Oleh: Chen Pokong

Sampai sekarang, dan kali ini, menjelang mundurnya Obama dan menjabatnya Trump, pada Kamis (15/12/2016) lalu, di depan mata para awak kapal Amerika, Angkatan Laut PKT telah merampas UUV yang sedang berusaha diangkat oleh awak kapal AS tersebut.

Membandingkan kejadian ini dengan peristiwa tabrakan pesawat pada 2001 dan peristiwa kapal “Flawless”, kasus drone bawah air kali ini baik dari lokasi, waktu, dan cara beraksi, terdapat banyak perbedaan.

Lokasi tabrakan pesawat 2001 dan peristiwa kapal “Flawless” 2009, keduanya terjadi di ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif) milik RRT, pihak RRT sempat membela diri atas tindakannya tersebut dengan mengacu pada “Kesepakatan Wilayah Laut Internasional”.

Tapi kali ini peristiwa tersebut terjadi 50 mil dari Teluk Subic, Filipina, bukan di Zona Ekonomi Ekslusif milik RRT, melainkan pada ZEE milik Filipina. Waktu, dua kejadian terdahulu terjadi di awal masa jabatan presiden baru, sedangkan kali ini terjadi menjelang menjabatnya presiden baru.

Seperti telah disebutkan, kejadian ini tidak hanya menjadi acara “kado perpisahan” bagi Presiden Obama yang akan segera mundur, tapi sekailgus juga sebagai “gertakan” bagi Presiden Trump yang akan segera menjabat.

Yang diperhitungkan oleh Beijing adalah, karena pernah berhubungan via telepon dengan Presiden Taiwan dan karena Trump telah meragukan kebijakan “Satu Tiongkok”, maka Beijing merasa perlu untuk melakukan pembalasan, sebagai peringatan bagi Trump.

Merampas UUV milik Amerika adalah satu drama menegangkan yang telah direncanakan secara seksama oleh Beijing. Tujuannya untuk menakut-nakuti Trump. Jika dikatakan Trump hanya gembar gembor, Beijing sudah mengambil tindakan, sebelum Trump sempat mengambil tindakan.  Termasuk mengirim jet tempur unjuk gigi dengan ‘terbang mengitari Taiwan’.

Dipilihnya momentum sebelum Trump menjabat, maksud Beijing adalah, AS dalam menghadapi kejadian seperti ini, kejadian ini tetap akan menjadi tanggung jawab Presiden Obama. Sikap Obama yang telah dipahami Beijing, ditambah lagi dengan segera berakhirnya masa jabatannya, Obama pasti akan diam saja menelan amarahnya, menghindari pergolakan, serta sebisa mungkin mengatasinya secara low profile, agar tidak menimbulkan konflik besar.

Jika Trump yang akan menyelesaikan hal ini, akibatnya akan sulit diprediksi, kelancangan Beijing ini mungkin saja akan berakibat fatal, atau sulit untuk diselesaikan.

Cara beraksi: pada 2001, jet tempur PKT mendekati pesawat lacak AS dengan manuver akrobatik yang bersifat memprovokasi, “teknik manuver tingkat tinggi” pilot PKT yang sembrono itu mengakibatkan tabrakan. Pesawat PKT jatuh dan pilotnya tewas.

Pada 2009 kapal PKT mengepung dan menghalangi kapal “Flawless” milik AS, niatnya menakut-nakuti, lalu “Flawless” dibiarkan pergi. Kali ini, AL PKT beraksi lebih dulu, di perairan Filipina, di hadapan para awak kapal Amerika secara terang-terangan merampas UUV milik AS.

Jika dijelaskan dengan “Kesepakatan Wilayah Laut Internasional”, maka PKT telah melanggar hukum. Dan akan saling bertentangan dengan pernyataan yang diungkapkan sebelumnya. Apalagi merampas hak milik negara lain bisa menjadi kejahatan yang dikenakan pasal berlapis.Intensitas provokasi PKT telah merajalela.

Menganalisa kelemahan Obama, selain ideologinya yang berhaluan kiri, juga akibat terkekang penghargaan Nobel perdamaian yang diraihnya tak lama setelah menjabat, daripada disebut sebagai aura damai, lebih tepat jika dikatakan sebagai belenggu. Membuat Obama ragu-ragu dan sulit mengambil tindakan bilamana terjadi provokasi dari luar.

Lemahnya sikap Obama terhadap PKT mungkinkah juga berkaitan dengan adiknya yang berbisnis di RRT dan menikahi seorang wanita RRT?

Belum bisa dipastikan. Mark Obama Ndesandjo pergi ke Shenzhen, RRT setelah peristiwa teroris 9/11, nyaris tidak ada berita tentang dirinya, ketika kakaknya Barrack Obama menjadi presiden AS, sang adik mendadak terkenal di RRT, dan bisnisnya menuai sukses luar biasa. Dengan kemampuan mengendus dan intelijensi politik PKT, tak mungkin tidak “memperhatikan” adik Obama.

Beijing menyatakan akan mengembalikan drone bawah laut ini, tapi sebelum dikembalikan, pasti teknologi rahasia di dalam UUV ini akan dicuri terlebih dahulu, dan dalam perundingan, pemerintah Obama pasti akan dipaksa mengalah: yakni mengurangi bahkan menghentikan segala aktivitas investigasi Amerika di Laut Selatan.

Ketika Trump mengatakan “Kita tidak mau mereka mengembalikan UUV yang dicuri itu, biarkan mereka ambil saja!” maka PKT berteriak Trump “menuangkan minyak ke bara api” (surat kabar ‘Global Post’).

Kekhawatiran yang terefleksi pada media corong PKT itu adalah, jika AS benar-benar tidak menginginkan UUV ini, maka PKT tidak hanya kehilangan kartu as-nya, bahkan mungkin akan menuai pembalasan yang tak terbayangkan.

Sejak awal telah dijabarkan, PKT dengan niat jahat dan muka tebalnya terbiasa dengan menciptakan masalah dan suka menjebak lawannya untuk “menyelesaikan masalah”, dan memanfaatkan kesempatan itu untuk memeras. Penipuan dan pemerasan seperti ini persis seperti yang dilakukan oleh bapak dan anaknya yakni Kim Jong-Il dan Kim Jong-Un dari rezim Korea Utara.

PKT merampas drone laut milik Amerika, media massa Jerman menyebut Beijing “untuk kali pertama memainkan peran pihak yang kuat”. Benar, Beijing terlihat kuat dan arogan. Sebaliknya, Obama terlihat lemah dan tak berguna.

PKT sangat paham, AS adalah sebuah negara yang beradab, yang tidak semudah itu berang dan mengerahkan kekuatan militer, dan akan selalu bersabar. Walaupun emosinya meledak sekalipun, AS akan memberi peringatan terlebih dahulu, terutama saat Obama memerintah. Seandainya menghadapi Korea Utara atau Rusia, maka PKT tidak akan berani menempuh risiko ini, salah-salah sebuah bom nuklir dari pihak lawan akan didaratkan di RRT.

Penulis mengharapkan, Presiden Trump dan tim pemerintahannya akan dapat memahami prinsip “kuat dan lemah” dalam hal ini, dan bisa memahami karakter dasar Beijing yang hanya keras di permukaan tapi sejatinya lembek. Hanya seperti macan kertas, suka menekan yang lemah dan takut pada yang kuat.

Pada saat diperlukan, serang secara mendadak disaat PKT lengah, dan langsung menohok ke titik kelemahannya tanpa ampun. Mutlak tidak bisa bersikap seperti Obama, bergaya kutu buku dan terlalu banyak pertimbangan, khawatir segala aspek. Justru disaat butuh ketegasan malah ragu kekacauanlah yang didapat. (sud/whs/rmat)

SELESAI

Share

Video Popular