Kalangan Diplomatik AS Mengidap “Gejala Khawatir Trump”

Hubungan antara Trump dengan kelompok diplomatik di Amerika memang masih perlu diselaraskan lagi. Di tengah perang kampanye tahun ini, sebanyak 75 orang pensiunan pejabat diplomatik dan pejabat senior kementerian luar negeri sempat menyampaikan surat edaran terbuka pada 21 September lalu.

Surat edaran  langsung menuding Trump “sama sekali tidak pantas” menjadi presiden AS dan panglima militer.  Trump tak memahami Rusia, ISIS, dan masalah internasional lainnya, juga tidak tertarik mempelajarinya.

Para pejabat diplomatik tersebut menekankan, mereka telah mulai menjabat sejak masa Presiden Truman sampai masa Presiden Nixon, pengalaman mereka secara keseluruhan mencapai ratusan tahun. Ditulisnya surat edaran terbuka ini bagi mereka adalah suatu tindakan yang belum pernah terjadi dalam sejarah sebelumnya.

Bagi negara besar, diplomatik adalah suatu bidang yang profesional. Pada masa kerajaan Inggris, pejabat diplomatik pada dasarnya berlatar belakang keluarga diplomat, kenalan dan relasinya dibina mulai dari Eton College sampai ke Cambridge University, karena kedua sekolah itu juga merupakan tempat pendidikan para keturunan raja dan bangsawan daerah kolonial.

Memasuki masa modern, negara utama memiliki basis pendidikan pejabat diplomatik atau sejenisnya, para pejabat diplomatik generasi terdahulu diwariskan lewat pembinaan generasi demi generasi seperti ini.

Ketika As menjalin hubungan diplomatik dengan RRT, mantan Menlu Kissinger adalah tokoh paling krusial, pemikiran diplomatiknya hampir bisa menjadi konsep klasik ibarat buku teks pelajaran dalam hal hubungan diplomatik AS-RRT.

Konsep ini telah diasah selama puluhan tahun, dan dipadatkan menjadi “interaksi, pengaruh, kerjasama, dan perubahan” sebagai orientasi konkritnya. Selama masa pemerintahan Presiden Clinton, prinsip ini ditetapkan menjadi dua jalur utama, yakni hubungan ekonomi sebagai poros utama, dan masalah HAM sebagai pendukung, setelah itu konsep ini tidak pernah berubah.

Hanya saja di masa Clinton menitikberatkan “interaksi, pengaruh, dan kerjasama”, sementara “perubahan” menjadi orientasi upaya dan di masa Presiden Bush, karena perlu memperkuat kerjasama dengan Tiongkok dalam hal memberantas teroris, sehingga menitikberatkan pada kerjasama dan mencoba mempengaruhi, seperti membuka secara resmi program bantuan hukum Amerika terhadap Tiongkok di masa pemerintahan Clinton.

Pada periode pertama Presiden Obama ditekankan kerjasama, dan pada periode kedua terus mengalami gesekan atas masalah hacker RRT, peristiwa Snowden, masalah Laut Tiongkok Selatan dan lain-lain, tapi tetap tidak meninggalkan poros ini, namun pada dasarnya telah meninggalkan target orientasi “perubahan”.

Setelah Menlu yang ditunjuk Trump mulai menjabat, harus terlebih dahulu meredakan “gejala khawatir pada Trump” yang terjadi di kalangan diplomatik saat ini, dan harus mencapai kesamaan pemikiran hubungan AS dengan RRT, jika tidak akan mampu mengendalikan kendaraan yang berinersia sangat kuat ini.

Pemikiran Besar Percaturan Diplomatik RRT-AS

Setelah Trump menduduki Gedung Putih, sebenarnya tetap tidak akan bisa terlepas dari kedua garis haluan utama yakni “hubungan ekonomi sebagai poros utama, dan HAM sebagai pendukung”, hanya saja titik berat mungkin agak berbeda.

Seperti masalah HAM sebagai inti, mungkin akan berbeda dengan bidang inti pada pemerintahan Obama yang “liberalis”, seperti masalah kaum LGBT di RRT, hak wanita, hak PSK dan lain-lain. Berangkat dari sikap kaum konservatif, Trump mungkin lebih peduli terhadap kebebasan beragama, hak hukum, hak politik dan lain-lain.

Tapi jika berharap Trump akan melepaskan kepentingan utama negara AS untuk melakukan transaksi HAM, mungkin juga sangat tidak realistis. Saya berpendapat pemerintahan Trump akan menyoroti masalah HAM di Tiongkok, dengan lebih banyak pertimbangan strategi dan norma.

Tapi jika pemerintah Tiongkok cukup cerdas melihat empat kebijakan ekonomi AS yang diprakarsai oleh Trump, maka seharusnya tahu bagaimana memainkan ajang catur ini dengan benar. Keempat kebijakan tersebut adalah pengurangan pajak, membuka sumber daya Amerika untuk menarik investasi asing, industrialisasi kembali, dan pembangunan infrastruktur. Keempat kebijakan utama ini hanya dengan satu tujuan, yakni meningkatkan lapangan kerja di Amerika.

Dari keempat kebijakan ini, hanya pengurangan pajak mungkin tidak menguntungkan bagi RRT (tentu juga tidak menguntungkan bagi dunia). Tim Trump telah mengumumkan, hal pertama yang dilakukan adalah pengurangan pajak, dengan rentang hingga 25%, hal ini akan membuat seluruh Uni Eropa dan juga RRT meratap pilu.

Sedangkan ketiga kebijakan lainnya, semuanya bermanfaat bagi RRT. Seperti membuka sumber daya alam Amerika untuk menarik investasi asing, industrialisasi kembali Amerika, bagi RRT adalah berita baik.

RRT sekarang telah menjadi negara investasi kedua terbesar seluruh dunia, beberapa tahun terakhir investasi ke Amerika melonjak pesat, puluhan perusahaan RRT berbagai sektor telah masuk ke Amerika.

April tahun ini, Rhodium Group bersama dengan Komisi Nasional Hubungan AS-RRT bersama-sama merilis laporan “New Neighbor” 2016. Dalam laporan tersebut disebutkan pada tahun 2015, bisnis baru dan ekspansi RRT di AS telah melampaui USD 15 milyar, atau naik 30% dibandingkan tahun 2014.

Hingga akhir tahun 2015, afiliasi bisnis RRT di Amerika telah lebih dari 1900 perusahaan, yang tersebar pada lebih dari 80% distrik kongres, dan warga Amerika yang dipekerjakan di perusahaan afiliasi RRT tersebut mencapai 90.000 orang.

Memperluas pembangunan infrastruktur juga berita baik bagi RRT. Woolsey pernah menyebutkan bahwa dulu Amerika sempat tidak mau mendukung Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) yang diketuai oleh RRT adalah suatu kesalahan, dan berpendapat bahwa AS bisa bekerjasama dengan RRT di Asia Selatan dan Asia Tengah untuk ikut ambil bagian dalam proyek “One Belt One Road” bahkan bisa ambil bagian dalam kesepakatan dagang multilateral.

Woolsey juga menekankan, Trump adalah seorang “pembangun” (Builder), beberapa bulan mendatang RRT akan mendapati lebih banyak peluang kerjasama dengan pemerintahan baru AS di bidang pembangunan infrastruktur, keamanan sumber daya alam, dan lain-lain. Kerjasama seperti ini juga dapat mendorong reformasi ekonomi RRT dan AS, sehingga kedua negara mendapat manfaatnya.

Surat kabar “New York Times” dan CNN masih terus menyerang Trump, namun majalah “Times” telah berubah relatif netral, editor majalah tersebut Gibbs bahkan telah menulis komentarnya pada pemilihan tokoh 2016, “Siapa lagi yang bisa melanggar aturan, tidak terpaku pada kebiasaan, mengalahkan dua partai besar Amerika, dan menang dengan peluang hanya 1%?”

Jika pemerintah RRT menerima usulan dari pakar, untuk tidak gegabah pada saat seperti ini, menempatkan diri pada posisi bermusuhan dengan Trump, maka masa depan hubungan RRT-AS tidak akan pesimistis seperti yang diramalkan oleh banyak pihak. (sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular