Sebagai orant tua bagaimana mendidik dengan baik gadis remaja? Bagaimana agar dia memahami akan jerih payah orang tua ? Terkait masalah ini, jawaban yang seragam dari para orang tua yang berhasil mendidik anak perempuan itu sungguh mengejutkan yakni menjadi temannya anak.

Hanya dengan menjadikan anak (perempuan) Anda sebagai teman, dan asal tahu saja, gadis yang sensitif baru akan berbicara terbuka dengan Anda ; Hanya dengan berteman dengan putri Anda, dimana anak gadis yang memiliki banyak rahasia itu baru akan mengutarakan isi hatinya kepada Anda ; Hanya dengan berteman dengan putri Anda, baru bisa benar-benar merasuk ke dalam relung hatinya, berbagi suka dan dukanya. Sungguh menggelikan berbicara tentang pendidikan apa pun apabila anak-anak menolak menceritakan sukacita dan penderitaannya kepada orang tua, tidak bersedia berkata jujur dan bertemu dengan orang tua.

Seiring dengan semakin besarnya anak perempuan, dimana jika Anda sebagai orang tua masih saja mendidiknya dengan pendirian keras Anda, maka dipastikan anak itu akan “semakin sulit dididik”. Beda dengan pemberontakan/perlawanan anak laki-laki, anak perempuan itu akan menutup dunia batinnya bahkan menjadi depresi karena tidak mendapatkan pemahaman dan dukungan yang semestinya dari orang tua.

Jika orang tua mengambil sikap terbuka, memperlakukan anak perempuan layaknya seorang teman, maka situasinya akan jauh berbeda. Bagi seorang anak perempuan, “Klembutan dapat mengatasi kekerasan”, kata-kata yang lembut jauh lebih efektif daripada kekuatan tongkat (pukulan) itu pasti adalah kebenaran pendidikan yang tak terbantahkan.

Para pakar pendidikan pernah melakukan survey di sebuah sekolah, lebih dari 80% dari orang tua yang disurvei sangat percaya diri atas pendidikan yang mereka terapkan kepada anak-anaknya : Lebih memahami dengan kepribadian putrinya, menceritakan kepada orang tua ketika menemui hal yang tidak menyenangkan, tahu siapa saja teman baik putrinya, tahu buku yang disukai putrinya dan sebagainya. Tapi para pakar pendidikan mengatakan, bahwa sebagian besar orang tua mengira telah menyingkirkan sikapnya (wibawa) selaku orang tua, hubungan yang harmonis dengan anak, padahal justru tidak mendapatkan kepercayaan penuh dari anak-anaknya.

Seorang gadis kelas tiga SMU mengungkapkan suara hati anak-anak perempuan : “Meski ayah dan ibu kerap berbicara dengan saya, tetapi isi obrolannya hanya sebatas pada topik : ‘belajar yang rajin, pilih universitas yang baik’ dan semacamnya. Selain itu, saya tidak suka ayah/ibu selalu membanding-bandingkan saya dengan anak-anak lain, anak si anu berhasil diterima di universitas favorit, si anu anak yang rajin dan patuh dan sebagainya. Kepala saya langsung pusing begitu mendengar kata-kata seperti ini.”

Jika pada saat ngobrol, pembicaraan orang tua selalu diiringi dengan suatu kepentingan yang kuat, selalu membanding-bandingnkan anaknya dengan anak-anak yang lain, bukan saja tidak bermanfaat sedikitpun dalam meningkatkan performa akademiknya, tetapi juga secara serius menyakiti harga dirinya.

Kalau begitu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua agar bisa benar-benar merasuk ke dalam relung hati dan menjadi temannya ?

Membangun saluran komunikasi, memahami psikologis anak setiap saat

Berteman dengan anak (perempuan) sendiri, harus tahu tentang apa yang dia pikirkan. Tapi bagaimana secara tepat memahami psikologisnya ?

Untuk berteman dengan anak, maka kita harus selalu menjaga komunikasi dengan dia, jangan dikarenakan topik pembicaraannya tidak bisa Anda terima atau tidak dimengerti, lantas menolak berbicara dengannya atau menampik sesukanya. Hanya jika orang tua bisa dialog dengan putrinya dengan derajad yang sama, berbicara tentang apa pun, baru bisa benar-benar masuk ke dalam dunia batin anak, dan membimbing pemikiran mereka perlahan-lahan ke jalur yang benar.

Seorang ibu yang cerdas memiliki satu cara yang baik sebagai referensi : Suatu hari setelah makan malam, putri saya bertanya pada saya : “Bu, jika antara cinta dan karier hanya bisa memilih salah satunya, ibu pilih yang mana ?” Saya terkejut mendengarnya, bagaimana bisa seorang gadis 14 tahun menanyakan perihal orang dewasa! “Ibu pilih cinta, dengan adanya cinta baru akan ada rumah (keluarga) yang hangat, meski gagal dalam karier, tapi ada tempat untuk bernaung.”

Diluar dugaan sang gadis menjawab : “Saya pilih karier, kalau karier sudah berhasil, maka cinta akan datang dengan sendirinya.” Saya merenung sejenak lalu berkata : “Kegembiraan dari kesuksesan itu juga seharusnya ada orang yang menikmatinya kan.”

“Tapi cinta itu terlalu runyam, saya tidak suka laki-laki yang tidak berpendirian.”kata putri menampiknya.

Saya tahu hubungannya kadang-kadang dingin dan hangat dengan seorang anak pria, sehingga membuatnya gundah. Kemudian saya menggubah sebait lirik lagu cinta, “Cinta ini, datangnya terlalu cepat, membuatku gundah gulana, hatiku menjadi gelisah kenapa cinta belum datang jua, harap-harap cemas yang menggelisahkan!” Sang putri tampak tersenyum penuh arti mendengar lantunan lagu cinta yang saya gubah.

Ketika putri menanyakan masalah cinta, ibu akan memberikan pandangannya pada putri layaknya seorang sahabat karib, dan menyampaikan pandangan mereka dalam percakapan akhir. Bisa dibayangkan seorang ibu yang begitu arif bijaksana dan berpandangan maju ini tentu saja akan mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari sang putri.

Selain itu, sebagao orang tua sehari-hari juga seyogianya meluangkan waktunya walau hanya untuk sekadar ngobrol dengan anak-anak, tanyakan hal-hal yang terjadi di sekolah, hubungan interpersonal, pandangan terhadap hal ihwal dan sebagainya. Jika pada saat seperti ini sang putri menceritakan beberapa pandangan dan perasaannya pada Anda, misalnya ia tertarik dengan seorang siswa laki-laki, sebaiknya jangan menegurnya/memarahinya, tapi Anda harus berdiri di posisinya dan coba pahami dulu, kemudian Anda ceritakan pengalaman Anda kepadanya, bagaimana mengatasinya jika hal itu dialami sendiri olehnya. Dengan begitu, sang putri bisa merasakan rasa hormat dan kepercayaan dari Anda selaku orang tuanya, dan akan semakin mempercayai serta menjadikan Anda sebagai objek curhatnya. (Epochtimes/ Xiao Yun /Jhn)

Share

Video Popular