Oleh: Xu Ru

Jenazah tidak membusuk dan kultivasi diri ibu tua

Ayah Zhou Fengchen adalah seorang pejabat Dinasti Qing. Sejak kecil Zhou Fengchen taat menjalankan ajaran Buddha, di dalam mas kawinnya terdapat sebuah ceruk patung Buddha. Setelah menikah, dia setiap hari secara konsisten taat menjalankan ibadah agama Buddha. Pada usia 38 mulai menjadi vegetarian hingga hari kematiannya.

Zhou Fengchen dikenal sangat baik hati. Konon sejak kecil sudah berkaul untuk mengobati orang nantinya setelah menjadi dewasa. Meskipun tidak pernah mengikuti pelatihan medis, namun di kemudian hari dia benar-benar telah  mengobati orang di kampungnya, bahkan sering kali sangat mujarab.

Ia pernah menyembuhkan banyak penyakit rumit yang tidak dapat disembuhkan di rumah sakit. Terutama yang jarang dijumpai adalah, setelah dia berhasil menyembuhkan penyakit, belum pernah membicarakannya dengan keluarga, dan tidak pernah mengharapkan imbalan. Semua ini adalah yang dibicarakan sendiri oleh handai taulan di kampung, jika tidak demikian keluarganya juga tidak mengetahuinya.

Pada masa Revolusi Kebudayaan, Zhou Fengchen juga pernah digeledah rumahnya dan disita barang-barangnya, bahkan dilarang mengobati orang, namun dia masih bersikeras mengobati orang sakit, siang hari dilarang mengobati dia meminta pasiennya datang pada malam hari. Dia pernah berkata sekalipun seandainya pada keesokan hari dia meninggal, kalau ada yang sakit tetap akan mengobati.

Zhou Fengchen semasa hidupnya meninggalkan lima wejangan bagi anak cucunya.

  1. Sekalipun berjalan ke ujung langit mulut harus berbicara sesuai isi hati.
  2. Menghadapi masalah harus banyak memikirkan orang lain, jangan hanya memikirkan diri sendiri.
  3. Menerima budi setetes air hendaknya dibalas dengan sesumber air.
  4. Harta adalah benda-benda di luar tubuh, lahir tidak dapat dibawa datang mati juga tidak dapat dibawa pergi, terhadap pertapa yang meminta sedekah, permintaan sumbangan perbaikan tempat ibadah dan pengemis hendaknya diberi uang.
  5. Melakukan hal yang baik akan ada orang yang mengetahui, melakukan hal yang buruk juga akan ada orang yang mengetahui, hendaknya lebih banyak melakukan kebaikan dan mengurangi melakukan keburukan. Itulah prinsip-prinsip yang dipertahankan sepanjang hidupnya, yang mengungkapkan keyakinan teguh kepada sang Pencipta.

Zhou Fengchen pernah berkata pada Yang Xueqiang cucunya yang dulunya seorang atheis.

”Saya sekarang meski belum bisa meyakinkanmu, setidaknya telah memberimu suatu pemahaman. Sebenarnya, saya memejamkan mata masih dapat melihat dengan lebih jelas daripada kalian membuka mata!” Toh akhirnya fakta telah membuat Yang Xueqiang melepaskan atheismenya dan melangkahkan kaki di jalur agama Buddha.

Sesungguhnya, dalam sejarah Tiongkok, jenazah yang tidak membusuk atau disebut jasad bodhisatwa (sebutan di kalangan buddhis tentang jasad yang tidak hancur/membusuk) tidaklah jarang dan kebanyakan terjadi pada orang yang berkultivasi/bertapa. Misalnya di Jiu Huashan (gunung Jiu Hua).

Yang paling awal ditemukan dari dinasti Tang. Yaitu Jin Qiaojue kerabat dekat keluarga raja Silla yang lahir di negara Silla Gyerim (sekarang kota Kyung di Korea).

Pada usia 24 tahun ia menolak kemuliaan dan bertekad menjadi bhiksu. Ia membawa serta anjing putih (unicorn)-nya mengarungi lautan melintas ke barat dan memasuki wilayah negeri Tang (Tiongkok waktu itu) untuk menuntut ajaran Buddha.

Kemudian pada tahun 794 ia meninggal dunia ketika sedang  bertapa dalam gua. Tiga tahun kemudian para biarawan membuka penutup gua dengan takjub menemukan jenazah bhiksu Jin, “diluar dugaan keadaan wajahnya benar-benar sangat hidup, tangannya sangat lembut, sendi-sendinya masih luwes….”

Jelas, jenazah yang tidak membusuk ini justru dikarenakan sudah tidak adanya metabolisme, sehingga tidak binasa malah seolah menjadi abadi. Dalam buku Zhuan Falun karya master Li Hongzhi disebutkan, ketika materi dari tubuh sang pertapa/kultivator telah tergantikan oleh materi energi tinggi dari dimensi lain, maka tidak lagi terikat oleh ruang waktu dimensi fisik umat manusia berada ini, sehingga tidak akan membusuk dalam waktu lama. Itulah penyebab utama jenazah ibu tua Xianghe tidak membusuk selama 24 tahun.

Sebelum dan sesudah Xi Jinping mendorong kebebasan beragama pada Mei lalu, CCTV (TV nasional pusat) RRT dan stasiun TV Beijing telah menayangkan fenomena-fenomena ajaib seperti itu, tidak dapat dianggap sebagai  kebetulan saja. Sedangkan fenomena yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah termasuk fenomena jenazah tidak membusuk ibu tua Xianghe setelah 24 tahun. Mungkin dapat berdampak bagi warga RRT yang sudah sekian lama dicekoki ajaran atheisme, biarlah mereka secara serius berpikir, “Apakah sang Pencipta itu benar-benar ada?” (pur/whs/rmat)

SELESAI

 

Share

Video Popular