JAKARTA –  Entah mengapa sinopobia atau anti Tionghoa kembali mengemuka baru-baru ini dengan penyebaran yang secara massif di media sosial dan pesan berantai ini diforwad lalu diforwad terus menerus.

Semangat yang dikobarkan dari isu-isu tersebut adalah seakan-akan kaum Tionghoa bahkan Tiongkok akan merasuki bumi pertiwi Indonesia. Isu yang secara membabi-buta disebarkan ini  bak lantunan lagu diliputi kegalauan yakni “Luka lama berdarah kembali.”

Bahkan akibatnya, isu ini seakan-akan menggiring agar publik beropini bahwa tak ada tempat lagi bagi warga pribumi di tanah kelahirannya. Uniknya, isu ini menyebar bersamaan pencalonan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dan bukan sebagai Calon Presiden RI.

Kemunculan Sentimen

Survei Saiful Mujani Reseach and Consulting (SMRC) menilai survei sentimen anti Tionghoa yang berkembang dalam masyarakat hanya berada pada kisaran 0,8%. Jumlah ini selanjutnya menjadi stabil hingga pada kisaran waktu selama 15 tahun.

Lebih jauh survei SMRC berargumentasi bahwa sentimen ini berubah-ubah, hanya saja semangatnya tak berada pada tingkat massa tapi kelompok tertentu. Sehinga ditenggarai isu ini merupakan hasil kreasi untuk mencapai tujuan tertentu. “Itu diciptakan,” kata pendiri SMRC, Saiful Mujani dalam diskusi di Gedung YLBHI, Jakarta, Kamis (29/12/2016).

Secara terperinci, Saiful Mujani menuturkan bahwa maksud diciptakan adalah secara politik dan diharapkan memiliki dampak terhadap pemilih. Misalnya,  berdasrkan survei yang dikeluarkan oleh SMRC bahwa  sebelum Ahok menjadi calon, nyatanya serangkaian  survei untuk Jakarta menunjukan Ahok mendominasi dan mayoritas sebagai pemilih beragama Islam.

Lalu bagaimana ketika isu menistakan agama dilekatkan kepada Ahok? Saiful Mujani menuturkan  masyarakat yang sebelumnya memilih Ahok akhirnya menunda pilihannya hingga menjadi bimbang. Selanjutnya dalam jangka panjang para pemilih tersebut  meninggalkan Ahok. Oleh karena itu, kata Saiful,  isu yang dilekatkan kepada Ahok menunjukkan berdampak secara politik.

Saiful Mujani menuturkan isu yang dihembuskan diciptakan oleh para elit politik dengan membangkitkan sentimen anti Tionghoa. Jika kemudian pada akhirnya Ahok tak terpilih, maka akan kembali ke level terendah sehingga sangat fluktuatif. Bagi Saiful, sentimen anti Tionghoa hanya ada pada  momentum politik.

“Jika momentum politiknya selesai, akan kembali seperti semula tak ada lagi cerita dan tak menarik lagi,” ujar dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Sementara pendiri Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Ignatius Haryanto menyoroti isu kedatangan 10 juta pekerja asal Tiongkok ke Indonesia. Menurut Ignatius, isu yang beredar ini hanya sebuah hasil pelintiran 10 juta orang target wisatawan asal Tiongkok dari Kementerian Pariwisata RI.

Anti Tionghoa dalam Sejarah

Melihat artikel yang ditulis Epochtimes sebelumnya oleh Li Jing dengan judul Pemerintah RI Masih Mewaspadai Bahaya Laten Komunisme mengungkap secara mendetail sejarah panjang kelahiran munculnya sentimen anti Tionghoa. Pada tulisan ini, penulis mencoba memisahkan istilah antara masyarakat Tionghoa, Tiongkok dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Diawali dengan maraknya razia simbol-simbul komunis di Indonesia. Namun demikian, anehnya berita razia ini dikutip dan disiarkan ulang oleh berbagai media massa RRT. Ada netter Tiongkok menyatakan, “Jika paham komunis ibarat tikus got atau wabah dunia, maka hampir seluruh negara dunia akan menghindarinya. Dulu ketika terjadi kerusuhan rasialis anti-RRT di banyak negara Asia Tenggara sebenarnya adalah untuk menghancurkan partai komunis yang telah merasuk ke dalam negara tersebut hingga ke akar-akarnya, karena takut berubah menjadi komunis, partai komunis yang berbuat, etnis Tionghoa yang menanggung akibatnya.”

Ketika pada zamannya, jumlah anggota PKI menempati posisi ketiga di seluruh dunia. Saat itu Zhou Enlai yang menjabat sebagai Perdana Menteri PKT, pada 1965 menyatakan pada Uni Soviet dan negara komunis lainnya, “Di Asia Tenggara terdapat begitu banyak etnis Tionghoa, pemerintah komunis Tiongkok mampu mendoktrinkan paham komunis lewat para etnis Tionghoa tersebut, dan dalam satu malam saja Asia Tenggara akan berubah warna.”

Berbagai kalangan berpendapat, pernyataan inilah yang memicu Soeharto untuk melancarkan “kudeta” dan memvonis partai komunis sebagai organisasi terlarang. Akibatnya, sebagian komunitas etnis Tionghoa adalah partai/ kelompok afiliasi PKI maka tak ayal menyebabkan banyak etnis Tionghoa lainnya yang tak berdosa ikut menjadi korban pembantaian.

Pada 13-16 Mei 1998, peristiwa kerusuhan rasialis anti-Tionghoa kembali terjadi di Indonesia. Ribuan orang etnis Tionghoa tewas, puluhan orang luka-luka dan para wanitanya diperkosa serta mengalami pelecehan seksual. Toko-toko dan rumah-rumah orang Tionghoa dibakar menjadi arang dan abu. Waktu itu, seluruh dunia marah dan etnis Tionghoa di seluruh dunia mendidih serta menuntut pemerintah Tiongkok agar menyatakan sikap kecaman.

Pada saat itu, ternyata Jiang Zemin yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi PKT menurunkan instruksi rahasia: peristiwa kerusuhan di Indonesia adalah urusan dalam negeri Indonesia, terhadap peristiwa ini media massa RRT tidak boleh memberitakannya, dan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok tidak akan campur tangan. Seluruh media massa memblokir berita tersebut dan tidak diberitakan bagi rakyat Tiongkok pada waktu itu.

Jiang Zemin adalah sebagai  pelaku utama penindasan dan fitnahan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok mulai genosida hingga berupa pengambilan organ paksa secara hidup-hidup. Mantan pimpinan PKT itu, kini sedang menghadapi tuntutan massal dari rakyat Tiongkok agar diseret ke Pengadilan.

Ketika dilihat kembali pada puluhan tahun silam, Pol Pot sebagai anak ideologis Mao Zedong dengan Khmer Merah sejak 1975 sampai 1978, terdapat sebanyak 200.000 orang Tionghoa terbunuh.  Partai Komunis Kamboja yang membunuh ratusan ribu warga Tionghoa namun PKT tak keberatan. Pada waktu itu, orang Tionghoa Kamboja mendatangi Kedubes Tiongkok untuk meminta pertolongan tapi diabaikan. (asr)

Share

Video Popular