Bagaimana alam semesta terbentuk? Dari mana manusia berasal? Apakah alam semesta memiliki batas?

Dengan memandang bintang-bintang yang bertebaran di langit, berapa banyak orang akan mempertanyakan hal itu kepada diri sendiri. Namun, ke mana untuk mencari jawaban dari topik yang dibicarakan manusia dari jaman ke jaman ini.

Kosmologi modern berkembang dari teori geosentris hingga heliosentris, dari teori Ledakan Dashyat (Big Bang) hingga meta-universum. Teori temuan baru menggeser pemahaman teori lama.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa alam semesta kita mungkin hanya merupakan salah satu dari alam semesta yang tak terhitung jumlahnya yang bergerak paralel dengan mereka. Dunia tiga dimensi yang kita kenal mungkin hanya sebuah khayalan belaka.

Masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang jangan-jangan sudah terbentuk dalam waktu bersamaan. Temuan-temuan ini bisa jadi membatalkan pemahaman lama kita tentang alam semesta. Mengapa intuisi manusia bisa menyimpang begitu jauh dari hal atau benda yang sudah tidak lagi asing bagi kita? Mungkin Anda akan bertanya seberapa besar kredibilitas dari penelitian yang telah dilakukan?

Mari kita tinjau bersama temuan terbaru berikut yang mungkin saja akan membukakan wawasan baru bagi Anda dalam mengenal lebih jauh tentang alam semesta ini.

1. Memahami pengertian ruang dimensi

Dalam kitab klasik Tiongkok burjudul ‘Qi Su Xun’ yang merupakan kumpulan tulisan dari para filsuf Tiongkok di daerah Huainan (+/- tahun 2 SM) tertera : 四方上下谓之宇,往古来今谓之宙 (dibaca: Sìfāng shàngxià wèi zhī yǔ, wǎng gǔlái jīn wèi zhī zhòu) yang artinya kedua sisi atas dan bawah serta keempat arah mata angin adalah yu yang merujuk pengertian ruang. Perjalanan dari dahulu hingga sekarang itu adalah zhou yang merujuk pengertian waktu.

Bangsa Tiongkok kuno memahami ‘yu’ sebagai ruang dimensi alam semesta yang amat sangat luas, dan ‘zhou’ sebagai waktu yang akan berjalan tanpa terputus. Namun dalam kosmologi modern, ‘yu’ dan ‘zhou’ lebih lazim dipahami sebagai sebuah istilah yang menunjuk semua ruang dan waktu di alam semesta.

Jika demikian, apa difinisi ruang  itu?

Pertanyaan yang tampaknya sederhana tetapi telah membingungkan para ilmuwan. Sesungguhnya ruang mengandung segala sesuatu, dan segala sesuatu di alam semesta semua memiliki ruang. Keluh ilmuwan, “Memang tidak mudah untuk dipahami.”

Fisikawan masa lalu mendefinisikan ruang sebagai tempat yang tidak berisi sesuatu atau kosong. Namun fisikawan ternama Newton medefinisikan ruang sebagai sebuah ‘panggung’ hampa, mutlak dan abadi yang dijadikan tempat untuk ‘pertunjukan’ dan pembaruan dari segala materi alam semesta ini.

‘Panggung’ dan ‘pertunjukan’ tidak akan saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam pikiran Newton, alam semesta ini bagaikan sebuah perangkat canggih yang beroperasi mengikuti sebuah pergerakan yang teratur. Seperti bumi mengitari matahari, bintang-bintang yang bertebaran di langit bergerak bagaikan roda-roda gigi dalam sebuah alat penunjuk waktu raksasa. Itulah pandangan Newton tentang ruang yang dianggap bersifat mekanis, ruang dan waktu masing-masing adalah 2 sistem absolut yang benar-benar independen.

Teori mekanika Newton telah secara akurat menggambarkan semua fenomena di sekeliling yang dapat langsung kita rasakan. Dari hal kecil seperti buah apel yang jatuh ke tanah sampai yang besar bumi bergerak dalam jalur orbitnya untuk mengitari matahari. Meskipun teorinya sudah diakui kebenarannya oleh para ilmuwan dunia sekarang, tetapi untuk verifikasinya itu berlangsung sampai menelan waktu satu abad.

Namun, pandangan ruang dimensi dari Albert Einstein lebih unik, ia menggambarkannya sebagai entitas mirip karpet karet yang dapat dilipat, dibengkokkan dan juga membuatnya bergetar. Alasan mengapa kita secara umum tidak menyadari keberadaan ruang, mungkin saja sama dengan halnya ikan yang tidak menyadari keberadaannya di air karena ia harus terus berada di dalam air.

Einstein menunjukkan bahwa ketika suatu objek sedang bergerak, ruang dan waktu dapat saling berinteraksi, saling menyesuaikan dengan caranya yang khas, bergerak menyatu dan membentuk konsep ruang dan waktu seperti yang kita pahami sekarang. Teori Einstein tentang ruang dan waktu yang dapat saling berintegrasi ini sempat mengejutkan komunitas ilmiah dunia yang kemudian secara fundamental berhasil menggeser pendekatan ‘Panggung dan pertunjukan’ Newton.

Inilah dasar teori relativitas khusus dan umum Albert Einstein. Relativitas khusus didasarkan pada asumsi kekonstanan kecepatan cahaya. Ini berarti bahwa kecepatan cahaya tidak berubah mengikuti gerakan relatif sumber cahaya dan pengamat kerangka acuan.

Einstein berpendirian bahwa kekonstanan dari kecepatan cahaya itu adalah akibat dari perubahan ruang dan waktu. Dengan meningkatnya kecepatan objek maka waktu akan memuai dan ruang akan menyusut, kualitas menjadi besar dan efek yang diperlihatkan juga semakin jelas.

Dalam penelitian lebih lanjut tentang gravitasi, Einstein menemukan bahwa keberadaan materi dalam semesta ini membuat ruang dan waktu kita tidak selalu berada dalam kondisi merata, ia bisa bergelombang, menjadi bengkok, dan pada saat meliuk itulah fenomena gravitasi terjadi.

Dengan kata lain, esensi dari gravitasi itu sebenarnya hanya  halusinasi belaka, tetapi meliuknya ruang dan waktu itu yang menjadi esensi sebenarnya. Bulan mengitari bumi bukan karena pengaruh kekuatan misterius dari bumi, tetapi pengaruh dari gerakan berkeluk-keluknya ruang dan waktu bumi.

Ruang dan waktu selain merupakan suatu kesatuan, ia juga bisa menjadi bengkok karena dipengaruhi oleh materi. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai teori yang berlawanan dengan intuisi manusia. (Zhengjian/Sinatra/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular