JAKARTA – Sebagai rangka memperingati Hari HAM Internasional setiap 10 Desember, prakitis Falun Dafa di Jakarta dan sekitarnya menggelar aksi dalam rangka menyerukan untuk segera diakhirinya penindasan dan kejahatan yang dialami oleh praktisi Falun Gong di Kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta, Sabtu (17/12/2016).

Walaupun diguyur hujan deras, para praktisi Falun Dafa tetap teguh dan gigih untuk menyuarakan kejahatan genosida yang  belum pernah terjadi dalam sejarah. Aksi digelar dengan membentangkan spanduk “Stop perampasan organ pada praktisi Falun Gong di China, Stop organ Harvesting in China.” Spanduk lainnya yang dibentang adalah tunutan agar diktator utama penindas Falun Gong yakni Jiang Zemin untuk diseret ke Pengadilan.

Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia (HFDI) Gatot Machali mengatakan sejak 17 tahun praktisi Falun Gong mengalami penindasan HAM yang keji, namun hingga saat ini kekejaman tersebut masih berlangsung. Penindasan yang dimulai 20 Juli 1999 silam yang didalangi oleh Jiang Zemin melibatkan struktur mesin PKT dikarenakan kedengkian Jiang atas Falun Gong yang berkembang sangat pesat di masyarakat.

“Puncak dari penganiayaan itu yang menjadi sorotan dunia adalah perampasan organ tubuh ilegal secara hidup-hidup untuk diperjual belikan,” kata Gatot di lokasi kegiatan.

Menurut Gatot, penindasan yang dialami praktisi Tiongkok disertai dengan berbagai fitnahan dan propoganda yang dialami oleh praktisi Falun Gong. Bahkan penangkapan yang dialami oleh praktisi Falun Gong masih terjadi hingga saat in. Propoganda yang melecehkan masih terus disebarluaskan ke berbagai negara termasuk ke pemerintah Indonesia. Tak terkita berbagai tuduhan yang dilancarkan seperti berpolitik, anti Tiongkok serta mengganggu hubungan baik antar negara dan sebagainya.

Lebih jauh Gatot menuturkan, sikap pemerintah Indonesia yang tunduk kepada intervensi Tiongkok soal Falun Gong dinilai sungguh sangat memprihatinkan. Diharapkan, pemerintah RI tak membela sang penindas serta turut melanggengkan kejahatan kemanusian dan pelanggaran HAM berat  terhadap para pengikut Falun Dafa yang masih terjadi di Tiongkok.

Oleh karena itu, sebagai rangka HAM Internasional, praktisi Falun Gong menyampaikan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui fakta yang sebenarnya dialami oleh praktisi Falun Gong. Seharusnya kejahatan pelanggaran HAM berat ini diungkapkan agar masyarakat dunia mengetahui fakta yang sebenarnya supaya penindasan segera diakhiri.

Atas sejumlah fakta-fakta, maka Himpunan Falun Dafa Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut :

1-Mendesak kepada pemerintah Tiongkok  di bawa Presiden Xi Jinping agar segera mengakhiri penganiayaan HAM genosida dan menghentikan praktek perampasan organ ilegal terhadap pengikut Falun Dafa serta merehabilitasi nama baik Falun Dafa.

2- Mendesak kepada pemerintah Tiongkok agar segera menindak tegas diktator kejahatan Jiang Zemin beserta antek-anteknya  serta menyeret  mereka ke Pengadilan untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya.

3- Meminta kepada lembaga internasional, seperti Komisi HAM PBB untuk turun tangan menyeret dan mengadili Jiang Zemin ke Mahkamah Intenasional atas kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukannya kepada praktisi Falun Dafa di Tiongkok.

4- Menyerukan kepada komunitas internasional dan masyarakat Indonesia untuk memberikan solidaritasnya atas kejahatan kemanusiaan yang sedang terjadi di Tiongkok ini, khususnya dalam kasus penganiayaan dan pengambilan organ terhadap pengikut Falun Dafa.

5- Mendesak kepada rezim Komunis Tiongkok untuk menghormati kedaulatan RI dan menarik nota diplomatik intervensinya kepada pemerintah RI serta tidak menghalangi praktisi Falun Dafa di Indonesia dalam berekspresi untuk ikut membangun negara RI.

Soal Falun Gong di Tiongkok, berdasarkan penuturan  seorang perwira purnawirawan Xin Ziling, bahwa pernah PM Wen Jiaobao bertengkar dengan Zhou Yongkang yang masih menjabat sebagai sekjen (pimpinan) Komite Politik dan Hukum PKT, berdebat atas “masalah perampasan organ secara hidup”, Wen mengutuk perbuatan itu sebagai hal yang tidak pantas dilakukan oleh manusia.

Reputasi Jiang Zemin beserta pejabat antek-anteknya penganiaya  terkenal sangat buruk di seluruh dunia, orang-orang dalam sistem pemerintahan PKT yang masih berhati nurani, tidak ada yang sudi memikul tanggung jawab atas hutang darah tersebut.

Bahkan, pada pertemuan pejabat elit Partai Komunis Tiongkok di Bei Daihe (tempat peristirahatan pejabat atau mantan pejabat elit PKT), tersiar berita kantor pusat PKT telah menyebarkan arsip dokumen rahasia kepada pejabat kota dan lembaga pemerintahan  tingkat daerah, isinya adalah apa yang disebut usulan tentang penanganan terhadap praktisi Falun Gong.

Fakta ini jelas menunjukkan, penindasan yang telah berlangsung bertahun-tahun terhadap Falun Gong ini, bagi pemerintah sekarang di Tiongkok telah merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dihindari lagi dan merupakan sebuah masalah yang cepat atau lambat harus dihadapi serta diselesaikan dengan baik. (asr)

Share

Video Popular