Di dalam hidup ini ada beberapa hal yang lebih menakutkan daripada kanker: ketika sel tubuh mengalami kerusakan dan menyerang balik tubuh sendiri, ketika mengalami kebotakan akibat kemoterapi.

Namun kanker memengaruhi begitu banyak hal— menurut American Cancer Society, hampir satu dari empat kematian di Amerika Serikat disebabkan oleh kanker. Kanker adalah penyebab kedua kematian tersering di Amerika Serikat, melampaui kematian akibat penyakit jantung.

Kami dapat menawarkan pil untuk mengatasi nyeri setelah operasi, atau mual dan muntah setelah kemoterapi, namun tidak ada resep seampuh dukungan dari orang yang mencintai si penderita. Sayangnya, bahkan ketika semua yang ingin kita lakukan adalah membantu si penderita, tanpa sepenuhnya memahami pola pikir atau pengalaman si penderita, mungkin saja bantuan kita malah berdampak sebaliknya.

Seringkali, kanker digambarkan sebagai tempat pertempuran di mana yang bertempur ingin selamat.

“Selama penderita punya semangat untuk bertempur, beberapa penderita sungguh berjuang dalam pertempuran. Tetapi tidak berarti bahwa pertempuran tersebut cocok untuk semua penderita kanker,” kata psikolog Lesley Howells, yang memimpin cabang lokal Maggie, suatu dukungan amal untuk kanker di Inggris.

Bagi banyak penderita, perjuangan mereka melawan kanker tidak mencerminkan pengalaman mereka terhadap kanker.

“Kami katakana bahwa cukup sedikit penderita yang bertempur dan berjuang melawan kanker. Saya merasa cukup aneh karena kedengarannya seperti saya telah melakukan sesuatu dan bahwa saya harus dibanjiri ucapan selamat karena telah mengalahkan kanker sebanyak dua kali,” kata Toby Peach, aktor teater, penulis, dan sutradara yang didiagnosis dua kali menderita limfoma Hodgkin.

Tetapi Toby Peach mengatakan ia tidak melakukan apa-apa. “Saya hanya duduk di sana, dan dipompa dengan obat-obatan, kemudian mengiyakan semua yang mereka katakan telah diberikan kepada saya.”

Angela Kearne, seorang konselor yang kehilangan ibunya karena meninggal akibat kanker, berkata bahwa banyak kliennya tidak melakukan pertempuran melawan kanker.

“Bahasa—‘korban dari, selamat dari, bertempur melawan’—bagi saya adalah bahasa yang bermasalah. Berbicara dengan klien, mereka berkata bahwa mereka tidak merasa seperti sedang berjuang,” kata Kearne.

Dan untuk sebagian orang, bahasa ini dapat mengakibatkan timbul perasaan akan gagal.

Seringkali, penderita kanker tidak merasa mereka adalah inspirasi—mereka bukanlah pelari maraton, misalnya. Banyak penderita kanker hanya ingin menjadi normal kembali,” kata Howells.

Setelah didiagnosis menderita kanker, salah satu hal yang paling sulit dihadapi penderita kanker adalah ketidakpastian.

“Kita cenderung hidup untuk masa depan, dengan harapan dan rencana kita, dan yang sangat sulit adalah kita ditempatkan dalam posisi di mana tidak dapat lagi merencanakan masa depan. Orang benci berada di dalam situasi yang tidak pasti dan tidak dapat dikendalikannya serta tanpa kemajuan,” kata Howells.

“Ada penumpukan emosi dan pikiran, yang wajar dialami manusia untuk menyesuaikan diri dengan sesuatu yang tidak dapat diubahnya.”

Dan akhir pengobatan yang sukses bukanlah akhir situasi yang tidak pasti dan tidak dapat dikendalikannya serta tanpa kemajuan, demikian kata Kearne.

“[Akhir pengobatan yang sukses] tidak membebaskan pikiran Anda. “Bagian penyesuaian adalah hidup berdampingan dengan ketakutan dan ketidakpastian, yang mungkin akan terulang kembali,” kata Kearne.

Bahkan ketika kanker tidak kambuh, penderita masih berurusan dengan dampak jangka panjang pengobatan.

“Penderita kanker harus hidup dengan dampak praktis, dampak emosional, dampak pengobatan, pengobatan jangka panjang, hidup dengan implikasi fisik jangka panjang dari pengobatan,” kata Howells.

Kanker juga menyebabkan transformatif permanen. Kanker dapat menjadi katalisator perubahan, menyebabkan orang mengevaluasi kembali apa yang penting dalam hidupnya atau bagaimana ia ingin hidup. Akibatnya, orang tersebut sering menemukan makna dan tujuan hidup yang lebih besar.

“Untuk beberapa orang dapat mengalami pertumbuhan pasca-trauma: ‘Saya tidak ingin seperti saya yang dulu, saya sungguh akan melakukan sesuatu yang penting. Bagaimana saya belajar untuk mengatakan tidak? Bagaimana saya belajar untuk menjaga tubuh saya daripada menganggap semuanya akan baik-baik saja? ‘ ” Howells menjelaskan.

Empat orang berbagi pengalaman

Callie Carling, 46 tahun

(Courtesy of Callie Carling)

Hal yang paling lucu adalah- saya pikir hal itu lucu sekarang, namun dulu saya tidak menganggapnya lucu—rekan saya dengan maksud baik mengatakan: “Tentu saja Anda adalah seorang Cancerian, karena ulang tahun di bulan Juli, dan sekarang menderita kanker, bagaimana Anda menanggapi lelucon tersebut? Andai saya punya alis saat itu, sudah pasti sudah berjatuhan, namun kemoterapi telah merontokkan semua alis saya.

Saya didiagnosis menderita kanker payudara pada bulan Mei 2011. Saya tidak ingat hari yang tepat; Saya tidak ingin mengingatnya. Ketika saya didiagnosis menderita kanker payudara, saya sangat terkejut karena saya masih begitu muda, namun saya merasa lega bahwa saya telah mendengarkan tubuh saya dan memiliki firasat apa yang salah.

Saya melakukan banyak pekerjaan pelayanan masyarakat dalam komunitas kanker. Sangat sedikit dukungan bagi penderita yang berjuang dengan emosi atau yang menderita masalah kesehatan mental.

Ketika radioterapi berakhir, saya masih ingat saya duduk di Carluccio di South Kensington sambil menyeruput cokelat panas, saya merasa mati rasa. Seluruh hidup berhenti selama sembilan bulan, setiap hari ditentukan oleh sesuatu yang berbau medis. Sekarang sudah bebas. Saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan, namun tubuh saya terlalu lelah untuk melakukan sesuatu.

Toby Peach, 27 tahun

Alasan mengapa saya menjauhi pembicaraan mengenai kanker sebagian karena alasan simpati. Saya sungguh tidak menginginkan simpati. Segera setelah Anda mengatakan Anda menderita kanker maka orang akan bertanya, “Apakah Anda baik-baik saja?” Jadi saya menyembunyikan bahwa saya menderita kanker, saya menyembunyikan bekas luka, saya hanya ingin menjadi Toby Peach. Saya butuh waktu lama untuk menyadari bahwa hal tersebut tidak mungkin, karena tidak dapat membebaskan diri dari hal tersebut.

Kenyataannya adalah jika saya ingin menyingkirkan bekas luka, maka saya harus menerima luka tersebut: “Bukan masalah bagaimana kita mendapatkan bekas luka, namun juga mengenai bagaimana kita hidup bersama luka tersebut melalui hari demi hari.”

Pertama kali saya didiagnosis menderita limfoma Hodgkin ketika saya masih berusia 19 tahun, dan kemudian saya kembali didiagnosis menderita limfoma Hodgkin di usia 21 tahun. Saya membekukan kenangan akan masa itu sejak lama. Saya tidak ingin membahas kenangan tersebut. Saya melakukan apa yang banyak penderita kanker yang berusia muda lakukan-saya mencoba hingga sukses.

Saya menyadari bahwa kenangan itu adalah bagian hidup saya, saya tidak dapat menyembunyikannya. Setelah tiga tahun tidak berbicara mengenai kenangan tersebut, sekarang dari atap rumah saya berteriak mengenai pengalaman saya, juga melalui teater pertunjukan saya “The Eulogy of Toby Peach.”

Andy Jackson, 32 tahun

(Courtesy of Andy Jackson)

Saya sungguh tidak memiliki kematangan emosi untuk menerima kenyataan ketika saya didiagnosis menderita leukemia mieloid kronis pada usia 18 tahun. Saya tidak tahu apa kanker darah itu, dan dalam beberapa jam, saya diminta menjawab pertanyaan hidup atau mati.

Perasaan yang luar biasa saat saya didiagnosis adalah rasa bersalah, karena tiga bulan sebelumnya ibu saya juga didiagnosis menderita kanker usus stadium terminal.

Saya sungguh takut mengenang masa lalu, namun saya tidak ingin membuat ibu saya menjadi khawatir atau marah, jadi saya berusaha kuat supaya sembuh dari kanker.

Selama perawatan, Anda ingin tahu apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu diri Anda sendiri. Namun, Anda merasa tak berdaya dan tak dapat mengendalikan situasi.

Setelah itu, saya bertekad untuk melakukan sesuatu. Itu sebabnya saya menggalang dana dan memberi dukungan pada penderita kanker dan membuka jalan bagi penderita kanker untuk mendapat informasi yang dibutuhkannya supaya sembuh dari kanker darah yang dideritanya.

Tentu Anda tidak ingin berada di kelompok penderita kanker, tetapi dukungan masyarakat muncul dari situ, yang dapat menjadi hal yang sangat positif.

Kewcha Ambrose, 36 tahun

(Courtesy of Kewcha Ambrose)

Dokter mengatakan, “Apakah Anda ingin saya memberitahu Anda sekarang, atau Anda ingin saya sampai kan agar ibu Anda datang untuk memberitahukannya?” Ibu saya datang beberapa saat kemudian dan saya hanya menangis dan bahkan dokter belum mengatakan apa-apa.

Saya merasakan ada sesuatu yang serius dengan penyakit saya, meskipun sama sekali tidak terlintas di dalam pikiran saya menderita kanker, hingga dokter menjatuhkan vonis kanker kepada saya dan vonis tersebut sungguh menghancurkan saya. Saat itu saya berusia 26 tahun dan saya menyamakan kanker dengan sekarat.

Setelah pengobatan saya berakhir, saya rindu pergi ke rumah sakit untuk melihat orang yang biasa saya temui. Sungguh aneh bukan. Ini diakibatkan karena pengobatan kanker telah memakan waktu yang lama.

Saya tidak ingin menderita kanker lagi; Namun, kanker membuat saya mengevaluasi kembali apa arti hidup dan apa yang penting dari hidup itu. Itulah salah satu hal yang membuat saya berubah, sekarang saya lebih sadar untuk bersyukur daripada mengeluh.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular