Jika Anda sudah mengikuti berita, Anda mungkin sudah mendengar istilah “disinformasi” digunakan beberapa kali baru-baru ini, apakah itu klaim disinformasi saat menggoyang pemilu, atau klaim-klaim yang mengklaim disinformasi itu sendiri sebagai disinformasi.

Sayangnya, strategi itu sekarang akhirnya mendapat perhatian, banyak outlet berita telah menyalahgunakan istilah itu, dan bahkan membingungkan maknanya dalam penggunaan “disinformasi” dan “misinformasi” secara bergantian.

Misinformasi adalah pernyataan dari informasi yang tidak benar, dan bisa apa saja dari kesalahan sederhana sampai kebohongan yang dirilis oleh outlet berita yang dikelola negara. Disinformasi adalah sesuatu yang jauh lebih licik.

Tujuan dari disinformasi adalah untuk memproduksi persepsi yang salah, sering dengan menciptakan insiden yang dipentaskan, dan menggunakan ini sebagai dasar untuk apa yang tampak sebagai argumen yang valid. Agar supaya dipublikasikan melalui sumber-sumber yang dikelola negara, tujuannya adalah untuk menyebarkan disinformasi melalui outlet berita yang kredibel di negara-negara yang ditargetkan. Setelah outlet-outlet menyiarkan cerita tersebut, para antagonis bisa mengutipnya untuk membuat pernyataan-pernyataan publik, dan pernyataan-pernyataan ini kemungkinan akan menerima liputan berita lebih banyak, yang berfungsi untuk memvalidasi argumen tersebut.

Akhirnya, disinformasi menemukan kehidupannya sendiri, dan setiap cerita tambahan berfungsi untuk mengubur kebohongan lebih dalam di bawah tabir kebenaran yang dipersepsikan.

Pemerintah AS akhirnya mulai berdiri melawan penyebaran disinformasi, dan Dewan baru-baru ini telah mensahkan RUU yang akan mencoba untuk melawan itu. RUU ini menangani banyak akar disinformasi, termasuk kelompok depan, agen-agen berpengaruh, pembunuhan, tindakan teroris, kontra intelijen yang bersifat menyerang atau menghina, dan manipulasi media.

Pengaturan waktu, bagaimanapun, tidak mungkin lebih buruk. RUU ini sering terlihat melalui lensa kontroversi akhir-akhir ini lewat “hacker-hacker Rusia” dan “berita-berita palsu.” Ini adalah saatnya ketika kepentingan politik mencoba untuk mengaburkan arti dasar dari disinformasi, yang ironisnya untuk digunakan sebagai disinformasi.

Sehubungan dengan hal ini, akan lebih bermanfaat untuk melihat secara jelas disinformasi itu sebenarnya apa, cara kerjanya, apa kerusakan yang telah disebabkan selama abad terakhir, dan dunia nyata seperti apa yang mempergunakannya hari ini.

markas KGB
Bangunan utama Dinas Keamanan Federal Rusia, bekas markas KGB, di Lubyanka Square, Moskow, Rusia, pada 27 Januari 2015. (AP Photo/Pavel Golovkin)

Sejarah Tipu Muslihat

Disinformasi berakar pada tsar Rusia tetapi banyak digunakan oleh Uni Soviet. Ini menyatu dengan baik pada ideologi komunis tentang penyamaran strategi. Mendekati awal Perang Dingin, Aleksandr Michael Sakharovsky, mantan jenderal Soviet dan kepala cabang intelijen asing KGB tahun 1955-1970, melihatnya sebagai senjata untuk sebuah perang jenis baru.

Ia mempertimbangkan kemungkinan Perang Dunia III sebagai “perang tanpa senjata, sebuah perang blok Soviet akan menang tanpa menembakkan satu peluru. Itu adalah perang pemikiran. Itu adalah perang intelijen, dilancarkan dengan senjata baru yang penuh dengan kekuatan yang  disebut dezinformatsiya,” rumusan buku berjudul “Disinformation”  tulisan bersama pejabat Soviet tertinggi yang membelot ke Barat, Ion Mihai Pacepa, merupakan jendral bintang tiga di Rumanian Securitate, pasukan keamanan internal Rumania, didirikan pada tahun 1948 dan secara resmi dibubarkan selama revolusi pada Desember 1989.

Tugas dezinformatsiya, atau “disinformasi” dalam tulisannya, “adalah untuk menyebarkan informasi yang bersifat menghina atau merugikan orang lain, yang dipercaya, sedemikian rupa sehingga fitnah tersebut akan meyakinkan masyarakat luas bahwa target benar-benar jahat.”

Tipu muslihat tersebut menggunakan informasi yang salah beberapa langkah lebih jauh. Dengan menambahkan persyaratan yang dibutuhkan “disinformasi” perlu menyebarkan melalui “sumber-sumber Barat yang dihormati dan terkemuka ” dan mempunyai beberapa “intisari kebenaran,” pernyataan itu mungkin muncul sebagian benar, sehingga menyebabkan orang lain untuk mengakhiri penyelidikan itu. Kadang-kadang juga akan memanfaatkan “agen dari simpatisan kiri” untuk membantu mempublikasikan cerita-cerita yang dibuat-buat tersebut.

Salah satu bagian yang paling merusak dari disinformasi adalah ” The Protocols of the Elders of Zion”. Dokumen tersebut  diklaim menjadi transkrip pertemuan para pemimpin Yahudi untuk mendapatkan kontrol atas media dan ekonomi global. Diterbitkan di Rusia pada tahun 1903 dan merupakan sebuah pemalsuan diambil dari sindiran politik dan novel yang ditulis beberapa dekade sebelumnya.

Esensi kebenaran “Protokol” tersebut bergantung pada kepercayaan penuh atas eksistensi anti semitisme dan keberhasilan komersial beberapa orang Yahudi. Anti semitisme adalah suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk-bentuk penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap individu hingga lembaga.

Adolf Hitler telah menggunakan “Protokol” tersebut sebagai salah satu alat politik utama untuk mengubah manusia menentang Yahudi, menggunakan disinformasi khusus untuk secara strategis mengubah persepsi publik tentang seorang individu atau kelompok yang ditargetkan, yang dikenal sebagai “pembingkaian”.

Soviet telah menggunakan “Protokol” dengan cara yang sama baik secara internal, terutama untuk membersihkan lawan-lawan politik yang dapat diberi label sebagai “Zionis” dan juga menyatukan orang-orang di bawah kebencian terhadap musuhnya, dan menyebarluaskan untuk tujuan lainnya.

Pacepa merinci bagaimana pemimpin Soviet menyebar “Protokol” di dunia Arab, bersamaan dengan “pembingkaian” “Amerika Zionisme”. Salah satu tokoh utama di balik dorongan ini adalah Yuri Andropov, mantan sekretaris jenderal Partai Komunis Uni Soviet.

Pacepa mencatat, “Pada 1972, mesin disinformasi Andropov bekerja sepanjang waktu untuk mempengaruhi dunia Islam bahwa Israel dan Amerika Serikat bermaksud untuk mengubah seluruh dunia menjadi wilayah kekuasaan Zionis.”

Tujuannya, Pacepa menulis, adalah untuk “mengobarkan kebutahurufan mereka, kaum tertindas mereka agar ‘terbakar’ menjadi sibuk. Andropov percaya bahwa melalui penggunaan disinformasi, “terorisme dan kekerasan terhadap Israel dan Amerika akan mengalir secara alami dari semangat anti Semit para Muslim.”

Laporan FBI terbuka untuk publik pada tahun 1986 menggambarkan kampanye sebagai “suksesi kegiatan hasutan dan propaganda yang terencana, terkonsentrasi dan terus-menerus, yang secara khusus dirancang dan diatur untuk mempengaruhi opini publik. Kampanye komunis bermaksud untuk membangkitkan, pengaruh, dan memobilisasi orang sebanyak mungkin untuk tujuan komunis lebih lanjut.”

Perang Persepsi

Disinformasi menciptakan landasan bagi perang psikologis, sebuah metode propaganda yang ditujukan untuk mengubah persepsi seseorang tentang realitas dan peristiwa. Seseorang yang telah menjadi korban kampanye perang psikologis tanpa disadari akan melihat peristiwa melalui lensa yang dirancang oleh si penyerang.

Perang psikologis cocok menjadi proses Soviet yang dikenal sebagai “demoralisasi,” dimana orang di negara-negara sasaran akan dibuat tanpa sadar membantu Soviet mencapai tujuan politik mereka.

Penggunaan taktik ini tidak pernah berakhir dan dapat dilihat hari ini bahkan di buat lebih halus di bawah strategi “Tiga Perang” Partai Komunis China (Tiongkok), dimana Komisi Militer Pusat menyetujuinya pada tahun 2003 sebagai dasar untuk perang informasinya.

Tiga Perang termasuk perang psikologis, untuk mengubah cara musuh menafsirkan informasi; Perang hukum, untuk membuat atau memanipulasi hukum untuk membangun kebenaran yang dipersepsikan; dan perang media, untuk mempengaruhi atau mengendalikan cakupan berita.

Rezim Tiongkok menggunakan disinformasi di bawah Tiga Peperangan dalam skala besar, termasuk pengambilalihan dari Laut China Selatan, melanggar batas kontrol Hollywood, mendorong lebih luas dengan penyensoran negara pada “topik-topik sensitif,” dan ‘membingkai’ para pembangkang politik dan agama.

Di antara kampanye disinformasi yang lebih terkenal milik rezim Tiongkok adalah ‘pembingkaian’ terhadap Falun Gong, ilmu meditasi tenang dan damai yang pernah diperkirakan telah dipraktekkan oleh 100 juta orang Tiongkok. Pada 23 Januari 2001, lima orang yang diberitakan oleh negara tersebut sebagai praktisi Falun Gong yang telah melakukan bakar diri di Lapangan Tiananmen Beijing, dan para pemimpin Tiongkok menggunakan insiden tersebut untuk membenarkan penganiayaan mereka dalam situasi yang berbeda secara terselubung, yang telah diluncurkan dua tahun sebelumnya.

Insiden itu telah dibantah. Sebuah penyelidikan Washington Post menunjukkan pemberitaan itu telah meragukan individu tersebut adalah praktisi Falun Gong, dan sebuah dokumenter pemenang penghargaan, “Api Palsu”, menunjukkan beberapa anomali dalam video tersebut, seperti rekaman di mana seorang polisi terlihat memukul salah satu “immolator” (orang yang menawarkan diri sebagai bentuk pengorbanan dalam suatu tujuan khusus) di bagian kepala dengan tongkat pemukul karena asap berputar di sekitarnya. Namun, sebagai sebuah bukti tentang dampak tipuan disinformasi, outlet berita Barat dapat dilihat sedang mengulang ulasan negara Tiongkok tentang Falun Gong bahkan hingga hari ini.

Tentu saja, itu bukan hanya Tiongkok di mana disinformasi masih bergejolak. Di Rusia, kantor yang membidangi disinformasi adalah Badan Penelitian Internet.

Pada bulan September 2015, video yang menurut dugaan orang telah menunjukkan dua tentara Amerika sedang menembaki salinan Quran yang menyebabkan keributan di wilayah Muslim Rusia. Sebuah laporan investigasi BBC pada bulan Maret,  menemukan bahwa tidak hanya orang-orang tersebut sedang mengenakan seragam tiruan, tapi juga telah berhasil melacak video tersebut sampai ke sebuah tempat dekat Jalan Savushkina 55 di St. Petersburg, lokasi yang dikenal milik Badan Penelitian Internet Rusia.

Ada berbagai kegunaan disinformasi. Sebuah operasi “glasnost”, misalnya, sering digunakan untuk bedak wajah tirani para pemimpin, seperti penggambaran yang berlebihan tentang Che Guevara yang berkenaan dengan kekejaman atau foto milik Kim Jong Un Korea Utara sedang tersenyum di depan meja yang penuh dengan tumpukan makanan.

Argumen-argumen saat ini tentang penyusupan Rusia yang sedang membantu Trump tidak memiliki tanda-tanda baik disinformasi maupun misinformasi, atau setidaknya kampanye Clinton belum menunjukkan bukti bahwa email-email yang bocor itu menunjukkan informasi yang palsu.

Jika Rusia benar-benar mengganggu pemilu saat itu dengan cara ini, dan tanpa pemalsuan informasi, itu akan menjadi “Perang Politik,” dan bukan disinformasi. “Berita-berita palsu” juga akan menjadi misinformasi yang keliru, bukan disinformasi, dan sering kali tidak sulit untuk menghilangkan prasangka.

Tentu saja, ini bukan untuk mengecilkan kekhawatiran tentang dugaan intervensi asing dalam pemilu, melainkan untuk menjernihkan definisi dasar tentang disinformasi.

Jika kita lupa apa makna kata-kata, dan terutama jika mereka sedang melakukan kesalahan penafsiran untuk membuat argguman-argumen politik, akan mudah kehilangan kemampuan untuk mengenali istilah aslinya. Disinformasi termasuk di antara yang paling berbahaya dari semua senjata politik sejak pergantian abad ke-20, telah digunakan dalam Holocaust, dalam propaganda teroris, dan di hampir setiap kekejaman komunis.

Dan jika kita bahkan lupa makna dasar, itu akan membuatnya lebih mudah penggunaannya dalam kekejaman di masa depan. (ran)

Share

Video Popular