Seorang ilmuwan dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) baru-baru ini mengatakan, bahwa ilmuwan pada dasarnya tidak berdaya menghadapi ancaman asteroid atau komet yang berpotensi menabrak bumi.

Akhir manusia seperti yang digambarkan dalam film sci-fi “Armageddon” benarkah akan menjadi kenyataan?

Film fiksi ini menggambarkan tentang asteroid yang akan menghancurkan bumi, dimana untuk mengatasi bencana itu, para ilmuwan menggunakan bom nuklir untuk meledakkannya agar menyimpang dari orbitnya semula, sehingga dengan demikian kehidupan di Bumi bisa terhindar dari kepunahan.

Dr. Joseph Nuth, ilmuwan dari NASA seperti dilansir CBS, Rabu 14 Desember lalu, mengatakan, ini memang khayalan. Jika benar-benar mengalami situasi seperti itu, teknologi manusia tidak akan mampu menghadapinya, setidaknya untuk saat ini, dan bumi kita dipastikan akan dihantam asteroid atau komet.

Dalam konferensi akademik yang diselenggarakan di San Francisco beberapa waktu lalu, Dr.Nuth mengatakan,  “Masalah terbesar (Bumi ditabrak benda angkasa) adalah, bahwa ketika manusia menghadapi petaka itu, ilmu pengetahuan kita pada dasarnya tidak bisa berbuat apa-apa.”

Dalam konferensi akademik tersebut, para ilmuwan membahas tentang kemungkinan tabrakan asteroid yang memusnahkan peradaban manusia. Sehubungan dengan ini, Dr. Nuth mengatakan, meskipun catatan sejarah menunjukkan bahwa kemungkinan bumi ditabrak itu sangat kecil, tapi pernah terjadi, dan tidak dapat memastikan apakah tidak akan terjadi di masa mendatang.

“Ada tingkat kehancuran dari tabrakan terkait, seperti kepunahan dinosaurus pada 50 juta -60 juta tahun silam,” pungkas Dr.Nuth.

Pada 15 Februari 2013 lalu, sebuah asteroid tanpa peringatan melesat melintasi angkasa Chelyabinsk, Rusia, dan meledak di angkasa, melukai 1.200 orang akibat gelombang kejutnya. (Video screenshot YouTube)

Dia menekankan, bahwa tabrakan tersebut tidak selalu dapat diprediksi, seperti misalnya komet yang melesat ke Jupiter pada 1996 lalu. Menurut perhitungan ketika itu, komet tersebut akan melintasi bumi, namun kenyataannya menghantam Jupiter. Sementara pada awal tahun ini, pengamatan astronomi juga mencatat sebuah asteroid atau komet menabrak Jupiter.

Pada 2014, sebuah komet menyerempet pinggiran bumi. Namun, menurut penjelasan Dr. Nuth, komet ini hanya 22 bulan sejak ditemukan hingga melintasi bumi. Dalam waktu yang demikian singkat ini, kita tidak dapat menemukan metode yang ideal untuk menghindari bencana ini.

Awal tahun ini, NASA telah membangun sistem pertahanan anti asteroid (Planetary Defense Coordination Office-PDCO), agar bisa menemukan dan memprediksi benda langit yang berpotensi mengancam bumi. Tapi NASA mengakui, bahwa lebih dari 90% risiko bahaya itu tidak dapat diprediksi secara dini, teknologi yang benar-benar dapat memantau secara dini jumlah asteroid dekat bumi yang berbahaya saat ini sangat sedikit.

Sebenarnya, tahun ini setidaknya ada tiga asteroid yang memasuki atmosfer, dan meledak. Namun, tidak ada laporan tentang prediksi awal dari observatorium astronomi di seluruh dunia, termasuk NASA.

Video surveillance menunjukkan, pada malam hari 26 September 2016 lalu, angkasa Australia digegerkan dengan ledakan meteorit atau asteroid. (Australia couriermail Video screenshot)

Malam pada 26 September lalu, di langit timur Australia tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah ledakan asteroid, terdengar suara ledakan dahsyat seiring dengan munculnya cahaya terang, kuatnya suara ledakan yang terdengar hingga radius 300 km dari kota itu hampir membuat penduduk setempat keliru mengira telah terjadi gempa bumi.

Menurut penuturan Owen Bennedick, astronom di Wappa Falls Observatory, Australia, objek yang meledak itu bukan meteorit, melainkan sebuah asteroid ukuran 3-5 meter.

Sementara itu, menurut astrofisikawan Harvard, Jonathan McDowell, besar kemungkinan objek tersebut adalah sebuah meteor, bukan komet. “Ojek yang meledak itu bukan komet, jika tidak Queensland juga sudah lenyap,” ujarnya. (Epochtimes/Ming Shu-ge/joni/rmat)

Share

Video Popular