Oleh Mu Hua

Baru-baru ini, seorang remaja pria warganegara Jerman etnis Irak berusia 12 tahun telah 2 kali berusaha untuk melakukan serangan bom tetapi tidak berhasil. Pihak kepolisian menduga bahwa remaja tersebut mungkin ada hubungan dengan organisasi teroris Islamic State/IS.

Media Jerman menyebutkan bahwa remaja pria yang lahir di Ludwigshafen, bagian dari Rheinland-Pfalz, Jerman pada 2004 tersebut memiliki dwi kewarganegaraan Jerman dan Irak.

Remaja itu telah 2 kali berusaha melakukan serangan bom. Pertama, pada November tahun ini, ia menempatkan bahan peledak di lokasi Bazar Natal Ludwigshafen. Namun tidak meledak karena kegagalan perangkat.

Kedua, kali terjadi pada 5 Desember. Ia memasukkan sejumlah paku ke dalam bahan peledak yang dimasukkan ke sebuah tas ransel yang kemudian dibawa untuk diletakkan di lokasi dekat Balai Kota. Beruntung tas yang mencurigakan itu cepat ditemukan oleh seorang pejalan kaki yang kemudian melaporkannya kepada petugas keamanan. Polisi langsung datang untuk memblokir lokasi sekeliling setelah mendapat laporan, sehingga kejadian tragis dapat dicegah lebih awal.

Kepolisian Berlin mengutip hasil laporan ahli investigasi mengatakan, paket bom kedua itu tidak akan menimbulkan ledakan kecuali hanya kebakaran.

Remaja pria itu mungkin terpengaruh oleh hasutan IS

Anggota tim investigasi memberitakan kepada media bahwa remaja pria tersebut memiliki sikap sangat radikal. Ia mungkin terpengaruh oleh hasutan organisasi teroris IS.

Menurut media ‘Focus’ bahwa remaja tersebut pada musim panas tahun ini pernah berencana untuk pergi ke Suriah, diduga untuk melakukan kontak dengan anggota IS di sana.

Menurut Radio SWR, remaja ini selalu mengontak “orang yang berada di belakangnya” melalui aplikasi komunikasi Telegram.

Saat ini, Kejaksaan Jerman menghentikan untuk sementara penyidikan terhadap kasus remaja tersebut karena pertimbangan usianya yang baru 12 tahun dan masih bebas untuk memikul tanggung jawab hukum.

Di Jerman, hanya orang yang berusia 14 tahun ke atas yang memikul tanggung jawab hukum. Namun, pengusutan untuk menemukan siapa orang yang berada di belakang itu tetap dilaksanakan. Kepolisian menyebutkan, setelah mendapat persetujuan dari kedua orangtuanya, remaja itu sementara diserahkan kepada lembaga pengawasan remaja.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di Jerman. Ada seorang yang sepaham dengan  organisasi IS kemudian hendak menciptakan gangguan keamanan di dalam wilayah Jerman. Tetapi sejauh ini belum ada pelaku yang berusia sekecil remaja tersebut.

Kira-kira sepekan lalu, petugas keamanan berhasil menangkap 2 orang pemuda pria Jerman yang masing-masing berumur 15 dan 17 tahun, mereka berniat untuk menciptakan insiden ledakan bom di Aschaffenburg. Saat petugas melakukan penggeledahan, menemukan bendera dan sejumlah materi propaganda IS tersimpan di dalam tempat tinggal mereka. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular