Dokter telah menemukan efek samping beberapa obat baru yang kuat yang memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker: Dalam kasus yang jarang terjadi, obat tersebut dapat menyebabkan kerusakan jantung yang fatal, terutama bila digunakan secara bersamaan.

“Masalahnya adalah, karena tidak ada gejala maka pasien tidak diperiksa secara rutin untuk ditemukan penyakit,” kata Dr. Javid Moslehi, kepala klinik Universitas Vanderbilt yang mengkhususkan diri dalam meneliti risiko menderita penyakit jantung akibat terapi kanker.

Moslehi membawa laporan ke New England Journal of Medicine menjelaskan dua pasien meninggal akibat masalah jantung dua minggu setelah menerima dosis pertama obat produksi Bristol-Myers Squibb, yaitu Opdivo dan Yervoy, untuk mengobati kasus melanoma kanker kulit yang mematikan.

Dua obat yang sama tersebut juga dijual bebas, dan pemimpin penelitian percaya bahwa dua obat tersebut juga menimbulkan risiko penyakit jantung.

“Saya rasa ini adalah akibat efek katagori obat, tidak terbatas pada satu obat,” kata Dr. Javid Moslehi.

Dokter menekankan bahwa risiko yang terjadi tidak meniadakan manfaat besar dari jenis obat yang relatif baru. Checkpoint inhibitor mengubah pengobatan beberapa jenis kanker dengan cara membantu sistem kekebalan tubuh melihat dan menyerang tumor.

Dalam kasus yang jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh tampaknya tidak hanya menyerang tumor, tetapi juga menyerang hati dan otot lain, yang menyebabkan peradangan dan irama jantung yang berbahaya. Pasien harus diberitahu mengenai risiko yang akan terjadi, dimonitor secara ketat dan diterapi obat-obatan dengan cepat untuk memadamkan respons kekebalan tubuh jika terjadi masalah.

Selain melanoma, kombinasi Opdivo-Yervoy digunakan untuk mengobati beberapa jenis kanker paru, meskipun pada dosis yang berbeda. Checkpoint inhibitor lainnya termasuk Genentech’s Tecentriq, untuk kanker kandung kemih, dan Merck & Co.’ s Keytruda, di mana mantan Presiden Jimmy Carter menggunakanya untuk mengobati melanoma yang menyebar ke otaknya. Banyak lagi yang masih dalam pengujian.

Sebelumnya kadang ada laporan masalah jantung akibat menggunakan obat tersebut. Setelah dua kematian yang terjadi baru-baru ini, dokter meminta Bristol-Myers Squibb untuk memeriksa catatan keselamatan pasien yang menggunakan Opdivo dan Yervoy.

Pada bulan April 2016, 18 kasus peradangan hati yang serius yang ditemukan di antara 20.594 pasien yang menerima salah satu atau kedua obat tersebut, rata-rata 0,09 persen. Kasus lebih berat dan lebih sering terjadi pada orang yang menggunakan kedua obat tersebut, memengaruhi 0,27 persen pasien. Ilmuwan Bristol-Myers membantu menulis laporan jurnal, dan beberapa penulis lain berkonsultasi dengan perusahaan tersebut.

Penelitian telah menunjukkan bahwa kombinasi obat tersebut memberikan efek anti-kanker yang lebih kuat dibandingkan hanya menggunakan salah satu dari obat tersebut, tetapi “kami sudah mengetahui efek pedang bermata dua ini” karena berisiko terjadinya perangsangan sistem kekebalan tubuh secara berlebihan, demikian kata Dr. Jeffrey Sosman dari Universitas Northwestern di Chicago, yang memberi terapi pada dua pasien yang akhirnya meninggal.

“Pertanyaan besar adalah, apakah cukup menguntungkan menggunakan kombinasi kedua obat tersebut, yang akan semakin beracun, dibandingkan hanya menggunakan salah satu obat tersebut,” kata Dr. Jeffrey Sosman.

Itu adalah pertanyaan besar yang dihadapi bidang kanker, bukan hanya terapi kekebalan tubuh. Beberapa obat penargetan-gen yang lebih baru juga telah menyebabkan efek samping bila digunakan dalam kombinasi obat. Namun banyak dokter percaya bahwa kombinasi obat adalah cara terbaik untuk mengurangi kanker dan berada di tempat kanker lebih lama, yang sekaligus menutup beberapa jalur yang digunakan oleh tumor.

Dr. Michael Atkins, wakil direktur Georgetown-Lombardi Comprehensive Cancer Center, percaya masalah jantung akibat checkpoint inhibitor akan dapat diobati pada sebagian besar pasien.

“Hal tersebut hanya memberi kita saat jeda. Ini adalah peristiwa langka … tetapi adalah salah satu yang sangat serius,” kata Dr. Michael Atkins, yang memimpin penelitian yang mencakup salah satu dari dua pasien yang meninggal.(AP/Vivi/Yant)

Share

Video Popular