Oleh Li Zixi

Sebelum suatu jenis obat baru beredar di pasar, tentunya harus terlebih dahulu melalui suatu uji klinik dan non klinik yang ketat demi keamanan penggunanya yang menjadi tanggung jawab dari badan pengawas obat dan makanan suatu negara.

Namun, baru-baru ini ditemukan lebih dari 80 % obat baru yang mengajukan pendaftaran ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Tiongkok tidak memenuhi syarat. Dalam proses obat baru memasuki pasar, konspirasi demi kekayaan paling banyak digunakan.

Menurut laporan yang diterbitkan BPOM Tiongkok melalui situsnya pada Maret tahun ini, diketahui bahwa sejak Juli tahun lalu, ada 73 % dari keseluruhan, atau 1184 permohonan pendaftaran obat baru telah mendapat penolakan dari BPOM Tiongkok karena tidak memenuhi syarat uji klinis obat.

Jika memasukkan 165 permohonan untuk dibebaskan uji klinis terhadap obat mereka, maka permohonan yang ditolak BPOM Tiongkok itu bisa mencapai 81 % dari total permohonan yang diajukan.

Sebagaimana diketahui bahwa industri farmasi Tiongkok umumnya akan bekerjasama atau menugaskan balai pengujian obat yang berafiliasi dengan rumah sakit untuk melaksanakan uji klinik obat baru. Namun, untuk menghemat biaya dan tenaga kerja, pihak rumah sakit lalu merekrut sebuah perusahaan pengujian obat-obatan sebagai mediator yang kemudian akan mencarikan orang yang bersedia menjalani pemeriksaan badan dan tes obat baru dengan imbalan Renminbi dari 1.000 – 10.000,-

Situs ‘bjnews.com’ menemukan bahwa dalam proses obat baru masuk ke pasar, termasuk perusahaan farmasi, lembaga uji klinis dan rumah sakit terhubung oleh sebuah rantai kepentingan yang mengabaikan etika kesehatan masyarakat.

Sumber yang dekat dengan perusahaan farmasi mengungkapkan, rumah sakit bisa memperoleh beberapa keuntungan dari menerima orderan uji klinik industri farmasi, antara lain, biaya yang mencapai jutaan Renminbi serta publikasi makalah penelitian obat oleh dokternya yang akan mengharumkan nama rumah sakit bersangkutan.

Sedangkan terhadap perusahaan pengujian obat-obatan yang menjadi mediator, mereka bisa mengajukan biaya rekrutmen kepada rumah sakit lalu mendapat keuntungan dari  menekan biaya yang dibayarkan kepada ‘pelanggan’ mereka yang sudah biasa menerima uji klinik obat baru.

Seorang ‘pelanggan’ menerima tes uji obat baru bernama He Jinhu (nama samaran) menceritakan, demi 10.000 Renminbi imbalan dari tes obat baru, pada 2010 ia telah menerima injeksi obat anti kanker di perut bagian bawah. Tetapi saat jarum suntiknya dicabut, perut bagian bawah saya sakit seperti sedang ditusuk-tusuk oleh puluhan jarum, dan tak lama kemudian sakitnya menjalar sampai ke seluruh tubuh.

Setelah itu, muncul reaksi obat yang cukup kuat berupa rasa haus, jantung berdebar-debar, kepala sakit yang membuatnya perlu mendapat penyalamatan di ruang gawat darurat.

“Saya saja (yang badannya sehat) merasakan derita, bagaimana obat itu bisa menyelamatkan pasien?” kata He Jinhu.

Dengan beremosi He Jinhu kemudian menambahkan, “Saya sudah kapok jadi pasien penerima tes obat baru’.

Seorang lagi pasien wanita pada 2014 saat menjalani tes obat baru di rumah sakit ia tidak tahu kalau dirinya sedang hamil. Tetapi setelah mendapat suntikan obat baru yang sedang diuji klinis itu, pihak rumah sakit membujuknya agar segera menggugurkan kandungan.

Sebagaimana diketahui bahwa para penerima tes obat baru itu terlebih dahulu perlu  menandatangani ‘Surat Persetujuan’ yang isinya mencakup selain hubungan antara tanggung jawab dan hak-hak, juga soal resiko yang ditimbulkan akibat dari obat yang diujicobakan.

Tetapi umumnya para penerima uji obat baru ini menganggap perjanjian itu tidak bermanfaat. Seorang penerima uji obat baru yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan, “Percuma saja, Anda hanya bisa mengikuti apa yang dokter rumah sakit uji klinik mau, bukan permintaan Anda”.

Ia lalu menambahkan, “Dokter dan perusahaan mediator itu lebih senang dengan pasien uji klinik yang tidak banyak bicara”.

Statistik menunjukkan, pada 2011 ada 800 lebih jenis obat baru yang telah diujicobakan kepada sekitar 500 ribu manusia. Maka dari itu, sekarang dapat kita temukan melalui mesin pencari di media sosial QQ Tiongkok berbagai komentar dari ratusan individu penerima tes obat-obatan baru.

Namun ada pula pengguna QQ yang menyatakan frustasi lalu menuliskan komentar seperti, “Sekarang di Daratan Tiongkok, rumah sakit dan universitas sudah menjadi tempat-tempat yang paling gelap.”

Ada netizen yang menulis, “Inilah komunitas yang tidak diperkuat iman. Apapun bisa dipalsukan untuk membohongi orang.”

Komentar lain menyebutkan, “Obat-obatan Tiongkok sudah tidak dapat diandalkan, tetapi obat -obatan dari luar negeri dilarang masuk, yang mati akhirnya adalah rakyat miskin.” (Secretchina/Sinatra/rmat)

Share

Video Popular