspek penting, sekarang peneliti percaya bahwa penyebab utama sindrom iritasi usus adalah gangguan interaksi otak dengan usus.

Peneliti mengamati bahwa penderita sindrom iritasi usus menunjukkan pola pergerakan usus yang tidak teratur akibat sensitivitas yang tidak biasa di ujung saraf pada usus. Istilah “iritasi” menunjukkan kepekaan yang meningkat, di mana rangsangan yang biasa saja seperti makan, stres, perubahan hormon, kembung, dan obat atau makanan tertentu dapat memicu respons yang berlebihan pada penderita, menyebabkan pergerakan usus menjadi tidak teratur.

Endometriosis pertama kali dijelaskan oleh dokter sekitar pergantian abad ke-19. Sejak itu, endometriosis telah banyak dipelajari. Kita tahu bahwa selama siklus menstruasi normal, seorang wanita menyingkirkan lapisan rahimnya. Darah mengalir dari rahimnya melalui lubang kecil di leher rahim. Namun, pada wanita penderita endometriosis, darah menstruasi mengalir kembali ke dalam rongga panggul melalui saluran tuba, bukannya keluar dari tubuh.

Beberapa ahli percaya ada kemungkinan darah menstruasi bocor ke dalam rongga panggul melalui jaringan parut bekas pembedahan, seperti jaringan parut bekas operasi caesar. Ada juga peneliti yang yakin bahwa salah satu penyebab endometriosis adalah sebagian kecil daerah perut berubah menjadi jaringan endometrium. Hal ini dapat terjadi karena sel di perut tumbuh dari sel embrio, yang dapat berubah bentuk dan bertindak seperti sel endometrium.

Ada empat stadium atau jenis endometriosis. Stadium satu, yang disebut sebagai stadium minimal, melibatkan lesi atau luka kecil, dan penyisipan jaringan endometrium yang dangkal pada lapisan ovarium. Tahap dua, yang disebut sebagai stadium ringan, melibatkan lesi ringan dan penyisipan jaringan endometrium yang dangkal pada lapisan ovarium dan panggul. Stadium tiga dianggap sebagai stadium sedang dan meliputi penyisipan jaringan endometrium yang dalam. Stadium empat, yang parah, melibatkan penyisipan jaringan endometrium yang dalam, serta kemungkinan adanya lesi pada saluran tuba fallopi dan perut.

Endometriosis umumnya berlangsung bertahun-tahun setelah seorang wanita mulai mengalami menstruasi. Ada serangkaian faktor risiko yang terlibat. Memahami faktor risiko dapat membantu Anda untuk menentukan apakah Anda perlu konsultasi dengan dokter Anda mengenai masalah ini. (Epochtimes/Devon Andre/Vivi)

Bersambung

Share

Video Popular