“Tabungan” yang Ditinggalkan Ibu yang Telah Tiada Ternyata..!

597
ibu
Ilustrasi. (Internet)

Semasa hidup ibu, ada sebuah laci yang selalu terkunci rapat, sementara kuncinya disimpan di saku bajunya, tidak seorangpun yang tahu “pusaka” apa sebenarnya yang tersimpan di dalam laci itu.

Setelah kepergiannya, ada sebuah laci meja yang selalu terkunci. Kami semua tercengang : Tidak ada sepeserpun di dalam laci, tidak ada perhiasan, atau barang-barang berharga lainnya, hanya ada sebuah buku catatan, tiga halaman pertama dengan rapi mencatat secara detail tanggal lahir lengkap dengan jam kelahiran masing-masing anak cucunya.

“Buku” dari ibu, adalah ibu dari semua warisan!

Itulah “tabungan” ibu semasa hidup, kekayaan terbesar dalam sepanjang hidupnya adalah anak-anak. Ibu mencurahkan segenap pikiran dan tenaganya untuk mendidik anak-anak, sepenuh hati mengajarkan anak-anak bagaimana berperilaku dan bertindak di lingkungan masyarakat, supaya kami tahu berbagi, tanggung jawab dan optimisme adalah kekayaan terbesar dalam perjalanan hidup seseorang.

Kami memiliki enam bersaudara laki-laki dan perempuan dalam keluarga, saya sendiri anak kelima. Masih terngiang dalam benak saya semasa kanak-kanak, dimana setiap membeli es loli, ibu hanya membeli 6 batang, tidak pernah membeli untuk dirinya sendiri, tapi dia selalu berkata : “Sini ibu cicipi sesuap.” Saya selalu berbaris di belakang, mudah-mudahan ibu hanya mengigitnya sesuap kecil, lebih bagus lagi sesuapun tidak dimakannya. Namun, ibu selalu melahapnya, sedih rasanya, tapi lama kelamaan jadi terbiasa, sesuatu (makanan) yang enak selalu saya berikan dulu pada ibu. Ketika ibu tidak ada di rumah, saya pasti akan bertanya : “Mana Ibu ?” makanan ini seakan-akan tidak begitu enak lagi kalau belum dicicipi ibu.

Sebelum kepergian ibu ‘tuk selamanya, dua makanan yang paling ibu inginkan adalah, juice kacang dan kesemek. Saya berusaha mencari makanan itu sampai ketemu, hingga akhirnya saya dapatkan, dan bergegas ke rumah sakit. Ibu dengan rasa syukur mengatakan : “Enak sekali!” Tapi saat itu belum ada kesemek. Kakak saya terpaksa membeli dua buah jeruk, ibu mencicipinya sambil berkata : “Akhir-akhir ini, rasa buah kesemek sudah tidak seperti dulu lagi.”

Pada suatu pagi, saya membeli 6 buah kesemek segar, lalu bergegas ke rumah sakit, dan langsung menemui ibu sambil berkata : “Bu, buah kesemek !kesemek asli!” Ibu makan dua buah sambil mengangguk-anggukan kepala : “Ini baru rasa kesemek!” Saat itu, tanpa terasa air mata saya pun berlinang. Tiga hari kemudian, ibu pergi ‘tuk slamanya dalam kedamaian. Tapi saya tidak menyesal, akhirnya ia bisa menikmati makanan yang paling disukainya semasa kanak-kanaknya dulu.

Seumur hidup ibu telah membesarkan enam orang anak, mengasuh beberapa cucu, dan semua yang pernah diasuhnya itu masing-masing tahu untuk berbagi. Berbagi telah menjadi tradisi keluarga kami. Saya juga mewariskannya kepada putra saya sejak masih kanak-kanak. Tidak peduli apa pun yang dimakan, putra saya selalu tak lupa memikirkan saya.

Kini ibu telah pergi dalam kedamaian untuk selamanya. Meskipun  tidak meninggalkan sepeserpun warisan untuk anak cucu, tapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih penting dan berharga daripada uang, mengajarkan kami bagaimana berperilaku, bagaimana untuk bertahan hidup, dan membuat kami tahu : kebahagiaan itu dimulai dengan berbagi. (NTDTV/Jhn/Yant)