Oleh: Yang Ning

Menurut pemberitaan Epoch Times, parlemen Denmark telah menggelar forum tanya jawab terkait kejahatan perampasan organ tubuh hidup-hidup oleh Partai Komunis Tiongkok/PKT.

Forum ini digelar atas prakarsa bersama sebanyak enam orang anggota parlemen Denmark oleh Kenneth Kristensen Berth dari Partai Rakyat Denmark yang merupakan partai kedua terbesar di dalam parlemen.

Selain mengajukan pertanyaan kepada para pejabat diplomatik, bersama dengan Partai Koalisi Merah-Hijau dan sejumlah anggota partai membuat pernyataan bersama, dan mengajukan untuk dijadikan sebagai resolusi parlemen.

Menurut berita, ini adalah pertama kalinya dalam forum tanya jawab anggota parlemen Denmark fokus pada penindasan terhadap Falun Gong oleh PKT serta kejahatan perampasan organ tubuh praktisi Falun Gong serta para tawanan nurani lainnya.

Yang paling mengguncang penulis adalah, pada pidato pembukaan saja anggota parlemen Berth langsung mengungkap sebuah fakta yang membuat masyarakat internasional merasa malu.

“Jika pada negara lain selain RRT terjadi hal yang sedang ditudingkan pada Tiongkok (PKT) saat ini, maka pasti akan menghebohkan masyarakat internasional. Jika negara lain selain RRT dituding bahwa mereka melakukan perampasan organ tubuh tawanan politik secara paksa, maka masyarakat internasional pasti akan segera mengambil tindakan. Tapi karena saat ini RRT memiliki posisi yang unik sebagai negara yang terbanyak penduduknya di dunia, dan perekonomiannya mempengaruhi seluruh dunia, banyak negara akan tertarik untuk mendapatkan keuntungan ekonomi darinya. Mungkin inilah alasan mengapa kritik masyarakat internasional terhadap kejahatan perampasan organ tubuh para tawanan hati nurani yang dilakukan oleh PKT, selalu sangat lemah.”

Jelas bagi anggota parlemen Berth, kejahatan pembantaian oleh PKT yang kejamnya melampaui pembataian oleh NAZI Jerman, dan telah berlangsung selama belasan tahun namun tidak mendapat reaksi dari masyarakat internasional.

Alasannya adalah karena pemerintahan banyak negara lebih tertarik dengan keuntungan ekonomi dari PKT. Mengambil contoh negara adidaya Amerika Serikat. Pada Februari 2009, mantan Menlu AS Hillary saat berkunjung ke Asia pernah mengatakan, “Tekanan yang diberikan oleh AS dalam masalah HAM tidak dapat mengganggu pembahasan terkait permasalahan lain.”

Kebijakan seperti ini membuat sejumlah pejabat politik AS sampai saat ini tetap tidak berani menghadapi kejahatan penindasan praktisi Falun Gong dan perampasan organ tubuh para praktisi Falun Gong.

Sama halnya dengan Amerika, Eropa dan banyak pemerintah negara lain juga memilih bersikap seperti itu. Tidak diragukan, seperti godaan pasar besar Tiongkok yang begitu menggiurkan.

Selain memaksa sejumlah perusahaan modal asing untuk melayani kepentingan politik PKT, bahkan menjadikan mereka sebagai komplotan penindasan HAM yang dilakukan PKT terhadap rakyatnya, bahkan membuat pemerintah negara lain untuk tunduk kepada PKT demi kepentingan ekonominya, yang kemudian melupakan moralitas, HAM, nilai kehidupan, agama kepercayaan dan penindasan HAM.

Suara lantang yang dilontarkan oleh Berth di tengah parlemen seharusnya membuat para pejabat penting di seluruh dunia merasa malu, seharusnya membuat seluruh masyarakat internasional menjadi malu. Ketika dunia menjadi mengutamakan kepentingan di atas segalanya, ketika kita melupakan moralitas, kebebasan, demokrasi, norma kehidupan dan lain-lain, kemanakah dunia kita ini akan melangkah?

Dalam hal ini, anggota parlemen Berth yang meneliti sejarah mempunyai pemahaman yang jernih. Menurut Berth, para politisi memang seharusnya seminim mungkin campur tangan pada urusan dalam negeri negara lain, tapi “ketika terkait dengan eksistensi umat manusia, maka kita berkewajiban untuk menyatakan sikap yang jeas. Merampas paksa organ tubuh tawanan politik dan mengabaikan niat hati mereka, kita tdiak bisa membiarkan pembantaian yang sistematis ini menutupi pandangan kita”.

Karena alasan ini, pemerintah di seluruh dunia, masyarakat internasional seharusnya berseru untuk menghentikan kejahatan ini, ini tidak hanya tidak bertanggung jawab terhadap sejarah, juga bertanggung jawab pada seluruh umat manusia dan seluruh dunia.

Anggota parlemen Berth menyatakan, “Ketika pada suatu hari rezim (PKT) telah runtuh, pada saat hari itu tiba, maka kejahatan rezim (PKT) itu akan terungkap. Pada saat itu kita akan kembali menoleh pada sejarah ini, melihat perdebatan kita di aula parlemen ini, melihat siapa yang pernah mengatakan apa.”

Benar, roda sejarah tidak bisa dibendung oleh siapa pun. Ketika tak lama lagi saat rezim PKT runtuh, ketika kejahatan PKT diadili, pilihan setiap orang telah terpatri pada lembaran sejarah itu, baik memilih kebaikan atau kejahatan, baik memilih mengecam atau bersikap dingin.

Sejarah manusia terdapat banyak sekali pelajaran untuk kita serap, demi hari esok kita bisa dengan lantang mengatakan “saya memilih mendukung kebaikan”, tidak ada salahnya mulai mengecam kejahatan dari sekarang.

Ini juga yang sedang dilakukan oleh Berth dan anggota parlemen lainnya. Mereka memaparkan bahwa Dewan Kongres AS, dan Dewan Kongres Eropa telah meloloskan resolusi untuk mengecam kejahatan PKT itu, dan mereka berharap agar pemerintah Denmark juga mengambil tindakan dalam masalah ini.

Para anggota parlemen menyerukan agar pemerintah PKT “segera menghentikan penindasan pada kelompok minoritas termasuk Falun Gong, Tibet, umat Kristen, dan suku Uyghur; serta segera membebaskan para tawanan politik.”

Berth dan anggota parlemen lainnya yang mewakili keadilan, berapa pun banyaknya masyarakat dunia yang tersadarkan oleh mereka, mereka telah meninggalkan jejak kaki yang sangat membanggakan, dan seruan mereka, menembus awan, tersebar hingga ke Tiongkok dataran, tersebar sampai ke Zhongnanhai di Beijing. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular