Oleh: Chen Pokong

Menanggapi kasus Drone Bawah Air / UUV (Unmanned Underwater Vehicle), Partai Komunis Tiongkok/PKT menyatakan pihaknya “menemukan”, dan “mengangkat”, sedangkan pernyataan pemerintah Obama adalah “mengambil” dan “membawa”. Sementara Trump menyatakan “mencuri”.

Sebenarnya, semua pernyataan itu tidak ada yang tepat. Perilaku PKT adalah merampas, merebut, merampok. Yakni di tengah siang bolong, di bawah batang hidup para pelaut AS. Ini adalah perampokan yang sebenarnya, adalah pelecehan terang-terangan terhadap Amerika Serikat.

Ini adalah sebuah “kado perpisahan” dari pemerintahan PKT dengan Obama yang akan segera mundur dari jabatannya sekaligus “gertakan” bagi Presiden Trump yang akan segera menjabat. Sebenarnya “gertakan” usang seperti ini sudah pernah dimainkan PKT sebelumnya, selalu dilakukan sebelum presiden baru AS menjabat.

Pada 1 April 2001, Presiden Bush junior baru menjabat dua bulan lebih. PKT menciptakan peristiwa tabrakan jet tempur RRT dengan AS di Laut Tiongkok Selatan. Dalam kejadian ini pilot RRT bernama Wang Wei tewas, pesawat lacak AS rusak dan dipaksa mendarat di Bandara Lingshui di Pulau Hainan, RRT.

Setelah dua bulan bersitegang, kedua belah pihak sama-sama berkompromi. Pesawat lacak AS tersebut dalam keadaan dibongkar hingga menjadi pretelan kecil dan dikirim kembali ke Amerika. Tapi jelas selama itu PKT telah mencuri teknologi rahasia yang berada di dalam pesawat lacak tersebut.

Pada tahun yang sama terjadi serangan teroris 9/11, demi menghimpun kekuatan memberantas teroris melawan Al Qaeda, Amerika dipaksa untuk “berdamai” dengan PKT, dan bersatu di dalam “aliansi anti teroris” internasional. PKT pun bisa melepaskan diri dari tekanan Amerika, dan melewati masa sulit, sembari diam-diam memperluas pengaruhnya di Asia saat Amerika yang sedang sibuk menghadapi teroris itu sedang lengah, berusaha menelikung AS dari belakang.

8 Maret 2009, kurang dari dua bulan Presiden Obama menjabat, ketika kapal riset AL milik Amerika “Flawless” berlayar di dekat perairan RRT, tiba-tiba dikepung oleh 5 unit kapal milik PKT yakni kapal lacak dan kapal pengawas laut, yang kemudian mendekat dan lempar sauh berusaha menghalangi. Kapal “Flawless” AS terpaksa membalas dengan menyemprotkan air dan membuang jangkar.

Selama Obama menjabat, PKT terus ekspansi besar pengaruhnya di Laut Tiongkok Selatan, mulai dari menabrak kapal nelayan Vietnam, merampas pulau milik Filipina, sampai berkembang menjadi reklamasi membuat pulau, serta terus meningkatkan persenjataan militer di pulau-pulau di Laut Tiongkok Selatan yang merupakan milik RRT.

Memasang radar, memperbaiki lapangan udara militer, sampai menempatkan rudal. Meskipun Obama telah menempuh strategi kembali ke Asia untuk mengepung RRT, tapi secara keseluruhan, kekuatan itu tidak cukup dan lamban. Ketika diprovokasi, reaksinya juga sangat low profile, bahkan terkesan sambil lalu saja.

Para jendral AL Amerika hanya bisa mengeluh, karena acap kali usulan mereka untuk membalas dan menyerang balik tidak disetujui oleh Obama, serta terus mengulur-ulur pelaksanaan pelayaran bebas Laut Tiongkok Selatan. Obama berusaha untuk tidak mengusik PKT, tapi PKT justru semakin menjadi-jadi, semakin arogan dan berlebihan. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular