Psikolog Amerika Dorothy Law Nolte menggambarkan hubungan antara pertumbuhan anak-anak dengan lingkungan pendidikan keluarga :

Jika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi dengan kritikan, ia akan belajar menyalahkan ; jika tumbuh dalam lingkungan yang tidak bersahabat, ia akan belajar berkelahi ; tumbuh dalam lingkungan yang memalukan (aib), akan membawa beban batin padanya ; tumbuh dalam lingkungan yang tak tertahankan (beban hidup) ia akan belajar sabar ; tumbuh dalam lingkungan dorongan-semangat, ia akan belajar percaya diri ; tumbuh dalam lingkungan yang adil, ia akan belajar keadilan ; tumbuh di lingkungan yang aman, ia akan belajar percaya pada orang lain dan sebagainya.

Bagi anak perempuan yang berat berpisah dengan orang tua – keluarga, dimana jika dibandingkan antara keluarga dengan masyarakat, dampak keluarga terhadap mereka jauh lebih besar, karena keluarga adalah tempat tinggal utama dan ketergantungan kelangsungan hidup mereka. Kalau begitu, suasana keluarga seperti apakah yang ideal untuk pertumbuhan anak perempuan ?

Demi mengetahui dunia batin anak-anak dan memahami apa saja permintaan paling mendesak mereka terhadap keluarga dan orang tua. Seorang sarjana Amerika telah mengunjungi lebih dari 20 negara, mengadakan survei skala besar terhadap lebih dari 10.000 anak-anak usia sekolah yang berbeda warna kulit dan kondisi ekonomi. Hasilnya sungguh mengejutkan : permintaan anak-anak terhadap orang tua dan keluarga bukan tuntutan ekonomi ataupun materi, melainkan :

1. Orang tua jangan bertengkar di depan anak-anak.

2. Setiap anak harus diperlakukan sama, tidak boleh pilih kasih.

3. Tidak boleh berbohong terhadap anak-anak, janji harus ditepati.

4. Ayah-ibu harus bisa saling mengalah, tidak boleh saling menyalahkan.

5. Memiliki waktu akrab antar orang tua dan anak-anak.

6. Bisa menyambut kedatangan teman anak-anak ketika berkunjung ke rumah.

7. Bisa menunjukkan sikap yang stabil, jangan adakalanya bersikap hangat dan dingin, tidak cepat marah.

8. Ketika memutuskan masalah keluarga, seyogianya meminta pandangan dari segenap anggota keluarga.

9. Keluarga harus memperhatikan kegiatan kelompok, bermain di luar lingkungan rumah pada hari minggu atau saat libur.

10. Anak-anak boleh mengkritik kelemahan orang tua, dan seyogianya menyambut dengan ramah anak-anak dalam mengemukakan pandangan yang tidak sama.

Dari sepuluh permintaan ini, bisa kita lihat para orang tua, keluarga yang baik di mata anak-anak adalah memiliki suasana kasih sayang, ramah, santai, toleran, demokratis dan suasana yang hidup, kehidupan keluarga yang baik ini paling kondusif untuk perkembangan sehat jasmani dan rohani anak-anak.

Selain itu, ada kelompok studi psikologis anak-anak pernah melakukan survei psikologis terhadap lebih dari 3000 anak-anak usia sekolah, salah satu pertanyaannya adalah “apa yang kamu takutkan dari ayah/ibu?” Jawabannya bervariasi, tetapi yang layak direnungkan adalah, di antara jawaban yang paling banyak itu bukan “takut dipukul ”, tapi “ yang paling saya takutkan adalah ibu dan ayah marah, takut mereka bertengkar”.

Orang tua dapat bertanya pada anak-anak : “Rumah (keluarga) yang ideal seperti apa yang kamu harapkan ?” Kemudian wujudkan permintaan yang rasional dalam jawaban itu, sehingga dengan demikian, dimana karena perubahan orang tua, anak-anak dapat merasakan rasa hormat, kepedulian dan kasih sayang serta akan mengubah dirinya sendiri.

Kepedulian orang tua jauh lebih baik daripada materi

Anak-anak perempuan sangat mengharapkan perhatian dan kasih sayang ayah-ibu, jika orang tua tidak menunjukkan perhatian atau selalu berkhotbah di setiap kesempatan, membuat mereka tidak bisa merasakan kehangatan kasih sayang, biasanya akan memicu kecenderungan yang kuat untuk melarikan diri dari keluarga. Di antaranya adalah terlau dini pacaran, kabur dari rumah dan sejenisnya itu adalah cara perlawanan negatif yang paling sering mereka lakukan.

Ada sepasang suami-isteri, sang ayah hanya peduli dengan pelajaran putrinya, setiap pulang kerja, selalu saja bertanya pada putrinya : “PR-nya sudah dikerjakan belum ?” Sementara sang ibu selalu sibuk di dapur setiap pulang ke rumah, merapikan kamar, dan melarang putrinya tidak boleh piara hewan. Sang putri tidak tahan dengan sikap dingin keluarga di rumah, kerap tidak pulang ke rumah usai sekolah, kalau bukan ke rumah neneknya dia berjalan kaki yang jauh untuk sekadar mencari kehangatan dan hiburan.

Setelah berkonsultasi dengan psikolog, ayah sang putri akhirnya setiap selalu proaktif berbincang-bincang dengan putrinya, atau sekadar bermain catur, sedangkan sang ibu membolehkan putrinya memelihara beberapa ekor ikan, dan hasilnya sang putri tidak lagi melarikan diri dari rumah.

Keinginan anak-anak itu sebenarnya sangat sederhana, hanya ingin orang tua mereka dapat memberi lebih banyak perhatian, kasih sayang, dan lebih memahami mereka. Selama orang tua bisa mengubah sikap mereka pada saat yang tepat, anak-anak pasti akan kembali ke jalan yang normal dan tumbuh sehat.

Keharmonisan keluarga adalah dasar dari pendidikan sehari-hari

Ada orang tua yang kerap denga sengaja menyerang pihak lain, tapi tidak pernah berpikir, seberapa besar dampaknya terhadap anak-anak dengan lingkungan keluarga seperti ini. Hasil studi psikolog menyebutkan, bahwa jika anak-anak sejak kecil tumbuh dalam suasana yang tegang, IQ mereka umumnya relatif lebih rendah, dan akan ada banyak masalah psikologis ; sedangkan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis, jasmani dan rohaninya relatif lebih sehat.

Dalam keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan, orang tua kerap tak lupa membawa serta anak-anak berjalan santai, jalan-jalan di taman, olahraga, main game dan sebagainya, dimana semua ini dapat membuat anak-anak menerima berbagai pendidikan keluarga sehari-hari, sehingga dapat memicu kegemarannya untuk belajar, penuh rasa ingin tahu yang besar terhadap hal ihwal di sekitar.

Sebaliknya, jika hubungan suami-isteri tidak harmonis, suasana rumah tangga yang tegang, hal ini bukan saja membuat para orang tua tidak berkeinginan merawat anak-anak mereka, malah akan menjadikan anak-anak sebagai sasaran amarah. Anak-anak yang tumbuh dalam suasana keluarga seperti ini sangat tersiksa secara rohani , sangat tertekan secara mental, yang akan berdampak pada kesehatan dan intelegensinya. Keluarga adalah tempat pertumbuhan anak-anak, setiap tutur kata maupun perbuatan orang tua itu adalah pendidikan tanpa suara bagi meraka.( Epochtimes/ Yun Xiao/Jhn)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular