Masyarakat Resah Kaum Wanita Tidak Berani Keluar Sendirian

Kasus tersebut membuat banyak wanita di Freiburg dan daerah sekitarnya merasa cemas, seorang wanita ketika diwawancarai harian Baden mengatakan, sekarang walau di siang hari bolong juga tidak berani keluar sendirian, apalagi pada malam hari, pasti diupayakan pergi berbarengan. Sepasang suami-istri ketika diwawancarai juga menyampaikan rasa “sangat cemas”.

Walikota Freiburg Dieter Salomon menyatakan, seharusnya tidak disama-ratakan terhadap asal kelahiran penjahat, melainkan ditanggapi sebagai perbuatan individu.

Harian Frankfurter Allgemeine juga melaporkan, pada 2015 terdapat sejuta pengungsi masuk ke Jerman, namun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah kasus pembunuhan dan perkosaan mengalami penurunan, pembunuhan terencana telah menurun 2.9%, kasus perkosaan dan sejenisnya telah turun 4.4%.

Akan tetapi menurut laporan Kementerian Dalam Negeri negara bagian Baden-Württemberg dimana kota Freiburg berada, kasus kejahatan pengungsi di jalanan pada negara bagian tersebut telah meningkat 7 kali lipat terhitung dari 2012 – 2015, bahkan masih menunjukkan kecenderungan peningkatan.

Pembaca Mengritik Merkel dan Media yang Membungkam

Harian Stuttgarter Nachrichten menerbitkan sebuah artikel dari komentator Rainer Wehaus yang dengan nada keras telah mengritik PM Angela Merkel. Minggu lalu Merkel berfoto bersama seorang anak kecil pengungsi Afghanistan di dalam Konferensi Regional Partai Persatuan Demokrat Kristen (CDU) di Heidelberg.

Wehaus menulis, ini merupakan sebuah pemandangan yang mengharukan, memperlihatkan sisi positif politik pengungsi Jerman, namun orang-orang ada perasaan begini: ini merupakan pengalihan terhadap isu sisi gelap serbuan pengungsi. Kasus pembunuhan siswi asal Freiburg termasuk sisi negatifnya.

Wehaus juga menyatakan, sebagian besar penduduk bukan melakukan apa yang disebut hasutan atau kebencian, juga bukan memusuhi orang asing, mereka hanya mengkhawatirkan situasi kondisi keamanan dan kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.

Wehaus berpendapat, telah terjadi perpecahan di masyarakat Jerman akibat policy pengungsi Merkel. Merkel dalam jangka panjang telah mengabaikan arus pengungsi yang terus mengalami peningkatan, bagi seseorang yang ingin menjadi Perdana Menteri berturut-turut selama 4 kali, seharusnya mendapatkan sesuatu hikmah dari kekeliruan tersebut.

Pada hari polisi mengumumkan identitas tersangka (03/12/2016), seluruh media arus utama telah melaporkan berita tersebut, namun TV-1 Jerman (ARD) yang menempati ranking atas, dalam siaran berita jam 8 malam sama sekali tidak menyinggung berita tersebut.

Beberapa jam kemudian, redaksi ARD baru melalui facebook menyampaikan alasan, bahwa kasus terbunuhnya Maria oleh pengungsi hanya merupakan berita “kejadian lokal”.  Tindakan ARD mendapat banyak cemoohan di media sosial.

Masalah Pengungsi Sangat Erat dengan Nasib Uni Eropa

Masalah pengungsi sangat erat hubungannya dengan arah perjalanan politik Uni Eropa, referendum pelepasan Inggris dari Uni Eropa Juni lalu, salah satu perbincangan terpenting adalah masalah pengungsi.

Jika mengikuti kehendak Uni Eropa, maka harus menerima sejumlah besar pengungsi. Jika putus hubungan dengan Uni Eropa, maka dapat memutuskan sendiri pengurangan penerimaan jumlah pengungsi. Masalah inilah yang menjadi standar pertimbangan penting penduduk Inggris saat itu, dalam penentuan sikap mendukung atau menentang Inggris lepas dari Uni Eropa.

Setelah rakyat Inggris menentukan pilihan keluar dari kapal besar Uni Eropa ini, partai sayap ekstrim kanan yang anti Euro dan Uni Eropa dari banyak negara yang tergabung dalam Uni Eropa, juga meraup suara jauh lebih besar lagi.

Pemilihan presiden Austria barusan ini juga merupakan sebuah injeksi penguat jantung bagi trend anti Uni Eropa dari sayap ekstrim kanan Eropa. Golongan ekstrim kanan Austria mengalami kekalahan dalam pemilu kali ini, namun telah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah pasca Perang Dunia ke-2, persentasi perolehan suara hampir mendekati 50%, dengan kata lain telah memenangkan hampir separoh persetujuan pemilih.

Sedangkan pada hari yang sama, referendum reformasi undang-undang Italia mengalami kegagalan, hasil tersebut walau tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan trend keluar dari Uni Eropa.

Namun yang sangat jelas adalah, rakyat Itali tidak lagi mempercayai PM Matteo Renzi dan memberi kesempatan baik untuk berkembang bagi partai Movimento 5 Stelle (Partai Gerakan 5 Bintang) yang mulai bangkit, tujuan pokok partai tersebut adalah menentang Eropa menjadi satu tubuh dan menentang policy pengungsi, pada awal tahun ini ia telah menjadi partai oposisi terbesar Italia.

Pada 2017 nanti, Jerman dan Prancis dua negara besar Uni Eropa akan mengadakan pemilu, 2018 Italia sebagai negara penting pengguna Euro juga akan melangsungkan pemilihan presiden. Masalah pengungsi, serangan teroris, ekonomi dan lain lain, hampir semua masalah merupakan faktor yang tidak menentu, hampir semua masalah dapat menjadi faktor terakhir yang mematikan.

Para ahli yang paling hebat pun juga tidak berani memastikan dimana arah jalur yang akan ditempuh Uni Eropa, hanya dapat diikuti dengan setapak demi setapak. (tys/whs/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular