JAKARTA –  Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah menyatakan mengutuk kekerasan yang dialami oleh seorang berfprofesi sebagau PRT Suyati. Kekerasan ini dilakukan oleh Majikan Suyati. Atas kejadian ini, Migran Care menuntut pemerintah Indonesia segera mengambil sikap tegas terhadap aparat di Malaysia.

“Mengutuk Kebiadaban Majikan Suyati dan Menuntut Pemerintah Indonesia Segera Mengambil Sikap Tegas,” kata Anis dalam siaran persnya diterima di Jakarta, Senin (26/12/2016).

Menurut Anis, terungkapnya kasus penganiayaan terhadap Suyati, PRT migran asal Sumatera Utara pada penghujung 2016 menegaskan bahwa perlindungan terhadap buruh migran di Malaysia masih ilusi.

Lebih jauh Anis menilai komitmen kedua negara, baik Indonesia maupun Malaysia untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi PRT migran sebagaimana tertuang dalam MoU sebatas janji diatas kertas.

Hal ini juga kembali menegaskan bahwa ratifikasi terhadap Konvensi Internasional tentang perlindungan terhadap hak-hak buruh migran dan anggota keluarganya kedalam UU no 6 tahun 2012 belum dijalankan sepenuhnya. Bagi Migrant Care, ratifikasi terhadap konvensi ILO 189 tentang kerja layak terhadap PRT merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditunda.

Menyikapi penganiayaan terhadap Suyati, Migrant CARE mendesak:

Kepada pemerintah Indonesia:

1- Segera mengambil sikap tegas dan nyata dengan mengirimkan nota protes diplomatik kepada pemerintah Malaysia

2- Mendesak proses hukum secara fair dan berkeadilan

3- Menuntaskan revisi UU no 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI

Kepada pemerintah Malaysia:

  1. Segera memproses hukum majikan Suyati dan memastikan penegakan hukum berjalan dan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku
  2. Memberikan jaminan kompensasi dan rehabilitasi atas penganiayaan yang dialami korban
  3. Meninjau kebijakan bilateral antara pemerintah Malaysia dan Indonesia tentang perlindungan buruh migran

Suyanti mengalami penyiksaan sejak bekerja di rumah majikannya. Pada puncaknya, Suyanti lari dari rumah majikan setelah diancam dengan pisau besar pada 21 Desember 2016. Sebagaimana ditulis The Star, korban pertama kali ditemukan pingsan dan luka-luka di Mutiara Damansara, Petaling Jaya, Malaysia. Kepolisian Diraja Malaysia sudah menahan majikan korban dan dibebaskan dengan jaminan.  (asr)

Share

Video Popular