JAKARTA – Berdasarkan data Global Youth Tobacco Survey {GYTS} 2014, ada 20,3% remaja usia 13-15 tahun di Indonesia yang merokok. Selama 10 tahun terakhir, perokok pemula remaja usia 10-14 tahun naik 2 kali lipat dari 9,5% pada 2001 menjadi 18% pada 2013 (Riskesdas 2013). Oleh karena itu, Yayasan Lentera Anak mendorong penyelamatan anak-anak dan perempuan Indonesia dari dampak rokok sebagai rangka menyambut Hari Ibu 2016.

Ketua Lentera Anak, Lisda Sundari mengatakan anak-anak adalah investasi terbesar sebuah bangsa bahkan kualitas suatu bangsa sangat ditentukan kualitas generasi mudanya. Menurut dia, bangsa akan besar jika ditopang generasi muda yang sehat dan cerdas, sebaliknya bangsa akan runtuh bila didominasi penduduk muda yang sakit-sakitan dan bodoh.

“Sehingga, menjadi PR kita bersama menyelamatkan masa depan bangsa ini dengan menyiapkan generasi muda yang sehat dan berkualitas,” ujar Lisda dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Menurut Lisda, meski demikian persoalan kesehatan anak belum menjadi concern semua pihak. Padahal anak-anak di Indonesia sudah berada dalam kondisi mengkhawatirkan karena mereka menjadi target pemasaran industri rokok dan semakin tingginya jumlah perokok pemula. Tingginya jumlah perokok pemula, menurut Lisda, disebabkan longgarnya peraturan di Indonesia terkait pengendalian tembakau.

Akses anak terhadap rokok, tambahnya, menjadi mudah karena harga rokok murah dan maraknya penjualan rokok kepada anak. Tak hanya itu, iklan rokok yang massif membidik anak-anak dan remaja dengan menampilkan gaya hidup bertema anak muda yang serba positif.

“Masih berdasarkan data GYTS, sebanyak 62,7 persen anak melihat iklan rokok di TV, video, dan film, sebanyak 60,7 persen anak-anak melihat iklan promosi rokok di toko-toko, dan ada 7,9 persen anak-anak mengaku pernah ditawari rokok oleh penjual rokok,” paparnya.

Catatan Lentera Anak, gempuran iklan rokok bertema positif kepada anak dan remaja berpotensi melemahkan  penyuluhan tentang bahaya rokok. Padahal rokok adalah produk berbahaya karena mengandung lebih dari 4000 zat kimia, dimana 60 zat di antaranya bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker. Banyak anak muda tidak menyadari bahaya laten rokok, karena lamanya dampak yang dirasakan sejak mulai merokok dan akhirnya ketagihan, hingga menderita penyakit.

“Dampak dari rokok baru akan dirasakan 15 tahun kemudian. Sehingga anak-anak yang merokok di usia sangat muda seperti sedang menjemput penyakitnya sendiri. Bila mereka sudah merokok di usia 10 tahun, maka di umur 25 mereka akan menderita sakit-sakitan, dan ironisnya itu terjadi di usia produktif mereka,” kata Lisda.

Saat ini, kondisi mengkhawatirkan akibat rokok tidak hanya menerpa anak-anak dan remaja, tetapi juga perempuan Indonesia. Jumlah perokok perempuan terus meningkat setiap tahun. Pada 1995 hanya 4,2% perempuan di Indonesia merokok, namun di tahun 2013 jumlahnya meningkat menjadi 6,7%. Dari jumlah perempuan perokok pada 2013 ini, sebanyak 3,1 persen berusia remaja (15-19 tahun). Angka ini naik 10 kali lipat dari jumlah remaja perokok pada 1995 yang baru 0,3 persen.

Kebiasaan merokok pada remaja bisa berlanjut hingga mereka dewasa dan menikah, dan akan berdampak pada janin yang dikandung. Mengutip data hasil penelitian di RS Persahabatan (2013) memperlihatkan bahwa rata-rata anak yang dilahirkan oleh ibu hamil yang merokok memiliki berat badan yang lebih ringan (kurang dari 2,5 kg) dan lebih pendek (kurang dari 45 cm) dibandingkan ibu yang tidak merokok (lebih dari 3 kg) dan lebih panjang (lebih dari 50 cm). Bayi yang lahir dari ibu perokok berpotensi mengalami gangguan pernafasan sejak dini, dan bisa terus terjadi sampai kelak anak tumbuh dewasa.

Menurut Lisda, kondisi gawat darurat yang menimpa anak dan remaja akibat rokok seharusnya tidak dibiarkan. Oleh karena itu, Lentera Anaka mendukung pemerintah membuat regulasi yang bisa menyelamatkan anak-anak dan perempuan Indonesia dari dampak rokok.

Regulasi ini diantaranya melarang segala bentuk iklan, promosi dan sponsor rokok untuk melindungi anak dan remaja dari target pemasaran industri rokok, dan membatasi akses anak terhadap rokok dengan menaikkan harga rokok.  Untuk memberikan dukungan, masyarakat cukup mengklik http://bit.ly/pollingdukungan.(asr)

Share

Video Popular