Kota Universitas Freiburg Jerman yang pemandangannya indah permai, senantiasa hanya muncul di buku  panduan wisata atau informasi perkenalan perguruan tinggi, namun sekarang seringkali muncul di media seluruh Jerman dan bahkan internasional, lantaran telah terjadi kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap seorang siswi relawan pengungsi.

Sedangkan setiap kali pengungkapan kasus secara lebih mendetil membuat orang semakin terperangah, sehingga masalah politik pengungsi Merkel serta media yang “berpolitik tepat” sekali lagi telah terdorong ke dalam sorotan masyarakat. Kapal besar Uni Eropa juga terseret ke arah yang masih belum diketahui terhadap penanganan masalah pengungsi.

Siswi yang Rajin Membantu Pengungsi Dibunuh oleh Pengungsi

Korban bernama Maria Ladenburger (19) adalah siswi fakultas kedokteran, dia telah diperkosa kemudian dibunuh oleh seorang pemohon pengungsi Afghanistan.

Hal yang mengejutkan masyarakat adalah korban semasa hidupnya merupakan seorang mahasiswi yang giat membantu pengungsi. Sedangkan ayahnya adalah seorang pejabat tinggi Uni Eropa, bekerja di departemen urusan hukum dan cukup berjasa dalam sejumlah peraturan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa yang menguntungkan pengungsi.

16 Oktober lalu, jasad Maria ditemukan di tepi sungai Dreisam. Menurut bukti-bukti di TKP, polisi menduga korban sebelum meninggal telah mengalami pemerkosaan, kemudian diseret masuk kesungai lalu ditenggelamkan.

Sehari sebelumnya, Maria ikut dalam pertemuan siswa sefakultas, kemudian pada tengah malam sendirian pulang dengan mengendarai sepeda, tragedi itu terjadi disaat dalam perjalanan pulang rumah.

Sepuluh hari setelah Maria meninggal, kerabatnya memasang berita duka di harian Frankfurter Allgemeine, mengharapkan masyarakat memeringati Maria tidak menggunakan bunga, melainkan melalui sumbangan dana untuk beramal. Disebutkan sebuah perhimpunan Weitblick Freiburg dari universitas Freiburg yang membantu pengungsi serta sebuah proyek yang melalui gereja memberi sumbangan kepada pendidikan di Bangladesh.

Berhubung semasa hidupnya, Maria sering membantu pekerjaan pengungsi, maka timbul pemikiran, “Apakah korban kenal dengan sang pembunuh?”

Ayah Korban Membantu Pekerjaan Pengungsi di Uni Eropa

Dalam pengumuman berita partai Alternatif Untuk Jerman (AfD)  juga menyebutkan, ayah Maria dalam Uni Eropa menduduki jabatan penting yakni mengurusi masalah yang berhubungan dengan bidang hukum, ia juga merupakan salah satu wakil dari Komite Pusat Umat Katolik Jerman (Zentralkomitee der deutschen Katholiken).

Pada Februari lalu ia pernah berujar di Belanda, ”Kami bersepakat, negara-negara Eropa hanya melalui kerjasama dengan baik baru dapat memikul tanggung jawab kemanusiaan terhadap para pengungsi itu, dan harus menentang tuntutan dari pihak  populisme.”

Daily Express Inggris juga melaporkan kasus tersebut. Dalam 400 lebih komentar pembaca, sebagian besar berpendapat, policy Uni Eropa ikut bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan pengungsi, bahkan isi dari salah satu komentar, ”Perasaan seperti itu sungguh menakutkan, (sang ayah) juga memiliki sebagian tanggung jawab atas kematian putrinya.”

Menjaring Penjahat berdasarkan Sehelai Rambut dan Sebuah Rekaman Video

Polisi menawarkan hadiah 6.000 Euro (83,5 juta rupiah) bagi yang dapat membekuk pelaku, beberapa orang yang tidak menyebutkan namanya menambahkan hingga sebesar 35.000 Euro (487 juta rupiah). Polisi telah menyelidiki 1.000 lebih petunjuk, 1.400 orang telah dimintai keterangan.

Salah satu petunjuk yang paling penting adalah sehelai rambut yang panjangnya 18.5 Cm yang ditemukan di TKP, mula-mula polisi tidak berhasil mencocokkan DNA rambut itu dengan DNA yang tersimpan dalam gudang data polisi.

Petunjuk penting lainnya adalah sebuah rekaman dalam gerbong KA Kota Line S1, polisi menargetkan sasaran pada seorang pemuda. Pada malam hari pukul 01:57, seorang pemuda yang berambut aneh turun di stasiun KA di dekat peristiwa terjadi.

Pasca kasus itu terjadi, pemuda berambut aneh itu membuat menarik perhatian seorang polisi yang lalu menahannya. Ternyata DNA pemuda itu sama persis dengan DNA sehelai rambut yang diduga milik pelaku.

Apakah Korban Kenal Dengan Tersangka?

Menurut laporan, tersangka datang dari Afghanistan dan kini meringkuk dalam tahanan. Ia masih bungkam yang membuat banyak hal dalam kasus ini masih tidak jelas, misalnya apakah ia mengenal Maria.

Tersangka diduga sengaja menunggu di jalur sepeda pada tepi kali, juga mungkin bertindak tanpa direncanakan sebelumnya, boleh jadi hanya masalah peluang. Jika tersangka kenal dengan koban maka sangat mungkin bukan kebetulan.

Ada netizen yang menemukan di facebook nama Maria dalam grup relawan pengungsi Freiburg, maka ada kemungkinan Maria juga kenal dengan si tersangka. (tys/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular