- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Panglima TNI Kembali Ingatkan Ancaman Proxy War

JAKARTA – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kembali mengingatkan adanya keterlibatan dengan mengambil untung oleh pihak ketiga pada potensi-potensi konflik yang terjadi di Indonesia. Bahkan pada ujung-ujungnya  proxy war atau perang proksi ini akan menyebabkan terbelahnya NKRI.

“Kita adalah bangsa patriot, cegah provokasi, adu domba dan hasutan dalam rakyat, kita harus berjuang untuk saling gotong royong, kalau tidak seperti Arab Spring,”  kata Jenderal Gatot dinobatkan sebagai pembicara utama pada diskusi Koordinator Nasional Forum Komunikasi Alumni-Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal-IMM) di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu (28/12/2016).

Pada kesempatan itu, Panglima mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk saling bahu membahu bersama-sama. Gatot menuturkan indikasi adanya potensi perpecahan sudah terlihat pada kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Oleh karena itu, Gatot mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk waspada agar NKRI tak terpecah belah. Gatot menegaskan agar bangsa Indonesia terus membangun bangsanya sendiri dan pemuda memiliki tanggungjawab untuk memajukan Indonesia.

Apa yang disampaikan Jenderal Gatot tentang ancaman Proxy War sebagaimana disampaikannya pada sejumlah forum-forum lainnya. Mantan KASAD TNI mengingatkan bahwa potensi konflik akan mengarah kepada perebutan energi. Bahkan berbagai konflik yang terjadi di dunia lebih dari 70 persen disebabkan adanya perebutan energi.

Gatot mengungkapkan banyak teori tentang adanya ancaman krisis pangan dan energi dengan semakin bertambahan populasi penduduk di dunia termasuk Teori Malthus 1798 yang kemudian didukung pakar statistik Laurence Smith. Oleh karena itu, potensi konflik perebutan energi berangkat dari pada titik krisis dunia.

Menurut Gatot sebagaimana maraknya konflik di Jazirah Arab, perang antar sekte, aliran dan bangsa ditenggarai sebagai kepanjangan tangan kekuatan dunia dalam rangka perebutan kepentingan di jazirah Arab.

Soal kasus demo tuntutan untuk penjarakan Ahok, Panglima mencurigai kasus ini melebar luas pada nantinya. Panglima menilai adanya rancangan luar biasa dari luar, bahkan tuntutan ini pada akhirnya akan bergeser dengan isu penjarakan pelindung Ahok yakni Presiden Joko Widodo. Sehingga rakyat Indonesia akan terus  diramaikan dengan pertentangan dan perselisihan.

Panglima juga mengungkapkan tentang eskalasi ketegangan di Laut China Selatan yang turut melibatkan sejumlah negara di ASEAN. Termasuk keberadaan Pangkalan Marinir Amerika Serikat di Darwin, Australia untuk penyeimbang hegemoni Tiongkok di Asia. Lebih jauh Panglima menuturkan  nantinya berbagai fakta-fakta yang terjadi diindikasikan bahwa perebutan kepentingan dunia akan tertuju pada penguasaan pangan dan energi.

Berdasarkan kajian akademis 25 Universitas di Indonesia, Lembaga Ketahanan Nasional RI, dan lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan TNI, Jenderal Gatot berargumentasi bahwa proxy war dapat dilakukan di Indonesia dengan melakukan investasi besar-besaran ke Indonesia agar dapat mengeksploitasi dan menguasai sumber daya alam.

Bahkan proxy war bisa dilakukan dengan membuat pakta-pakta perdagangan guna menekan produk Indonesia melalui jalur diplomasi, aliansi dan intervensi  serta menjadikan Indonesia sebagai pasar untuk menjual produk-produk asing. Tak hanya itu menguasai media serta pembentukan opini juga sebagai salah satu cara.

Panglima TNI mencontohkan tentang keberhasilan Proxy War dimana musuh tak terlihat, berbagai macam bentuk mulai gerakan separatis, demonstrasi massa dan berbagai bentuk kegiatan seperti kasus Timor Leste dinilai bertujuan eksplorasi minyak di Celah Timor. Bahkan maraknya narkoba dicurigai sebagai bentuk merusak generasi muda agar Indonesia tak memiliki generasi berkualitas tinggi. (asr)