EURO dan Dollar AS Bernilai Sama Mungkin Segera Terjadi

398
Pada 2014, nilai EURO banding USD adalah 1 : 1.40 tetapi sekarang tinggal 1 : 1.04. (Thomas Coex/AFP/Getty Images)

Oleh Zhang Dongguang

Pada 2014, nilai EURO banding USD adalah 1 : 1.40 tetapi sekarang tinggal 1 : 1.04. Jika  tren apresiasi pada indeks Dollar AS hampir mencapai 9 % yang muncul setelah Trump perpilih sebagai presiden terus berlangsung, maka dalam waktu yang tidak lama lagi kita dapat menjumpai bahwa  kedua mata uang itu akan bernilai sama. Hal demikian sudah  pernah terjadi pada 2002.

Mata uang Euro pada Kamis (15/12/2016) ditutup pada level USD. 1.0411, mencapai harga terendah sejak 2003.

Sejak awal tahun ini, mata uang tersebut sudah mengalami depresiasi sebesar lebih dari 4 %. Menurut survei Reuters yang dilakukan pada November, ekonom memperkirakan bahwa pada Februari tahun depan EUR 1.- = USD 1.05.

Tetapi pernyataan beberapa pejabat garis keras (hawkish) pada Rabu (14/12/2016) yang  menyebutkan bahwa the Fed tahun depan akan 3 kali menaikkan suku bunga (2 kali dalam September) membuat nilai Euro jatuh dari USD 1.05. Hasil survei Reuters menunjukkan, 10 di antara 50 orang ekonom percaya bahwa Euro bisa jatuh sampai di bawah 1 Dollar AS.

Artikel yang diterbitkan oleh media pengamatan pasar menunjukkan bahwa fenomena di atas mencerminkan adanya perbedaan kebijakan moneter antara Bank Sentral AS dengan Bank Sentral Eropa, yaitu bahwa the Fed hendak mempercepat kenaikan suku bunga tetapi Bank Sentral Eropa justru ingin terus mempertahankan kebijakan moneter yang relatif longgar.

Hal lain yang juga patut mendapat perhatian adalah masalah kembali bangkitnya kaum populisme di Eropa. Seiring dengan kemenangan para pendukung Brexit di Inggris untuk membawa Inggris keluar dari Uni Eropa pada tahun ini, partai-partai politik populisme di Jerman, Prancis, Belanda juga mulai bangkit dengan cepat.

Pemimpin partai sayap kanan Marine Le Pen kemungkinan akan menjadi presiden Prancis menggantikan Hollande. Jika ia terpilih, Prancis juga diupayakan untuk keluar dari Uni Eropa dan perkembangan situasi itu dikhawatirkan akan berdampak buruk pada situasi politik di Jerman dan Belanda.

Hal ketiga yang patut diperhatikan adalah ‘Efek Politik Trump’. Banyak pakar strategi mengkaitkan kenaikan nilai Dollar AS dengan penurunan tarif pajak, pembangunan infrastruktur dan kebijakan proteksionis yang dijanjikan oleh presiden terpilih Donald J. Trump.

Pakar percaya bahwa pemerintah baru nanti diperkirakan akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan inflasi, terutama dengan kecukupan tingkat inflasi maka the Fed bisa menaikkan suku bunga, dengan demikian, merangsang naiknya nilai mata uang Dollar AS.

Namun, beberapa pakar strategi juga memperingatkan bahwa kenaikan nilai Dollar AS yang terjadi dalam waktu pendek ini bisa jadi sudah kebablasan dengan alasan bahwa, hasil dari langkah-langkah merangsang pertumbuhan ekonomi yang dilakukan pemerintah Trump juga baru dapat dirasakan setelah 2 – 3 tahun kemudian. Padahal dalam masa itu, ‘Efek Politik Trump’ yang tercermin di pasar keuangan bisa saja jauh berbeda. (Sinatra/rmat)