Wanita sering lebih baik melakukan tugas yang lebih banyak memuat unsur verbal. (Uber Images / Shutterstock)

Mengapa wanita lebih mudah mengerjakan berbagai tugas dan beralih dari tugas yang satu ke tugas yang lain dibandingkan dengan pria. Menurut peneliti dari HSE Neurolinguistics Laboratory, pria perlu memobilisasi area tambahan dari otaknya dan menggunakan lebih banyak energi dibandingkan dengan wanita ketika melakukan berbagai tugas.

Mengapa pria lebih sulit beralih tugas

Ketika diperlukan pengalihan perhatian antara tugas-tugas, maka akan menyebabkan aktivasi yang kuat di daerah otak tertentu pada pria dibandingkan dengan wanita.

Telah lama ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa wanita lebih mudah mengerjakan berbagai tugas dan beralih dari tugas yang satu ke tugas yang lain dibandingkan dengan pria. Tetapi mengidentifikasi dengan persis daerah mana dari otak pria dan wanita yang memberi respons yang berbeda dan mengapa hal itu terjadi sejauh ini belum diketahui dengan jelas.

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa tampaknya otak pria menggunakan lebih banyak energi ketika ia perlu mengalihkan perhatian. Selain itu, pada pria ada aktivitas yang lebih besar di daerah prefrontal dorsolateral otak dibandingkan dengan wanita, serta aktivasi di beberapa daerah lain yang biasanya tidak tampak pada wanita.

Perbedaan tersebut khas ditemukan pada pria dan wanita yang berusia 20 sampai 45 tahun, menurut temuan dari percobaan yang dilakukan oleh para peneliti Svetlana Kuptsova dan Maria Ivanova dari HSE Neurolinguistic Laboratory, ahli radiologi Alexey Petrushevsky dan Oksana Fedina dari Centre for Speech Pathology and Neurorehabilitation, dan Ludmila Zhavoronkova, seorang dokter biologi dan rekan peneliti senior dari RAS Institute of Higher Nervous Activity and Neurophysiology. Temuan penelitian ini telah diterbitkan dalam Human Physiology, sebuah jurnal internasional.

Percobaan tersebut melibatkan 140 relawan yang sehat, termasuk 69 pria dan 71 wanita yang berusia antara 20 tahun sampai 65 tahun. Relawan diminta untuk melakukan berbagai tugas. Dalam salah satu eksperimen yang menggunakan MRI fungsional, relawan diminta untuk melakukan uji yang memerlukan pengalihan perhatian yaitu memilah objek sesuai dengan bentuk (bulat atau persegi) dan nomor (satu atau dua), dalam urutan acak-palsu. Selain ini, dilakukan uji neuropsikologi, termasuk uji D-KEFS Trail Making untuk mengukur kemampuan relawan mengalihkan perhatian dan uji Wechsler Memory Scale untuk mengukur memori pendengaran dan penglihatan relawan.

Penggunaan MRI fungsional memungkinkan peneliti tidak hanya mengamati perilaku relawan, namun juga untuk melihat apa yang sedang terjadi di otak relawan pada saat ia beralih di antara tugas-tugas dan mendeteksi perbedaan aktivasi otak antara pria dan wanita.

Umur vs jenis kelamin

Peneliti menemukan bahwa perbedaan jenis kelamin dalam tingkat aktivasi otak bila beralih di antara tugas-tugas hanya terjadi pada relawan yang berusia antara 45 tahun sampai 50 tahun, sementara relawan yang berusia 50 tahun atau lebih tua tidak menunjukkan perbedaan jenis kelamin baik dalam aktivasi otak maupun kecepatan beralih tugas.

Menurut peneliti, pria yang berusia 45 tahun atau lebih tua dan wanita yang berusia 55 tahun atau lebih tua mengalami peningkatan aktivasi daerah utama di otak yang terlibat dan mobilisasi sumber daya tambahan otak.

Misteri otak

Penelitian ini sekali lagi menegaskan bahwa wanita muda cenderung lebih baik dalam mengatasi pengalihan perhatian dibandingkan dengan pria muda. Menurut Kuptsova, waktu reaksi terbukti berbeda, namun hal itu hampir tak terlihat dalam kehidupan sehari-hari, kecuali jika “hal itu akan membuat perbedaan pada keadaan benar-benar stres atau dalam situasi kritis yang sering membutuhkan pengalihan perhatian”.

Namun, ilmu pengetahuan saat ini tidak dapat menjelaskan alasan yang tepat untuk perbedaan ini. Asumsi mengapa alam mungkin membutuhkannya hanyalah spekulasi, Kuptsova berpendapat.

Sebagai contoh, ada sebuah hipotesis yang populer oleh psikolog Amerika bernama Jerre Levy yaitu mengapa pria cenderung memiliki keterampilan spasial yang lebih baik sementara wanita sering lebih baik pada tugas yang memuat unsur verbal. Menurut Levy, perbedaan ini disebabkan oleh faktor evolusi dan sosial. Pada zaman dahulu, pria menghabiskan waktu dengan berburu, yang memerlukan kemampuan spasial yang baik, sementara wanita bertugas merawat anak-anak yang membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik. Dalam perjalanan evolusi, keterampilan bertahan hidup ini telah diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kita dapat melanjutkan logika yang sama dan menganggap bahwa urusan rumahtangga dan tugas merawat anak-anak secara historis menuntut wanita untuk melakukan berbagai tugas dengan baik, tetapi tidak ada bukti kuat yang mendukung teori ini,” Kuptsova menyimpulkan.(Epochtimes/Vivi)

Share

Video Popular