Pada tingkat sekolah dasar adalah masa penetapan kebiasaan anak-anak, berbagai kebiasaan belajar akan tetap secara berangsur-angsur, bahkan menyertainya seumur hidup. Tentu saja, kebiasaan belajar ini juga termasuk kebiasaan yang baik dan buruk. Dan dalam tingkat tertentu, kebiasaan belajar yang baik atau buruk Anak-anak yang dimanifestasikan di tingkat sekolah dasar itu dapat menunjukkan apakah semasa pembelajarannya di masa mendatang itu merupakan siswa unggulan atau bermutu rendah.

Dari sisi belajar anak, orang tua harus mengetahui arah perkembangannya dari permulaan yang sekelumit sebagai langkah-langkah preventif. Apakah di masa depan anak itu merupakan “siswa bermutu rendah” di mata orang tua atau guru, dapat dinilai dari 5 kebiasaan berikut ini.

Suka tawar menawar dalam hal belajar di rumah

Banyak anak-anak yang suka tawar menawar dalam hal belajar dengan orang tuanya. Ketika ibu menyuruh si anak selesaikan dulu tugas sekolah-PR baru nonton TV, ia mengajukan syaratnya : Harus perpanjang satu jam nonton TV setelah menyelesaikan PR ; ibu menyuruh anak-anak untuk rajin belajar, membuat kemajuan dalam ujian, si anak lagi-lagi menimbang-nimbang syaratnya ; Kalau ada kemajuan dalam ujian, ibu harus belikan mainan dan bermain di Disneyland atau semacamnya. Contoh anak-anak yang tawar menawar dengan orang tua itu tak terhitung banyaknya alam kehidupan sehari-hari.

Tawar menawar seperti ini, mungkin akan mencapai hasil yang diinginkan dalam jangka pendek, tetapi tidak akan bertahan lama. Selain itu, anak-anak akan kehilangan dorongan dan minat untuk mengejar pengetahuan. Belajar adalah sebuah proses yang panjang, adalah sangat rapuh jika hanya memikirkan kepentingan di depan mata saat itu.

Sebenarnya, kalau direnungkan, anak-anak yang suka tawar-menawar itu, akar bencananya adalah orang tua.

Bukankah orang tua sering mengatakan kepada anak-anak :

“Kalau kamu mendapatkan nilai 100, ayah/ibu akan membelikan mainan untukmu.”

“Kalau kamu patuh dan menyelesaikan PR-mu, ayah/ibu akan membiarkan kamu nonton film kartun.”

Anda sendiri selalu tawar menawar dengan anak-anak, lantas apa mereka tidak boleh belajar dari Anda dan berbalik tawar menawar dengan Anda ? Anak-anak akan lebih peka merasakan, jika Anda itu sedang memohon pada mereka, dan mereka akan merasa punya pegangan untuk tawar menawar dengan Anda.

Ketika anak-anak tawar-menawar, orang tua harus mempertahankan posisinya. Tidak peduli seberapa ributnya anak-anak, Anda tidak boleh luluh. Jelaskan dengan sabar dan lembut alasannya kepada anak-anak, biarkan mereka tahu posisi dan prinsip Anda, perlahan-lahan, anak-anak akan mengerti dengan sendirinya.

Selaku orang tua tidak perlu takut anak-anak membuat onar dan menangis. Ketika anak-anak menangis keras karena tidak mendapatkan keinginannya, Anda bisa mencoba mengalihkan perhatian anak, biarkan ia memikirkan objek lain. Intinya, selama anak itu tidak terluka, sebisa mungkin jangan memenuhi keinginannya saat ia menangis, kalau tidak ia akan semakin menjadi-jadi, ibarat dikasih hati minta jantung.

Mungkin sebelum anak-anak melakukan sesuatu, berikan mereka dua pilihan, biarkan mereka yang memutuskannya sendiri, dan belajar untuk bertanggungjawab atas keputusan mereka sendiri. Misalnya, anak-anak ingin nonton TV dulu setelah makan malam baru mengerjakan PR, saat demikian, Anda bisa meminta anak-anak memilih nonton TV dulu selama 20 menit baru mengerjakan PR atau selesaikan PR dulu baru nonton TV selama 30 menit.

Suka nonton TV, gemar main ponsel dan komputer

Menonton TV, main (kutak-katik) ponsel dan komputer memiliki dampak buruk terhadap pertumbuhan dan belajar anak.

Pertama, ia menghambat perkembangan bahasa anak, karena menonton TV, main ponsel dan komputer itu sifatnya satu arah, sementara belajar bahasa harus diwujudkan melalui pertukaran (komunikasi)

Kedua, kecanduan pada produk elektronik, akan membuat kebiasaan anak menerima informasi tanpa pertimbangan, sehingga menjadi malas berpikir dan menelaahnya.

Ketiga, menonton TV, main komputer menghambat pengembangan imajinasi anak, karena anak berada dalam kondisi indoktrinasi secara pasif.

Terakhir, anak-anak yang banyak menonton TV tidak bisa fokus, sehingga membuat pembelajarannya di masa mendatang menjadi lebih sulit.

Orang tua sebaiknya menetapkan aturan pada anak-anak, tidak boleh menonton TV saat makan atau sedang mengerjakan pekerjaan rumah, menentukan waktu nonton televisi, orang tua harus lebih dulu bicarakan dengan anak-anak, supaya mereka tidak mengingkari aturan yang telah disepakati bersama. Ketika anak-anak meributkan hal ini, Anda bisa selesaikan menurut cara-cara seperti tersebut di atas.

Yang paling penting, orang tua harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan anak-anak, bermain permainan yang sebenarnya. Bermain kartu di dalam ruangan, menikmati kegiatan di luar ruangan, berbincang-bincang, berdebat dan berpartisipasi dalam diskusi. Belajar bersama sesuatu yang menarik, bisa berupa musik baru, kesenian baru, menari, atau olahraga. Ini semua dapat mengurangi keinginan anak terhadap produk elektronik.

Menyerah saat menemui masalah yang sulit

Ada anak-anak yang memilih menyerah begitu saja ketika menemui masalah yang sulit dan tidak bisa dipecahkan mereka, mereka hanya bisanya minta bantuan guru, teman, atau orang tua di rumah, tidak pernah berpikir bagaimana memecahkan masalah yang dihadap itu dengan kemampuan dan kecerdasan mereka.

Anak-anak yang mudah menyerah, pertama, karena dia malas untuk berpikir, kedua, karena merasa kemampuannya tidak cukup, dan menganggap dirinya tidak bisa melihat secercah harapan itu..

Ketika Anak-anak menanyakan sesuatu pada Anda, sebaiknya bedakan dulu apakah hal itu termasuk dalam lingkup yang bisa dikerjakan anak-anak atau diluar batas kemampuannya. Jika dalam lingkup yang sanggup dikerjakannya, maka selaku orang tua bisa “pura-pura bodoh”, patahkan tongkat ketergantungan anak, biarkan ia belajar menguras otak (berpikir) secara mandiri.

Pola hidup yang tidak teratur

Akibat langsung dari tidur larut malam bangun kesiangan adalah lesu dan tidak semangat pada pagi harinya, tidak bisa berkonsentrasi saat belajar di kelas, dan imbasnya prestasi pun menurun. Selain itu, gaya hidup yang tidak teratur juga dapat menyebabkan daya tahan anak melemah, tidak kondusif bagi perkembangan tinggi maupun berat badan. Tubuh merupakan modal untuk belajar. Jadi, secara tidak langsung fisik yang buruk dapat berdampak pada studi anak.

Tidak teraturnya waktu istirahat anak-anak, sebagian karena faktor orang tua. Banya orang tua di atas tahun 80-an sekarang ini terbiasa dengan kehidupan malam, sehingga anak-anak pun terseret dalam kehidupan malam dan membuat kehidupan siang-malamnya menjadi terbalik. Oleh karena itu, sebagai orang tua sebaiknya menjadi teladan yang baik.

Tidak fokus

Anak-anak tidak konsentrasi, plin-plan ketika mengerjakan pekerjaan rumah, kalau bukan pikirannya yang menerawang kemana-mana, pasti kasak-kusuk, singkatnya, tidak serius mendengarkan pelajaran di kelas.

Bisa tidaknya fokus pada satu hal, adalah faktor utama penyebab perbedaan belajar anak. siswa ekselen yang berprestasi, sebagian besar bisa fokus pada hal tertentu. Apa pun yang dilakukan, fokus adalah dasar kesuksesan, sebaliknya adalah faktor utama kegagalan.

Jadi, adalah hal yang sangat penting menumbuhkan konsentrasi anak-anak. Orang tua bisa meminta anak-anak meluangkan waktu sekitar sepuluh menit setiap hari untuk membaca dengan suara keras, dalam proses membaca itu, harus tekankan pada keakuratan dalam membaca. Ini adalah metode yang sangat efektif dalam menumbuhkan konsentrasi.

Selain itu, ketika anak-anak mengerjakan sesuatu, sebagai orang tua sebaiknya tidak mengganggu/ikut campur dengan urusan mereka, jangan membuat kebisingan, jangan memutuskan pemikiran mereka, berikan mereka ruang pribadi, jangan sampai membuyarkan konsentrasi mereka, sehingga dengan demikian dapat meningkatkan konsentrasinya. (Secretchina/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular