Ada dua orang yang berteman baik, yang seorang disebut Rendah Hati dan yang seorang lagi disebut Serakah. Mereka berdua sepakat untuk bersama-sama naik ke surga, mereka membawa bekal yang cukup untuk persediaan makanan mereka selama perjalanan menuju ke surga.

Untuk mencerminkan semangat kasih tanpa pamrih, di dalam perjalanan mereka selalu mengalah satu sama lain, karena hal tersebut menyebabkan waktu yang dipergunakan dalam perjalanan tertunda sangat banyak, jika hal ini berlanjut terus bisa berabe, oleh sebab itu Serakah mulai berpikir tidak akan mengalah lagi, jika engkau tidak mau saya akan menerimanya, akhirnya dia memakan habis semua makanan yang diberikan oleh Rendah hati.

Kemudian diperjalanan mereka timbul hal yang aneh. Setelah Serakah memakan makanan yang diberikan Rendah hati, semakin dimakan nafsu makannya semakin besar, terus ingin makan, akhirnya Rendah hati karena kasihan kepada Serakah, walaupun dirinya tidak makan sampai lemas dia tetap memberikan makanannya kepada Serakah. Akhirnya yang satu orang karena kelaparan lemas tidak bisa berjalan lagi, sedangkan yang satu lagi karena kekenyangan tidak dapat berjalan. Setelah malam hari akhirnya mereka sampai didepan pintu surga.

Di pintu surga mereka dihalangi oleh malaikat penjaga pintu dan tidak boleh masuk kedalam surga.

Serakah bertanya, “Kenapa tidak mengizinkan kami masuk ke dalam?”

Malaikat berkata, “Karena engkau terlalu serakah, memakan habis semua makanan temanmu.”

Serakah berkata, “Tetapi, itu semua pemberian dari dia.”

Malaikat berkata, “Walaupun diberikan secara sukarela, tetapi engkau tidak boleh mengabaikan orang sehingga dia kelaparan sampai lemas tidak bisa berjalan, etika ini saja engkau tidak mengerti, apakah engkau pantas masuk ke surga?”

Rendah hati bertanya, “Lalu saya bagaimana?, demi supaya Serakah bisa makan dengan kenyang, saya memberikan semua makanan saya untuknya.”

Malaikat berkata, “Jika kemungkinan kesempatan Serakah masuk surga adalah 1 diantara sepuluh ribu, sedangkan kemungkian kesempatan kamu adalah 1 diantara jutaan juga tidak mungkin. “ Rendah hati tidak mengerti makna kata yang disebut malaikat dia terbengong di sana. Malaikat kemudian melanjutkan, “Membuat diri sendiri kelaparan seperti itu bukanlah sebuah kebajikan, engkau membuat surga ini bagaikan panggung sandiwara, dan menempatkan Tuhan sebagai penontonnya.” (Erabaru/hui)

Share

Video Popular