Ada seorang siswa SD kelas satu, sebut saja namanya Johan Lin, karena banyaknya PR yang harus dikerjakan di rumah bertepatan dengan libur panjang, sehingga membuat Johan Lin menggerutu dan kesal di dalam kelas. Guru memintanya untuk segera menulis PR yang diberikan, tapi, Johan bukan saja tidak mencatatnya, malah marah-marah sama gurunya.

“Kamu tidak mau mencatatnya ya ?” Tanya guru.

Johan tampak cuek tidak menggubris : “Saya tidak mau mencatatnya, tidak mau.”

Gurunya dengan sabar membujuknya berulang kali, mengingatkan dan menjelaskan padanya, tapi lagi-lagi Johan tidak menggubrisnya. Apa pun yang guru katakan, dia tidak mau mencatat, satu jam pun berlalu, namun, tidak satu pun pelajaran tercatat dalam bukunya.

Tidak peduli apa pun yang diukatakan gurunya, Johan selalu menggerutu di belakang guru, hingga akhirnya sang guru pun kehilangan kesabaran, lalu berteriak lantang kepada Johan, menepuknya, namun, Johan bergeming, sikapnya tetap saja seperti itu, menundukkan kepala dan melirik matanya, sambil terus menggumam tidak jelas : “Tidak sakit, biasa saja”, “tetap saja saya tidak akan mencatatnya, tidak mau.”

Situasi demikian kembali menemui jalan buntu selama sekitar setengah jam, sikap Johan masih seperti itu..

Beberapa saat kemudian, gurunya menyuruhnya ke sisinya, namun, ia masih saja kesal dan marah-marah. Gurunya melihat sejenak catatan bukunya, meskipun cukup banyak halaman PR matematika, tapi isinya sedikit.

“Kalau kamu merasa pelajarannya banyak, kita kerjakan dulu satu halaman saja,” kata gurunya.

“Tetap saja masih banyak.”

“Kalau begitu, kerjakan soal utama pada halaman pertama ini, hanya ada 4 soal kecil sisanya, hanya 4 soal, tidak banyak, kan.”

Sikap Johan tampaknya agak melunak, lalu berkata : “Saya tidak bisa mengerjakannya.”

“Saya akan mengajarimu.” jawan gurunya.

Begitulah akhirnya dalam waktu relatif singkat, soal utama pertama pun selesai dikerjakan, kemudian menyelesaikan satu halaman, tak lama kemudian halaman kedua pun selesai, kurang dari setengah jam, Johan telah menyelesaikan pelahjaran matematika, bahkan Johan telah menyelesaikan semua pelajarannya sebelum ibunya datang menjemput.

Sebenarnya, bukan karena banyaknya pelajaran, juga bukan karena tidak bisa, tapi karena memang tidak berniat untuk mengerjakannya, banyak emosi itu terbawa oleh suasana hati, ditambah lagi dengan temperamen yang keras, gampang emosi, keras kepala, sehingga membangkitkan emosi guru dan muridnya.

Ketika mendidik anak-anak, dimana jika keras dilawan keras dihadapan emosi pihak kedua, efeknya bukan saja tidak baik, malah justeru akan membuat diri kita ikut terpancing amarahnya, dan suasana pun akan menjadi tak terkendali. Pada saat seperti ini, sebaiknya atur/kendalikan dulu sikap kita, pahami dulu dengan baik pihak kedua, dan berikan sejenak waktu kepadanya untuk mendinginkan suasana hati, kemudian baru jelaskan dengan lembut alasannya sekaligus meyakinkannya.

Ada kalanya anak-anak akan melihat sesuatu yang seharusnya dikerjakannya itu terlalu sulit dan merepotkan, saat demikian Anda perlu membimbingnya untuk menyederhanakan hal-hal yang dianggapnya sulit itu. Tuntun dirinya secara perlahan dalam batas yang bisa diterima dan mampu dikerjakannya, dengan begitu bukan saja bisa menyelesaikan sesuatu hal, suasana (hati) kedua belah pihak juga bisa harmonis.

Terkadang mendidik anak-anak itu tergantung pada orang dewasa, jika bisa bersikap lebih toleran, memakluminya, kurangi berdebat dengan anak-anak, Anda akan menemukan mendapatkan sesuatu pada diri Anda dalam hal menangani suasana hati (emosi) Anda dan cara mengatasi sesuatu, sehingga mendidik anak-anak pun menjadi sangat mudah dan nyaman. (Epochtimes/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular