Oleh: Gao Tianyun

Pada 19 Desember 2016 malam hari, Dubes Rusia untuk negara Turki bernama Andrey G. Karlov ditembak dan tewas. Peristiwa ini menggemparkan seluruh dunia.

Waktu itu seorang reporter Associated Press (AP) Amerika bernama Osbrice berhadapan dengan si penembak, dengan ancaman kehilangan nyawa ia tetap terus mengambil foto. Beberapa jam kemudian, foto yang berhasil diambil Osbrice itu telah tersebar ke seluruh dunia. Ia menyatakan dirinya merasa “berkewajiban untuk merekam peristiwa tersebut”.

Osbrice mengatakan, waktu itu ia sangat takut, juga tahu si penembak mungkin akan beralih pada dirinya. Pikirannya saat itu adalah, “Saya sekarang ada disini, meskipun saya akan dilukai, atau dibunuh, saya tetap seorang wartawan, saya harus melakukan pekerjaan saya. Saya bisa saja lari dan tidak mengambil foto apa pun… tapi setelah kejadian itu bila ada orang yang bertanya pada saya, mengapa saya tidak mengambil foto?, saya mungkin tidak tahu harus menjawab apa.”

Osbrice juga menambahkan, ia teringat pada banyak teman dan rekan kerjanya yang tewas karena mengambil foto di medan konflik.

Tindakan berani Osbrice adalah seberkas cahaya terang yang memancarkan suatu inspirasi di tengah bencana. Di tengah api peperangan yang berkobar, di tengah kegelapan ancaman teror, banyak pekerja berita yang berkorban nyawa di lapangan, dan hanya meninggalkan sepenggal rekaman abadi yang diukir dengan nyawa.

Menurut catatan sejarah, sebuah contoh yang paling terkenal, terjadi pada suatu musim panas pada 548 SM. Waktu itu adalah tahun ke-25 masa pemerintahan raja Lu Xiang Gong pada Era Negara Saling Berperang, pejabat Kerajaan Qi bernama Cui Zhu mendalangi pembunuhan terhadap rajanya sendiri yakni Qi Zhuang Gong yang telah menggoda istrinya.

Pejabat pencatat sejarah Negeri Qi menolak mendistorsi fakta, dan bersikukuh menulis, “Cui Zhu membunuh rajanya.”

Cui Zhu yang berang pun membunuh pejabat pencatat sejarah itu. Adik pejabat pencatat sejarah itu meneruskan lagi catatan sejarah itu dan menulis, “Cui Zhu membunuh rajanya.”

Adiknya pun dibunuh oleh Cui Zhu. Adik kedua pejabat pencatat sejarah juga melakukan hal yang sama, tapi kali ini Cui Zhu berhenti. Dua ribu tahun silam, darah segar dua orang pejabat pencatat sejarah, telah menorehkan kisah moralitas yang begitu klasik dan harum sepanjang sejarah. Catatan sejarah, menerobos antara fakta dan distorsi, menguji hati manusia dari generasi ke generasi.

Pada 2003, kumpulan fotografi berjudul “Red News Corps” diterbitkan oleh penerbit Filton Press, Inggris. Buku foto ini memuat ratusan karya foto seorang fotografer Tiongkok bernama Li Zhensheng, yang merekam sejarah gerakan absurd di RRT mulai dari “Empat Gerakan Pembersihan (Four Cleanups Movement) pada akhir 1962” sampai “Revolusi Kebudayaan (1966-1976)”, dan dinilai sebagai “buku yang masih akan dibaca setelah terbit selama 500 tahun”.

Selama periode kekacauan satu dekade, di saat Li Zhensheng sedang mengambil foto-foto “positif” untuk mempropagandakan Revolusi Kebudayaan, ia juga menempuh risiko dengan mengambil foto-foto “negatif” gerakan tersebut. Ia mengumpulkan hampir 100.000 lembar foto, yang menjadi bukti bisu pembantaian terhadap kemanusiaan dan kebudayaan.

Menurut berita VoA, kala itu Li Zhensheng menyaksikan sendiri sebuah podium Lama aliran Buddha Donglin dihancurkan, juga melihat para bhiksu di Vihara Kek Lok Si diganyang. Li Zhengsheng berkata, “Saya pikir agama juga merupakan kebudayaan, ini bukan mendorong perkembangan kebudayaan, melainkan menghancurkan kebudayaan. Jadi pada waktu itu saya mulai goyah, dari yang awalnya berniat mendukung gerakan itu, menjadi goyah, dan mendorong saya untuk mengambil lebih banyak gambar, terutama segala hal yang bersifat negatif, hal-hal yang tidak pernah diberitakan, semuanya saya rekam. Revolusi Kebudayaan kemudian berkembang sampai pada kerabat saya yang dipaksa sampai bunuh diri, termasuk mertua saya; kemudian berkembang menjadi saya pun diganyang (dihujat habis-habisan di depan umum). Ketika revolusi ini telah mengangakan rahang berdarahnya lebar-lebar sampai hendak memakan rakyatnya sendiri, masih bisakah saya mendukungnya? Masihkah saya bisa bersorak girang? Jadi, jejak rekaman saya pun menjadi semakin dalam.”

Li Zhensheng menyimpulkan sebagai berikut, “JIka ditanya apa prestasi yang bisa saya banggakan sepanjang hidup saya ini, maka prestasi itu adalah serpihan sejarah tak terhitung jumlahnya yang saya tinggalkan bagi masyarakat dunia. Berani menatap sejarah bangsa sendiri, baru bisa disebut sebagai bangsa yang agung.”

Revolusi Kebudayaan telah berakhir empat puluh tahun lamanya. Yang sangat disesalkan adalah, di atas daratan Tiongkok tesebut, kebebasan fotografi masih saja omong kosong. Awal Desember lalu, telah terjadi cuaca berkabut polutan parah di provinsi Sichuan, ada netizen menggalang kegiatan “satu orang satu foto melawan kabut polutan”. Tapi banyak foto tentang kabut langsung dihapus begitu dipublikasikan.

Ada fotografer yang memublikasikan foto kabut dibawa oleh polisi, ada yang mendapat peringatan, “Tidak boleh mengambil foto langit yang berkabut, hanya boleh foto cuaca cerah.

Seorang Netizen mengkritik pemerintah, “Jika setiap orang bertindak, maka organisasi ini akan runtuh, Partai Komunis Tiongkok/PKT akan terkubur. Jadi kuncinya adalah, PKT telah mencapai taraf tegang sampai ke ubun-ubun, fotografer tidak boleh mengambil foto, sampai mati pun tidak boleh mengambil foto untuk mengungkap kejadian ini.”

Langit biru yang palsu, membuat kegelapan merajalela. Pemerintah PKT mendistorsi kebudayaan dan sejarah bangsa, juga melakukan kejahatan yang membinasakan rakyat. Penghalang diktator merah telah menutupi tak terhitung banyaknya fakta, membelenggu suara kebebasan. Di tengah ketakutan fakta terungkap, tapi selalu dibayangi oleh risiko, dan pengorbanan. Pada saat itu, menghadapi bahaya, apakah akan terus melangkah, atau diam dan mundur?

Kita menempatkan diri pada peredaran waktu dan membentuk kepingan sejarah yang disatukan. Setiap detik, setiap menit, setiap orang, membentuk sejarah di berbagai jalurnya masing-masing dan memahami sejarah.

Hari ini, kita semua adalah pejabat pencatat sejarah. Aksara pada lembaran bilah bamboo (di zaman Tiongkok kuno sebelum penemuan kertas) kini telah berkembang menjadi tulisan, suara, foto, film, lagu, tarian, menggambarkan keindahan maupun keburukan, mengisahkan kebajikan maupun kejahatan. Menantang kejahatan, mengumpulkan sinar terang, dengan keberanian dan tekad yang kuat, melalui tanggung jawab zaman, layak membanggakan diri. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular