Penemuan bekas peninggalan manusia raksasa adalah salah satu prestasi arkeolog yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir ini. Sekaligus merupakan salah satu diantara sekian banyak situs kuno, namun, dianggap tidak penting oleh sarjana arus utama dan tidak layak diteliti lebih lanjut.

Orang-orang percaya bahwa temuan “Lost City Of Giant” (kota manusia raksasa yang hilang) di Ekuador, adalah salah satu temuan arkeolog yang paling penting abad ke-21. Namun, bukan hanya temuan yang luar biasa ini super penting, tapi sekaligus juga merupakan salah satu program yang ditiadakan dari sekian banyak studi arkelogi oleh para sarjana arus utama dunia.

Menurut legenda kuno Ekuador, ada manusia raksasa yang melanglang buana di atas bumi ketika itu, para manusia raksasa kala itu menciptakan kota yang terbuat dari batu raksasa, namun ribuan tahun kemudian lenyap ditelan oleh alam.

Pada artikel ini, kita akan membahas rincian terpenting di antara kota batu raksasa, melihat lebih seksama temuan situs yang menakjubkan ini.

Menurut legenda kuno Ekuador, para manusia raksasa kala itu menciptakan kota yang terbuat dari batu raksasa. Megalit (batu besar) yang terbentuk secara alami? (Internet)

Legenda itu nyata

Meskipun sebelum menemukan kota-kota kuno tersebut, tetapi banyak legenda setempat yang menyebutkan bahwa pada suatu periode, ada makhluk (manusia) raksasa yang menakjubkan tinggal di kawasan pinggiran Ekuador. Manusia-manusia raksasa ini menciptakan megalith raksasa, dan kota kuno ini hanyalah salah satu kawasan bangunan megalit.

Demi menemukan kota manusia raksasa yang hilang, sekelompok petualang dan masyarakat setempat yang lebih memahami kota kuno kemudian bersama-sama menelusuri peninggalan kuno itu, yakni kota yang benar-benar eksis ketika itu.

Sarjana arus utama: Situs itu terbentuk secara alami?

Penduduk asli memimpin tim ekspedisi tiba di situs yang mereka yakini sangat sakral itu. Suku-suku setempat berkumpul di kota bekas dihuni manusia raksasa ini untuk pertemuan-pertemuan diplomatis yang diyakini dihuni oleh roh-roh jahat. Konon katanya roh manusia raksasa masih menetap di dalam situs tersebut.

Menurut laporan, saat tim tiba di kota manusia raksasa yang hilang itu, mereka menemukan struktur yang terbuat dari batu raksasa. Struktur terbesar adalah piramida lancip yang tidak teratur dengan tinggi 260 kaki dan lebar 260 kaki.

Terbuat dari batuan bundar besar seberat lebih dari 2 ton. Banyak batuan yang tertata sejajar secara sempurna, memiliki sudut-sudut tajam dan kelihatannya bekas dipahat oleh tangan manusia. (Internet)

Orang-orang meyakini bahwa bangunnan berbentuk piramida besar itu dibangun dengan batuan besar seberat lebih dari dua ton.

Di ujung atas piramida adalah sebuah batu yang dipoles datar. Konon katanya itu adalah tribun yang digunakan untuk upacara dan persembahan. Benoit Duverneuil, arkeolog Amerika berkewarganegaraan Perancis  mengatakan, “Itu nampaknya seperti dinding batu, sebuah jalanan purbakala atau alun-alun dengan sudut kemiringan 60 derajat, mungkin atap dari bangunan yang lebih besar. Kebanyakan batu-batu ini disusun sejajar,  memiliki sudut-sudut tajam dan kelihatannya dipahat oleh tangan manusia.”

Para peneliti telah menemukan bahwa di antara blok-blok batu megalitik terdapat semacam bahan pengikat keras yang mirip semen, beton atau sejenis material yang membatu.

Sejumlah besar tembikar dan artefak-artefak batu membuktikan bahwa situs purbakala ini dulunya merupakan tempat tinggal makhluk-makhluk cerdas, makhluk-makhluk yang tanpa diragukan bukanlah manusia normal karena alat-alat batu yang amat sangat besar dan berat, yang hampir mustahil digunakan oleh manusia ukuran normal.

Peralatan yang aneh dan sangat besar. (Internet)

“Tidak ada keraguan sekarang bahwa apa yang kita lihat di sini adalah reruntuhan dari tempat tinggal manusia dari zaman yang sangat kuno, apa yang perlu kita lakukan sekarang adalah menguji sampel, menentukan penanggalan, dan penelitian oleh para ahli yang relevan. Apa yang saya lihat hari itu cukup untuk mengubah orang skeptis menjadi yakin. Blok-blok yang berbentuk segi empat sempurna, blok-blok bertingkat, permukaan batu yang halus, dua lapis permukaan batu dan bahkan anak-anak tangga yang dipotong masuk ke dalam batu,” kata penulis dan peneliti Bruce Fenton.

Artefak batu lain juga hadir, sebagian besar bagian dari objek yang lebih besar tetapi juga ada perkakas tangan kecil. Mungkin yang paling penting adalah penemuan sejenis semen mortar, seperti tanah liat waktu basah tapi berubah menjadi batu ketika kering. Kami juga menemukan sepotong kecil tembikar.

Para sarjana mainstream yakin bahwa kota itu tidak ada, dan menariknya, meskipun pada 2013 sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan, arkeolog, peneliti dan Kepolisian juga berkesimpulan bahwa situs ini hanyalah bentukan alam yang mewarnai bangunan, para sarjana arus utama ini menyimpulkan bahwa wujud piramida itu hanyalah pembentukan oleh alam, tidak lebih.

Namun Fenton dan rekan-rekannya bersikeras hal ini tidak mungkin, dan banyaknya ditemukan potongan tembikar dan perkakas batu adalah bukti utama yang membuktikan peneliti mainstream dan pemerintah telah keliru. Dan salah satu karya arkeolog yang paling sempurna membuktikan bahwa pada masa lalu, manusia raksasa pernah melanglang buana di atas bumi.

Karya batu yang akurat, pemasangan yang tepat dan kehadiran banyak lubang sirkular yang “dibor” pada batu tidak mungkin hasil dari bentukan alam, dan dengan demikian, penjelasan yang ditawarkan oleh pejabat pemerintah itu tidak masuk akal. (Secretchina/ Chen Gang/joni/rmat)

Share

Video Popular