Oleh Song Yue

Di propinsi Hunan, Tiongkok ada sebutan ‘pencuri keliling’ yang diberikan kepada ibu membawa anak yang melakukan pencurian. Anak yang dituntun atau digendong itu bukan anaknya sendiri tetapi anak yang diperoleh dengan membayar uang sewa yang tarifnya adalah 50.000 Renminpi per tahun per kepala.

Anak kecil yang disewa dari Dao County, kota Yongzhou, Hunan dikhususkan untuk mencuri ponsel iPhone.

Menurut media Tiongkok bahwa ‘pencuri keliling’ sudah menjadi sebutan ikonik dari Dao County. Daerah yang memiliki penduduk tetap di bawah 1 juta jiwa tersebut telah mencatatkan +/- 10.000 orang penduduk wanitanya sebagai pelaku kriminal pencurian di kepolisian seempat.

Para wanita ini umumnya tidak melakukan pencurian di tempat asal, tetapi menyebar ke seluruh wilayah Tiongkok, terutama ke kota-kota yang ekonominya berkembang.

Seorang anak gadis berusia kira-kira 7 tahun, Qingqing namanya telah disewakan oleh orangtua kandungnya kepada si ‘pencuri keliling’ untuk melakoni pencurian. Tarif sewa yang berlaku saat ini adalah, sewa jangka panjang yaitu RMB 50.000 per orang per tahun. Jika ingin menyewa jangka pendek, RMB 100 – 200 per orang per hari.

1 kelompok pencuri biasanya terdiri dari 3 – 4 orang wanita yang ketika beroperasi akan membawa serta seorang anak. 1 orang bertugas sebagai pengamat situasi dengan 2 orang lainnya yang berusaha untuk menghalangi pandangan petugas penjualan atau kasir, dan anak kecil yang mereka bawa itu yang mencuri.

Saat diinterogasi, Qingqing diminta untuk memperagakan cara ia mencuri. Namun, dalam pandangannya, ia tidak merasa bersalah karena hanya memainkan ‘petak umpat’, sebuah  permainan yang diajarkan oleh bibi-bibi yang baru dikenal itu.

Biasanya anak-anak seperti Qingqing ini akan menjalani latihan sebelum diterjunkan ke lapangan. Oleh karena itu, mereka mampu mencuri sebuah ponsel iPhone hanya dalam waktu 3 detik. Suatu kali ketika hendak ‘memindahtangankan’ sebuah iPhone senilai RMB 8.000 yang sedang ditransaksikan dalam toko penjual, anak-anak yang terlatih ini hanya membutuhkan waktu 40 detik untuk mendapatkannya.

“Hanya mencuri ponsel iPhone”, jawab Qingqing tulus saat ditanya.

Kabarnya, ada juga anak-anak yang kurang terampil dalam melakukan pencurian kemudian dikembalikan kepada orangtua mereka. Tetapi yang terlalu terampil juga tidak dikehendaki oleh kelompok karena biasanya tarif menyewa mereka lebih mahal, jauh di atas tarif pasaran.

Warga Hunan: Kebanyakan rakyat Tiongkok yang tidak beragama dan tanpa HAM adalah akar permasalahan

Baru-baru ini, wartawan Secretchina mencoba untuk berbicara dengan Ms Chen, seorang warga Hunan melalui sambungan telepon. Menurutnya, akar permasalahan dari ini semua adalah akibat kebanyakan rakyat Tiongkok sudah tidak beragama sehingga nilai-nilai kemanusian sudah terdistorsi serius, ditambah lagi dengan tidak memiliki hak asasi manusia, sehingga untuk melindungi diri sendiri saja tidak mampu, apalagi harus melindungi anggota keluarga.

“Tidak usah heran jika seribu satu hal aneh sekarang ini muncul di Tiongkok, bahkan terhadap kejadian yang melanggar garis bawah etika. Nilai-nilai kemanusiaan sudah mengalami distorsi yang sedemikian hebatnya, rakyat tidak berkeyakinan, kehilangan hak asasi sehingga terhina. Yang pria tidak bisa berperan layaknya seorang pria, ia tidak mampu melindungi diri sendiri, apalagi harus melindungi anak bini.  Bagaimana untuk melindungi keluarga sedangkan hak asasi diri sendiri saja tidak punya. Dan rakyat adalah golongan yang terhina yang hanya bisa hidup seperti semut,” katanya.

Sulit untuk dimengerti tetapi  benar-benar terjadi. Seperti halnya dia sendiri juga melepas anak gadisnya menjadi gundik bagi yang memberinya setumpuk uang. Banyak yang melakukan hal seperti ini karena demi memperoleh uang.

“Saya kira nilai kemasyarakatan sudah terdirtosi, sudah jauh menyimpang, termasuk mereka-mereka yang telah mengalami perlakuan yang tidak adil, yang memendam kemarahan terhadap situasi saat ini, tetapi tiada tempat pelampiasan. Sehingga mereka melakukan hal-hal ekstrem. Itulah situasi yang terjadi saat ini,” tambahnya.

Revolusi Kebudayaan telah berdampak cukup dalam terhadap kehidupan di Dao County

Dalam masa Revolusi Kebudayaan, selama 2 bulan lebih (13 Agustus – 17 Oktober 1967) telah terjadi peristiwa pembantaian di Dao County terhadap warganya yang digolongkan sebagai tuan tanah, petani kaya, pribadi yang kontra revolusioner, sayap kanan dan mereka yang termasuk ‘elemen buruk’.

Peristiwa yang menghebohkan itu dengan cepat menyebar ke kota Yongzhou beserta 10 kabupaten yang berdekatan. Sehingga dalam waktu yang relatif pendek itu, 9.093 jiwa telah melayang, termasuk 7.696 jiwa yang dicabut secara paksa / dibunuh, dan 1.397 jiwa melayang karena bunuh diri.

Selain itu, 2.146 orang mengalami luka-luka berat dan ringan sampai cacat seumur hidup. Jika jumlah kematian itu dikelompokkan ke dalam kelas dengan kategori yang berlaku saat itu, maka mereka yang termasuk memenuhi ‘kelima kategori yang harus dibunuh’ itu berjumlah 3. 576 orang, yang masuk anggota keluarga mereka adalah 4.057 orang.

Petani miskin berjumlah 1.049 orang, kategori lainnya 411 orang. Di antaranya, anak-anak dibawah umur yang ikut menjadi korban pembantaian berjumlah 826 orang.

Dari warga yang dibunuh itu, paling tua berusia 78 tahun dan paling muda berusia 10 hari. Selama ‘periode berdarah’ itu juga banyak terjadi kasus pemerkosaan. Di masa itu, algojo yang membunuh 1 orang ‘musuh kaum proletariat’ akan diimbali dengan uang 2 – 3 Yuan (Renminbi) atau +/- 5 kg beras.

Beberapa ormas yang waktu itu lebih dikenal dengan nama ‘Tim Produktif’ yang kondisi ekonomi lebih baik, bahkan memberi imbalan sampai 5 Yuan kepada algojo untuk mencabut 1 nyawa orang.

Saat itu, kasus pembantaian sekeluarga juga acap terjadi, termasuk yang dialami oleh keluarga Zhou Wendong. Zhou yang setelah pensiun dari tentara lalu menjadi guru sekolah di Dao County, tiba-tiba pada tahun 1957 diklasifikasikan sebagai anggota dari sayap kanan.

Karena itu ia bersama 3 orang anggota keluarga kemudian dijebloskan ke dalam ruang bawah tanah lalu dibakar hidup-hidup. 2 orang anaknya yang masih di bawah umur, putrinya baru berusia 8 tahun dan putranya 2 tahun juga dilempar ke dalam ruang terbakar itu hingga menemui ajal.

Keluarga Zhou Wendong 5 orang semua tewas hari itu. Usai melakukan pembunuhan, para  anggota ‘Tim Produktif’ langsung menjarah habis seluruh harta milik keluarga Zhou termasuk ayam, bebek, anjing, babi peliharaan keluarga itu juga disembelih ramai-ramai untuk hidangan pesta pora malam itu. (Secretchina/Sinatra/rmat)

Share

Video Popular