Kim Jong-un dalam pidato pembukaan 2017, Minggu (1/1/2017) menyebutkan bahwa uji coba peluncuran rudal balistik antar benua sudah memasuki tahap akhir.

Menurut BBC bahwa pengumuman Kim Jong-un itu dimaksudkan untuk didengar oleh 2 kelompok pemirsa yang tidak sama. Satu kelompok yakni rakyatnya di Korea Utara, dan kelompok lainnya adalah pemirsa internasional. Lebih spesifiknya yaitu Amerika Serikat.

Bagaimana pun juga, tujuan akhir dari Korut membangga-banggakan kemampuannya dalam mengembangkan senjata nuklir pasti disesuaikan dengan kehendak yang ingin mereka capai.

Selama tahun lalu, Pyongyang telah melakukan 2 kali uji coba senjata nuklir. Kim Jong-un juga menyebutkan bahwa Korut untuk pertama kalinya melakukan uji coba peledakan bom hidrogen dan berencana untuk mengembangkan sendiri program persenjataan.

Resolusi PBB menyerukan Korut agar segera menghentikan uji coba peledakan nuklir dan peluncuran rudal balistik antar benua.

Ahli dari luar memprediksikan, rencana tersebut besar kemungkinan dapat dicapai oleh Korut dalam waktu kurang dari 5 tahun.

Mantan diplomat Korut untuk Inggris Thae Yong-ho yang berhasil membelot ke Korea Selatan baru-baru ini mengatakan, dengan mempertimbangkan AS akan memasuki masa transisi presiden pada 2017 ini, Rezim Kim Jong-un memutuskan untuk mengejar waktu penyelesaian program pengembangan senjata nuklir sebelum 2017. Korut bermaksud untuk membuka forum dialog baru dengan pemerintah Korea Selatan dan AS setelah negaranya sudah tergolong salah satu negara di dunia yang memiliki senjata nuklir.

Thae Yong-ho juga menambahkan, sepanjang Kim Jong-un masih berkuasa, seberapa  banyak uang diberikan kepada Korut, USD 1 bahkan 10 triliun pun tak akan bisa mempengaruhi mereka untuk menghentikan program pengembangan senjata nuklir.

Reuters mengutip ucapan seorang pejabat militer AS mengatakan, meskipun Korut sudah berhasil dalam meminiaturisasi hulu ledak nuklir, tetapi  teknologi reentry yang dibutuhkan oleh rudal balistik antar benua masih belum terpecahkan sehingga mampu menghambat Korut dalam pengembangannya.

Sampai saat ini belum diketahui bagaimana presiden AS terpilih Trump dalam menangani situasi tersebut. Meskipun ia pernah mengatakan bahwa akan mendesak pemerintah Tiongkok untuk memberlakukan sanksi ekonomi kepada Korut. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular