Tentu saja, ada anak yang biasanya berperilaku baik di rumah, tapi setelah berada di tempat umum seketika berubah menjadi sosok lain yang kegirangan, berlarian dan loncat-loncat seperti anak liar yang tidak berpendidikan atau membuat onar, menangis keras, sehingga membuat malu orang t6ua. Biasanya, orang-orang akan berpikir anak ini kurang ajar tidak beretika. Tapi, benarkah anak itu kurang ajar tidak berpendidikan ? saya pikir ada yang tidak beres dengan pola pendidikan keluarga, adalah orang tua yang tidak membuat norma yang baik

Misalnya, sebelum mengajak anak-anak pergi, Anda bisa bicarakan dulu dengan anak-anak hendak kemana, tujuannya, jangan teriak-teriak, berlarian dan tidak boleh membuat onar setibanya di tempat, jika tidak mentaatinya, kita tidak jadi pergi. Anak-anak secara relatif tidak bisa mengontrol dirinya, apabila membuat onar (teriak-teriak) di tempat umum, Anda bisa katakan kepadanya : “ayah merasa malu karena perilakumu itu mengganggu orang lain, jadi kita pergi saja.” Dengan cara ini, anak-anak akan tahu dan tidak lagi berisik, kalau berisik kita pergi saja, jangan mengganggu (ketenangan) orang lain.

Jika anak membuat gaduh (menangis) di tempat umum, lebih baik kita bawa keluar, dan menghiburnya, tidak akan membiarkan hal itu terjadi di tempat umum. Apabila anak-anak ngambek dan menangis di restoran, ada orang tua yang langsung menegurnya untuk menghentikan mereka, tapi kami akan mengatakan “maaf” pada orang semeja itu, kemudian segera membawa anak keluar restoran dan menghiburnya, kalau tidak bisa juga, maka kami akan membawanya pulang.

Di masa kecilnya, kami pernah membawa Poppy anak saya, keluar dari restoran, ketika itu Poppy ngambek tidak mau makan dan berteriak kencang. Untuk pertama kalinya saya berkata kepadanya : “Kalau kamu berteriak lagi, ayah akan membawamu keluar.” Tapi anak itu terus berteriak, lalu saya hitung 123, tetap saja tidak digubris, kemudian sayapun membawanya keluar. Melihat itu, ada tamu lain yang menghampiri saya dan berkata : “Jangan terlalu keras pada anak-anak.”

“Terima kasih atas nasihatmu, tidak apa-apa, saya sudah bilang baik-baik kepadanya tadi di dalam, supaya jangan mengganggu orang lain.” Jawab saya pada tamu itu. “Saya tidak akan memukulnya, saya hanya ingin membuatnya takut saja, menghukumnya berdiri di sana, kalau masih ngambek juga, baru saya membawanya pulang. ”

Ketika Anak-anak melakukan kesalahan, dimana meskipun ada orang tua bisa menghentikannya dengan beberapa patah kata : “Hei, jangan lari-lari, kalau membuat gaduh lagi, nanti ayah/ibu pukul ya!” “Kalau tidak nanti ayah/ibu panggil polisi !” (mustahil kan polisi akan datang). Selain tidak memberitahu apa/dimana kesalahannya, juga tidak memberi hukuman sewajarnya, sehingga si anak pun tidak akan menggubris dengan kata-kata orang tua.

Suatu ketika, Poppy tidak sengaja memecahkan gelas di restoran, saya sangat marah, lalu berkata kepadanya : “Kamu tahu kenapa ayah/ibu begitu marah atas kejadian ini ? Bukan karena kamu tidak hati-hati atau ceroboh, tapi, bagaimana kalau ini air panas ? Kalau mengenai diri kita sendiri tidak apa-apa, tapi bagaimana kalau mengenai orang lain ? Kamu tahu betapa bahayanya itu, (kalau saja gelas itu berisi air panas) ayah/ibu takut melukaimu.” Belakangan, Poppy mulai menyadari hal itu, tidak lagi terjadi hal yang sama. Jadi tidak ada gunanya kalau hanya sekadar bilang tidak boleh begitu pada anak-anak, seyogianya katakan kepadanya mengapa tidak boleh begitu, gunakan kata “mengapa” sebagai pengganti kata “jangan atau tidak boleh”.

Anak-anak kegirangan begitu sampai di tempat umum, sehingga berteriak-teriak dan berlari kesana kemari dengan gembira, satu kali masih bisa dimaklumi, tapi bagaimana kalau selalu begitu, maka ini adalah kesalahan orang tua. Ada kalanya, orang tua yang ternyata bisa dengan begitu tenangnya terus menikmati makanannya, tidak mengatasi sejenak kenakalan anak-anak seperti tersebut di atas. Asal tahu saja, hal ini akan memengaruhi tamu lain yang sedang makan. Selain itu, bagaimana kalau pelayan restoran yang sedang mengantarkan makanan tamu itu tanpa sengaja ditabrak atau menabrak anak-anak yang sedang berlari-lari, kemudian anak-anak tersiram air panas ?

Ada dua faktor para orang tua membiarkan begitu saja (kenakalan) anak-anak : Pertama, mereka tahu tidak mampu mengendalikan anak-anaknya ; Kedua, mereka merasa malu apabila berada di hadapan banyak tamu itu anak-anaknya ngambek dan menangis. Ini adalah fenomena yang sangat umum. Saya sering mendengar ada orang tua yang mengatakan kepada anak-anaknya : “Nanti akan kamu rasakan sesampainya di rumah!” Tapi setibanya di rumah, suasana hati (emosi) itu pun lenyap, dan tidak mengatakan apa-apa lagi, berlalu begitu saja.

Apabila terjadi masalah, sebaiknya segera atasi saat itu juga, jika sebagai orang tua merasa malu karena memarahi anak-anak sampai menangis, Anda bisa membawa anak-anak keluar dari restoran atau apa pun itu, bukan membiarkan orang-orang menyaksikan perselisihan Anda dengan anak-anak, karena hal ini bukan saja tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi juga akan membuat anak-anak semakin berulah (keras kepala). Setelah meninggalkan restoran atau tempat umum, Anda bisa memberi pelajaran (tata krama) kepada mereka.

Ketika anak-anak melakukan kesalahan, sebaiknya selesaikan saat itu juga, dan beritahu anak-anak mengapa tidak boleh begitu, ingat gunakan kata “mengapa” sebagai pengganti kata “jangan/tidak boleh.”(Epochtimes/ Christopher Downs/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular