JAKARTA – Belum lama ini terbongkar praktek adanya benih cabe berbakteri Erwina Chrysanthem OPTK A1 golongan 1 di Jawa Barat. Parahnya, cabe mengandung bakteri ini berpotensi menimbulkan kerugian tanaman palawija hingg Rp 45 Triliun. Rincinya bakteri ini  akan menyebabkan gagal produksi hingga 70 persen terhadap produksi petani cabe di Indonesia.

Benih cabe mengandung bakteri yang dibawa dari Tiongkok ini menimbulkan kegaduhan. Berbagai komentar datang dari berbagai kalangan. Saling melempar persoalan terjadi, Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Ronny F Sompie tak mau institusinnya dituduh sebagai biang kerok lolosnya benih cabe berbakteri ini.

Pihak imigrasi justru menunjuk kepada Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati atas wewenang yang dimiliki lembaga itu. Apalagi pada kasus ini berkaitan soal bibi tanaman yang lolos masuk ke Indonesia. Ditjen Imigrasi meminta tak perlu melempar kesalahan dan lembaganya menyatakan siap bersama-sama untuk menegakkan hukum.

Sementara Pakar Hukum, Yusril Ihza Mahendra menilai kasus penanaman cabe oleh WN Tiongkok di wilayah Indonesia sudah masuk dalam kategori wilayah subversif.  Yusril dalam akun twitternya menambahkan bahwa pada kasus ini bukan lagi kewenangan imigrasi dan karantina, bahkan sudah saatnya polisi untuk turun tangan.

Yusril bertanya-tanya tentang warga Tiongkok yang secara diam-diam menanam cabe dan bibit tanaman lain di suatu tempat. Lantas kemudian setelah diteliti, bibit cabe tersebut mengandung bakteri membahayakan.

“Membahayakan tanaman sejenis, jelas bukan kegiatan petani biasa. Polisi patut menduga ini adalah kegiatan sengaja yang terencana dengan rapi,” kata Yusril, Sabtu (10/12/2016).

Mantan Menteri Hukum dan HAM ini menuturkan, jika dipandang dalam bahasa politik,  maka kegiatan yang dilakukan para warga negara asal Tiongkok ini bisa digolongkan sebagai sebuah infiltrasi atau subversi untuk meruntuhkan ekonomi suatu negara. Yusril mengibaratkan, jikalau cabai, bawang dan aneka sayuran di Indonesia musnah karena bakteri yang belum ada penangkalnya, maka negara pasti akan melakukan impor atas bahan-bahan tersebut.

Yusril kemudian mengajak berpikir tentang asal impor benih cabe tersebut. Menurut Yusril, tentu dari negara yang melakukan infiltrasi dan subversi untuk melemahkan ekonomi negara Indonesia. Ini dikarenakan akan membuat petani dalam negeri jadi miskin dan tak berdaya, sementara makin banyak bahan-bahan kebutuhan yang harus diimpor.

Pada kasus bibit cabe berbakteri ini, Yusril berharap tak dipandang remeh oleh negara. Dia berrharap kegiatan infiltirasi dan subversif dari negara lain harus ditangkal. Pada kasus ini aparat pemerintah harus mengutamakan keselamatan negara.

“Saya minta polisi menyelidiki masalah ini. BIN juga harus mencari tahu apa maksud di balik WN China yang menanam cabe berbahaya itu,” tulis Yusril.

Sedangkan anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Hanura, Fauzi H Amro kepada sejumlah wartawan menilai kasus beredarnya cabai ilegal yang mengandung bakteri berbahaya dari Tiongkok dianggap memperkuat sinyalamen banyak pihak, kalau Tiongkok ternyata mempunyai agenda yang terselubung.

Menurut dia, kejadian ini tidak baik bagi masa depan Indonesia baik dari sisi moral generasi bangsa  yang jadi korban narkoba maupun yang sifatnya mengancam keberlanjutan pertanian Indonesia. Oleh  karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk waspada dan lebih serius, sehingga tak terjadi kekacauan di  kemudian hari di Indonesia.

“Kami dari Komisi IV DPR mendesak Kementerian Pertanian dan badan terkait segera melakukan investigasi dan penilitian di daerah lainnya, tak hanya bogor,” katanya. (asr)

Share

Video Popular