Oleh: Chen Pokong

Peran RRT yang Sesungguhnya dalam Paham Terorisme dan Anti-Teror

Mengalah pada AS dalam hal perdagangan dan masalah lain untuk memastikan kebijakan “Satu Tiongkok” AS tetap dipertahankan.

Sebenarnya, yang dimaksud dengan mengalah disini bukan dengan arti mengalah yang sebenarnya, melainkan menghentikan, yakni menghentikan merugikan kepentingan AS.

Contohnya, menghentikan kesengajaan membuat perdagangan AS-RRT menjadi defisit, menghentikan pembajakan dalam skala besar atas harta intelektual dan hak cipta AS, dan menghentikan tindakan manipulatif yang melanggar peraturan WTO.

Harapan AS terhadap Beijing sebenarnya hanya ingin Beijing kembali ke jalan yang benar. Seharusnya menurut aturan, hal ini tidak sulit dilakukan. Akan tetapi, pemerintah Partai Komunis Tiongkok/PKT yang menempatkan stabilitas rezim dan kepentingannya di posisi nomor satu, sepertinya tidak berniat melakukannya.

PKT khawatir, jika mentaati peraturan internasional, menghentikan subsidi pada BUMN, kehilangan surplus dagang RRT-AS dalam jumlah besar (bagi AS, itu adalah defisit dagang), maka RRT akan kehilangan penopang yang bisa mendorong pertumbuhan perekonomian Tiongkok, dan pertumbuhan ekonomi sudah sejak dulu menjadi satu-satunya pilar “legalitas” rezim PKT.

BUMN yang dikendalikan oleh kaum penguasa PKT telah menjadi urat nadi perekonomian bagi PKT, yang menyangkut biaya stabilitas dan anggaran belanja militer yang begitu besar. Jika semua variable disatukan, yang diperhitungkan oleh Zhongnanhai adalah, apakah terdapat risiko kehilangan rezim ini? Terutama saat ini ekonomi Tiongkok sedang mengalami tren penurunan drastis.

Surat kabar “Global Times” penyambung lidah PKT yang mewakili kaum garis keras dan radikal memuat artikel editorial dan komentar yang secara terbuka menjabarkan, begitu Trump mengubah kebijakan “Satu Tiongkok”, maka PKT mungkin akan menempuh cara balas dendam, yakni dengan opsi lain di luar mentaati peraturan internasional :

Pertama, menambah jumlah senjata nuklir taktis sebagai “gada pembunuh”, memperbesar ancaman nuklir terhadap Taiwan dan negara sekitarnya. Dengan demikian, PKT akan melanggar kesepakatan internasional “Nuclear Non-Proliferation Treaty” yang telah ditandatanganinya sendiri, yang menentukan bahwa: (hingga tahun 1967) negara yang telah memiliki, tidak boleh lagi mengembangkan senjata nuklir, serta tidak boleh memperluas senjata nuklir terhadap negara yang tidak memiliki nuklir; (hingga 1967) negara yang tidak memiliki nuklir, tidak boleh mengembangkan senjata nuklir.

Tentu saja PKT mungkin akan meniru cara Korea Utara, mengumumkan mundur dari pakta “Nuclear Non-Proliferation Treaty”, lalu mulai bersikap arogan lagi ibarat preman. Faktanya, PKT telah menyebarkan senjata nuklir pada Pakistan maupun Korut, dan terus membantu Korut mengembangkan senjata nuklirnya, sejak awal PKT telah melanggar pakta tersebut. Terus melanggarnya bagi PKT yang bermuka tebal dan berhati sesat, hanya masalah kutu di kepala saja, semakin banyak kutu semakin tidak gatal.

Namun Beijing harus memahami satu hal, bicara soal senjata nuklir strategis, yang memiliki keunggulan mutlak bukanlah PKT, melainkan Amerika. Jika PKT berniat terus mengejar ketinggalan dalam hal ini melampaui AS, sangat mungkin akan menapak jejak Uni Soviet dulu, yakni bangkrut dan runtuh akibat persaingan persenjataan, kalah tanpa berperang. Terutama dengan kondisi perekonomian RRT yang terus merosot tajam seperti sekarang ini.

Kedua, mendukung musuh AS, “mendukung mereka secara terbuka atau secara diam-diam memasok senjata pada mereka”.

Yang dimaksud dengan musuh Amerika, tak lain adalah organisasi teroris internasional seperti ISIS, Al Qaeda, Taliban dan lain-lain atau seperti Korea Utara, Iran, dan negara premanisme lainnya.

Penasihat keamanan nasional yang diajukan oleh Trump adalah Michael Flynn yang baru-baru ini mengatakan, “RRT dan Korut adalah sekutu organisasi teroris internasional.”

Mendengar pernyataan ini penulis merasa lega: kata-kata yang benar seperti ini, akhirnya ada juga politikus Amerika yang berani menyuarakannya!

Ternyata sejak belasan tahun silam, tesis kelulusan gelar magister di Columbia University, ini adalah topik yang diambil penulis dengan judul “Peran RRT Sesungguhnya Dalam Paham Terorisme dan Anti-Teror”.

Dalam tesis itu penulis memaparkan di balik Al Qaeda, Taliban, Iran, dan Korea Utara, selalu ada bayang-bayang PKT. RRT berperan sebagai perantara dua sisi diam-diam membantu paham teroris internasional. Tujuannya adalah mengikat paham teroris internasional dan melemahkan Amerika, sehingga eksistensi dan perluasan rezim komunis Beijing tetap bertahan.

Meskipun Flynn juga mengungkit Rusia, Kuba, dan Venezuela juga berhubungan dengan paham terorisme, tapi penulis yakin, kubu Trump sangat paham, (komunis) RRT adalah pendukung terorisme internasional yang paling berkompeten, dalam perang melawan terorisme internasional, PKT adalah musuh paling licik dan berbahaya di peradaban ini yang tidak memperlihatkan wajah aslinya.

Dengan kata lain, selama ini PKT terus mendukung paham terorisme internasional, berikut negara premanis seperti Korea Utara, Iran, dan Sudan. Apa yang diungkap oleh surat kabar “Global Times”, hanyalah soal perubahan dari diam-diam menjadi terang-terangan, memperlihatkan wujud aslinya saja.

Jika di masa mendatang PKT secara terang-terangan mendukung “para musuh AS” lebih lanjut, pasti akan dicemooh seluruh dunia, dan bahkan akan terjadi AS akan membuat perhitungan dengan RRT dan perang dapat meletus. Apalagi, jika PKT bisa terang-terangan mendukung ISIS, apakah Amerika tidak bisa mendukung suku Uyghur di provinsi Xinjiang?

Ketiga, semakin keras menekan Taiwan. Seperti merongrong hubungan diplomatik Taiwan, terus menekan memperkecil ruang diplomatik Taiwan; ancaman militer, memperbanyak jumlah rudal yang diarahkan ke Taiwan, memperbanyak latihan peluncuran rudal terhadap Taiwan, atau jet tempur terbang di wilayah udara Taiwan, atau kapal perang berlayar di sekitar perairan Taiwan.

Dengan demikian Beijing hanya akan memaksa Taiwan berdiri di pihak yang berlawanan. Sebenarnya dengan PKT terus menekan, Taiwan telah merasa terbiasa. Semakin Beijing meningkatkan intensitas tekanannya, tentu Taiwan juga akan menderita, tapi PKT sendiri juga harus menghabiskan biaya besar, hanya buang-buang uang saja.

Beijing gembar gembor mutlak memiliki “hak kedaulatan” atas situasi di selat Taiwan, namun faktanya hanya berani menindas Taiwan tapi tidak berani menyinggung Amerika. Di atas kertas PKT melontarkan pernyataan keras, yang hanya sebatas menghibur diri, menenangkan diri, dan memberanikan diri semata.

Trump meragukan “Satu Tiongkok”, tidak akan menimbulkan ancaman bagi dunia, justru sebaliknya akan mendapat sambutan dari berbagai negara, tapi tanggapan Beijing yang kasar, pasti akan memuakkan bagi negara lain, bahkan akan menuai kebencian dan permusuhan. Seperti Rusia, sangat tidak senang melihat kekuatan nuklir negara tetangganya ini terus meningkat.

Dengan berpondasi pada kebijakan Obama untuk mengepung (komunis) RRT, selain Jepang India, Vietnam, Singapura, Australia dan banyak negara Asia Pasifik lainnya, begitu Trump menjabat, pasti akan bersekutu dengan Rusia, untuk terus memperkuat dan mengeratkan kepungan terhadap (komunis) RRT. (sud/whs/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular