Oleh Zhengjian

Selain penelitiannya di bidang makroskopik telah menumbangkan pemahaman orang tentang konsep ruang dan waktu, di bidang mikroskopik juga telah menumbangkan pemahaman orang kebanyakan tentang konsep alam semesta.

Kita tahu, ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa atom adalah elemen dasar yang membentuk materi di alam ini. Bahkan dalam elemen mikroskopik seperti atom pun masih ada ruang yang sangat luas.

Dalam penelitian terhadap ruang untuk skala mikroskopik, para ilmuwan menemukan bahwa pada kekosongan skala mikro itu pun tidak terbukti non-materi atau kosong sama sekali. Dalam ruang yang digambarkan cukup kompleks itu, partikel-partikel bisa bebas bergerak, saling berbenturan dalam kondisi ketidakteraturan.

Partikel itu sama halnya seperti gelembung udara, akan muncul dan menghilang dalam sekejap. Kini, sudah semakin banyak ilmuwan menerima teori boson Higgs dan medan energi Higgs yang mengasumsikan ruang seperti halnya lautan dan berbagai partikel itu mengapung  dalam air laut tersebut.

Partikel-partikel itu akan memperoleh massa dengan cara melakukan gerakan di dalam laut. Makin besar upaya untuk bergerak maju, massa yang mereka peroleh akan semakin besar, tetapi hambatan yang diberikan oleh laut juga akan membesar pula. Meskipun teori medan energi Higgs belum sepenuhnya terbukti, namun eksperimen partikel Higgs sudah berhasil membuka jalan terobosan bagi pembuktian awal tentang kebenaran medan energi Higgs.

Dalam penelitian ilmu mekanika kuantum, para ilmuwan menemukan suatu fenomena interaksi aneh antar 2 partikel mikroskopik yang sampai sekarang belum mampu dijelaskan, yaitu 2 partikel mikroskopik berasal dari sumber yang sama ternyata memiliki suatu hubungan keterikatan sehingga akan saling mempengaruhi, berbelit tanpa mempedulikan seberapa jauh mereka dipisahkan, hubungan itu akan tetap mereka pertahankan.

Fenomena paling aneh yang terdapat dalam ilmu kuantum ini dikenal sebagai belitan kuantum (Quantum entanglement). Ilmuwan kini sudah mampu mengirim foton ke tempat yang sangat jauh dalam tempo yang sangat singkat dengan memanfaatkan belitan kuantum yang memiliki kelebihan berupa bebas batas jarak.

Ilmuwan bahkan berharap di masa mendatang manusia atau benda-benda lainnya pun bisa dipindahkan dalam waktu sangat singkat ke tempat yang sangat jauh dengan memanfaatkan belitan kuantum. Kemampuan super dalam menjelajah yang ditunjukkan belitan kuantum itu tampaknya melebihi kecepatan cahaya, dan memaksa manusia untuk meninggalkan konsep pemahamanan lama tentang ruang dan waktu. Hingga menjelang akhir hayat, Einstein belum bersedia menerima konsep pemikiran itu. Beberapa ilmuwan memberikan pendapat mereka bahwa hubungan antar belitan kuantum itu sesungguhnya merupakan cerminan dari munculnya hubungan kesadaran antar partikel-partikelnya.

Dalam penelitian terhadap seberapa besar tingkat penggembungan alam semesta kita ini, ilmuwan menemukan suatu bahan dasar lebih misterius yang mengisi ruang dimensi yang kita huni. Temuan ini sempat mengejutkan komunitas ilmiah. Ledakan Dahsyat (Big Bang) sampai sekarang masih dianggap sebagai teori yang masuk akal dan dianggap benar.

Teori Big Bang berpendapat bahwa sekitar 13.7 miliar tahun yang lalu, alam semesta kita ini mengalami sebuah ledakan super dasyat yang terjadi hanya dalam waktu kurang dari 1 detik. Ledakan membuat ruang di alam semesta itu menggembung tanpa batas dan terus berlangsung sampai sekarang. Selama beberapa dekade, kebanyakan ilmuwan setuju bahwa kecepatan penggembungan ruang menjadi lamban karena terkena pengaruh dari gerakan gravitasi.

Namun demikian, pemantauan yang saksama tidak membuktikan kebenaran pendapat itu. Pada kenyataannya, alam semesta kita ini terus menggembung dengan kecepatan yang justru lebih tinggi. Ini berarti bahwa ruang di alam semesta yang umumnya kita anggap kosong itu justru merupakan sumber kekuatan dari penggembungan yang terjadi.

Kini para ilmuwan sudah sepakat bahwa ada sesuatu substansi yang terus aktif mengisi ruang, dan menetralisir materi biasa dari gerakan gravitasi yang mempengaruhi ruang. Substansi itu juga yang membentuk galaksi dan meregangkan struktur dasar alam semesta ini. Penemuan substansi tersebut yang diberi nama “Energi Gelap’ kemudian berhasil mengubah pemahaman ilmuwan tentang alam semesta.

Alam semesta selain dipenuhi energi gelap, juga terdapat materi gelap di dalamnya. Fisikawan menemukan bahwa ‘isi alam semesta’ ini terdiri dari 5 % materi biasa, 25 % materi gelap dan 70 % energi gelap. Dengan kata lain, 95 % ‘isi alam semesta’ adalah materi dan energi yang disebut gelap karena ilmuwan pun belum mengetahui benda apa itu.

Segala peralatan canggih termasuk ilmu pengetahuan yang mempelajari mekanika kuantum, relativitas, fisika partikel, semua belum ada yang mampu memberikan jawaban tentang apa itu materi dan energi yang sampai saat ini masih dianggap gelap. Dengan kondisi seperti ini yang perlu kita sadari adalah bahwa pengetahuan kita tentang alam semesta ini hanya didasarkan pada pendalaman terhadap materi biasa yang hanya menyita 5 % dari total komposisinya. (Zhengjian/Sinatra/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular