Oleh: Zeng Zheng

Presiden terpilih AS Donald Trump pada Rabu (21/12/2016) melemparkan lagi sebuah “kejutan besar” yakni memberikan tugas kepada penulis “Death by China” Peter Navarro profesor University of California di Irvine menjabat sebagai ketua Komite Perdagangan Internasional Negara yang baru didirikan Gedung Putih.

Dalam siaran pers, ia menyatakan bahwa beberapa tahun yang lalu ia telah membaca buku tentang masalah perdagangan Amerika Serikat karangan Peter. Argumennya sangat jelas dan penelitian yang komprehensif itu membuatnya kagum.

Penunjukan Navarro segera menimbulkan perhatian besar dari semua kalangan. Media resmi RRT pun mulai bersuara bahwa jika hendak memahami kebijakan Trump terhadap RRT maka harus membaca dulu buku Navarro.

Hal yang menarik adalah, 4 tahun yang lalu ketika NTDTV melaporkan tentang berita peluncuran film dokumenter ”Death by China” di New York, dengan menggunakan judul:  “Death by China” bakal mempengaruhi Pilpres AS?

Pemirsa optimis”, seolah sudah meramalkan hasil semacam itu di hari ini.

Dikatakan ‘ramalan’ sebenarnya sedikit berlebihan. Empat tahun yang lalu, perebutan suara antara Obama dan Romney masih berlangsung, namun laporan itu benar-benar dengan gamblang telah menyajikan konten utama dan pandangan dari film dokumenter “Death by China” ini, serta kekhawatiran dan introspeksi orang Amerika semacam Navarro terhadap kematian industry AS.

Pada akhir laporan itu reporter NTDTV mengutip kata-kata pakar masalah Tiongkok Gordon Chang, “Film ini memiliki kekuatan dikarenakan mampu mengubah jalur kebijakan AS terhadap Tiongkok.”

Mungkin empat tahun yang lalu, tidak banyak orang yang menganggap kata-kata ini terlalu serius, kini setelah 4 tahun berlalu, ia telah menjadi kenyataan. Jika mengatakan NTDTV memiliki ‘kejelian’, itu berasal dari menangkap realita yang tidak banyak diperhatikan orang pada saat itu, dan berani melaporkan berbagai topik “non-mainstream” dan berani mengekspos fakta yang tidak berani diungkap oleh orang lain.

Empat tahun yang lalu, penulis menonton film tersebut bareng dengan warga New York. Kesan yang sangat mendalam adalah kritikan tajam dalam film: Penindasan kejam tanpa ampun oleh Partai Komunis Tiongkok/PKT terhadap warganya sendiri; pemikiran mendalam terhadap ancaman potensial PKT setelah ia dibiarkan tumbuh besar oleh dunia, serta defisit perdagangan AS berdampak terwujudnya keadaan “amburadul” yang menyedihkan bagi dunia manufaktur AS.

Dalam film itu ditunjukkan banyak sekali pabrik yang berubah menjadi puing setelah berhenti beroperasi, juga wawancara dengan sejumlah buruh Amerika yang telah kehilangan pekerjaan mereka lantaran produksi pabrik dialihkan ke Tiongkok.

Jikalau keadaan sektor manufaktur AS benar-benar seperti yang ditunjukkan dalam film maka pembaca mungkin tidak sulit untuk memahami mengapa dalam pilpres kali ini ada begitu banyak warga AS yang “murka” yang lantas memberikan suara mereka kepada Trump.  Juga tidak sulit untuk memahami mengapa setiap kali Trump ke suatu tempat, ada ribuan warga AS secara antusias rela menjadi pendukung Trump.

Menurut kabar, penunjukan Navarro mengkhawatirkan banyak orang dengan alasan, “Apakah bisa meletus perang dagang antara RRT dan AS?”

Di banyak negeri maju, aturan main tertulis dengan jelas, asalkan tidak buta huruf, bisa mengerti aturan tertulisnya lalu melakukan sesuai  dengan aturan yang berlaku, seperti mengemudi tidak melanggar lampu merah, melaporkan pajak dengan benar dan membayar, tiada hal-hal lain yang perlu dikhawatirkan lagi, tidak ada aturan tersembunyi dan biaya siluman atau “biaya koneksi” yang sulit diprediksi, tidak peduli masyarakat umum atau pemilik berbagai jenis usaha, Anda bisa menjalani hidup dengan cukup nyaman.

Pada 2001, ketika penulis pertama kali ke Australia, berhubungan dengan seorang etnis Tionghoa yang tidak bisa kuliah karena kebijakan ‘naik gunung turun desa’ disaat Revolusi Kebudayaan, pada dasarnya sama sekali tidak paham bahasa Inggris.

Setelah dia tiba di Australia dengan visa turis, tinggal di rumah kerabat, tidak ada identitas resmi atau status sosial juga tidak mungkin mendapatkan manfaat dari Australia. Namun tidak lama kemudian dia bersumpah: Dalam kehidupan kali ini dia sendiri sudah tidak memiliki peluang, namun dia akan menghabiskan sisa waktunya dan tidak pedulikan berapa pengorbanan yang musti dikeluarkan, pasti akan membuat generasi berikutnya berimigrasi ke Australia!

Saat itu penulis merasa penasaran dan bertanya, “Mengapa tekad Anda begitu besar?”

“Karena di Australia, manusia diperlakukan layaknya manusia,” Tegasnya.

Kalimat ini sangat sederhana dan sangat nyata. Bukan sebuah alasan yang terlalu ideal, tapi telah membuat saya terkejut. Kemudian yang saya ketahui adalah, sekembalinya dia ke Tiongkok, dia lantas menjual rumahnya dan memaksa anak perempuannya yang nilai rapornya tidak begitu bagus agar mati-matian belajar bahasa Inggris.

Ia lalu mengirimkan putrinya untuk belajar di Australia dengan menggunakan uang hasil penjualan rumahnya. Dia sepenuhnya mendalami study di Australia dan kebijakan imigrasinya. Studi jurusan apa saja yang bisa dengan cepat mendapatkan identitas/ijin tinggal, kemudian dia memaksa putrinya belajar profesi keperawatan yang tidak disukainya.

Tidak memedulikan tangisan dan keluh kesah sang putri, namun pada akhirnya mereka benar-benar berhasil. Hari ini setelah berjuang keras 10 tahun lebih, putrinya sudah resmi menjadi warga negara Australia dan menggunakan uang gajinya mengurus dengan cepat visa imigran orang tuanya, juga membeli sebuah rumah yang sangat layak di daerah perumahan bagus di Melbourne. Bahkan sang kakek pun dijemput untuk tinggal di Australia. Jika diukur dengan uang, ‘investasi’ awal dengan menjual sebuah rumah di RRT, sama saja dengan mendapatkan keuntungan beberapa kali lipat.

Barangkali cerita ini agak melenceng jauh dengan ‘perang dagang’,  namun sebenarnya prinsipnya sama. Mengapa begitu banyak orang dari daratan Tiongkok ingin berimigrasi ke luar negeri dengan tidak mempedulikan segala pengorbanan?

Mengapa begitu banyak orang dari daratan Tiongkok ingin datang ke AS atau Eropa hanya untuk berbelanja sepuasnya?

Jikalau RRT juga memiliki sebuah lingkungan yang membuat orang ingin berimigrasi ke sana tanpa mempedulikan segala risiko dan RRT mampu menghasilkan produk-produk yang bisa membuat orang rela berebut, masihkah takut dengan perang dagang? (lin/whs/rmat)

Share

Video Popular