Dialog Seorang Bocah dengan Sebatang Pohon

596
dialog
Ilustrasi. (pixabay.com)

Orang tua dengan susah payah merawat dan membesarkan anak-anaknya, melindungi mereka dari terpaan angin dan hujan. Namun, betapa sedih dan pilunya, ketika anak-anak ingin membalas jasa orang tua, mereka sudah tiada. Mungkin cerita tentang dialog seorang bocah dengan pohon ini dapat memberikan hikmah dalam perjalanan hidup kita!

Alkisah pada dahulu kala, ada sebatang pohon yang tinggi dan besar.

Ada seorang bocah laki-laki, yang setiap hari selalu naik ke atas pohon untuk memetik buah, kemudian tidur di bawah naungan pohon yang teduh. Sang bocah suka dengan pohon itu, begitu juga dengan pohon yang senang bermain dengannya.

Singkat cerita, sang bocah pun sudah tumbuh besar, tidak lagi setiap hari bermain dengan pohon.

Suatu hari ia ke bawah pohon itu, raut wajahnya tampak terlihat sedih. Ketika pohon mengajaknya bermain, anak itu berkata : “Tidak, aku bukan anak kecil lagi, tidak boleh lagi bermain denganmu, saya ingin mainan, tapi tidak ada uang untuk membelinya.”

Mendengar itu, pohon lalu berkata : “Sayang sekali, saya juga tidak punya uang, tapi, kamu bisa ambil semua buah saya ini dan menjualnya, bukankah dengan begitu kamu sudah punya uang.”

Anak itu begitu gembira mendengarnya, kemudian ia pun memetik semua buah itu, lalu pergi dengan gembira.

Belakangan, anak itu sudah lama tidak datang lagi, sang pohon tampak begitu sedih.

Suatu hari, anak itu akhirnya datang, sang pohon sangat gembira dan mengajaknya bermain.

Anak itu berkata : “Tidak, saya tidak ada waktu, saya harus kerja untuk keluarga, kami perlu rumah, apa kamu bisa bantu ?”

“Saya tidak punya rumah,” jawan sang pohon, “Tapi kamu bisa tebang semua dahan pohon saya untuk membangun rumah.”

Kemudian, anak itu memotong semua dahan pohon, dan dengan gembira meninggalkan pohon itu membangun rumahnya. Melihat anak itu begitu gembira, pohon pun tampak senang.

Sejak itu, anak itu tidak datang lagi.

Sang pohon kembali dilanda kesepian dan kesedihan.

Suatu hari di musim panas, anak itu kembali lagi dan pohon itu pun tampak senang : “Ayo nak, bermainlah dengan saya.”

Tapi anak itu berkata : “Saya lagi sedih, semakin tua dari hari ke hari, saya mau berlayar, santai sejenak, apa kamu bisa memberi saya sebuah kapal ?”

Pohon berkata : “Ambilah batang pohon saya, untuk membuat kapal!” Kemudian anak itu menebang batang pohonnya, lalu membuat sebuah kapal, kemudian pergi berlayar, dan untuk waktu yang lama, anak itu tidak kembali lagi.

Sang pohon tampak sangat gembira….tapi bukan benar-benar gembira.

Bertahun-tahun telah berlalu, akhirnya anak itu kembali, pohon berkata : “Maaf, nak, saya tidak punya apa-apa lagi untuk kamu, buah saya juga tidak ada lagi.”

Anak itu berkata : “Gigi saya juga sudah tanggal, tidak bisa makan buah lagi.”

Lalu pohon berkata : “Saya tidak punya batang pohon lagi yang bisa kamu gunakan untuk memanjat.”

Anak itu berkata : “Saya sudah terlalu tua, tidak mampu memanjat lagi.”

“saya tidak punya apa-apa lagi….., hanya tersisa akar tua yang sekarat,” kata pohon dengan air mata berlinang.

Anak itu berkata : Sekian tahun telah berlalu, sekarang saya merasa lelah, tidak punya keinginan apa-apa lagi, hanya ingin sebuah tempat istirahat.”

“Baiklah! Akar pohon tua ini adalah tempat yang paling cocok untuk duduk istirahat, ayo nak, duduk dan istirahatlah bersamaku!” Anak itu pun duduk di akar pohon tua itu, sang pohon tampak begitu gembira sambil meneteskan air mata.

Inilah cerita kita. Pohon itu adalah orang tua kita.

Saat kanak-kanak, kita suka bermain dengan ayah-ibu. Setelah tumbuh dewasa, kita lalu meninggalkan mereka, dan hanya pada saat membutuhkan sesuatu atau menemui masalah sulit, kita baru kembali ke sisi mereka.

Bagaimanapun juga, orang tua kita akan selalu ada di sana selamanya, mencurahkan segalanya agar kita bahagia. Mungkin Anda berpikir bocah itu sangat kejam pada pohon itu. Tapi, inilah cara kita dalam memperlakukan orang tua kita.

Hidup memang begitu, sebelum terlambat dan menyesal, diharap kepada teman-teman hargailah (waktu) kebersamaan dengan orang tua kita! (NTDTV/Jhn/Yant)