Oleh Zhengjian

Ilmu Pengetahuan modern belum memahami bagaimana ruang dimensi berbeda dapat eksis bersamaan di tempat dan waktu yang sama, karakteristik mana saja yang merupakan karakteristik dari ruang dimensi itu sendiri. Karakteristik mana yang merupakan karakteristik dari ruang dimensi lain yang direfleksikan ke dalam karakteristik ruang dimensi kita, ilmu pengetahuan modern belum mampu untuk membedakan mereka. Tetapi menggunakan hasil pengamat dari hukum gerak dalam fisika untuk mengamati dan mempelajari ruang dimensi lain. Jadi jelas akan berbeda.

Misalnya, hasil pengamatan yang menunjukkan hampir berjarak nol di ruang dimensi kita ini, ternyata berjarak ribuan kilo meter di ruang dimensi lain. Begitu pula, jarak di ruang dimensi kita yang ribuan kilo meter, mungkin saja berjarak hampir 0 di ruang dimensi partikel yang lebih besar.

Jadi, bila kita sudah mampu memahami  ruang dimensi berbeda dapat secara bersamaan eksis di tempat dan waktu yang sama, serta mengenali perbedaan antara mereka, kita baru tidak   sulit dalam memahami sifat ketidakpastian yang terdapat dalam mekanika kuantum dan perlunya memanfaatkan pendekatan probabilitas.

Ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa laju cahaya memiliki kecepatan yang paling tinggi dan paling konstan dalam alam semesta kita. Namun sebenarnya tidak begitu.

“Einstein mengatakan kecepatan cahaya adalah kecepatan yang paling tinggi, saya beri tahu anda sekalian, pada satu tingkat yang sama kekuatan pikiran suatu kehidupan lebih cepat daripada kecepatan cahaya, lagi pula pada tingkat lebih tinggi yang melampaui tingkat manusia ini, berhubung perbedaan waktu, kecepatan yang paling lambat sekalipun juga akan lebih cepat daripada kecepatan tertinggi pada tingkat rendah. Kehidupan mempunyai tingkatan, pada tingkat berbeda terdapat pula waktu dan bentuk ruang yang berbeda, segala makhluk hidup dan materi juga dikekang oleh waktu dan ruang yang berbeda, tingkat makin tinggi kecepatannya makin pesat, dapat juga dikatakan yang paling lambat pada tingkat tinggi juga akan jauh lebih cepat dibandingkan kecepatan cahaya pada tingkat rendah yang dipahami manusia”. (Ceramah Fa pada Konferensi Fa di Houston, Li Hongzhi, 12 Oktober 1996).

“Sebenarnya, tidak terkendali oleh waktu adalah paling cepat, tetapi berbicara terhadap manusia, anda selama-lamanya juga tidak akan sungguh-sungguh memahami makna sejati perkataan ini. Menggunakan konsep anda, “dalam alam semesta, kecepatan apa yang tercepat,” semuanya adalah pikiran manusia, pemahaman manusia. Termasuk dimensi kita yang ada ini, waktunya juga tidak absolut. Anda sekalian tahu, saya dalam Zhuan Falun mengatakan, saya katakan melihat planet itu ada jarak 150.000 tahun cahaya jauhnya dari kita, sebenarnya saya juga hanya membicarakannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan modern sekarang yang manusia pahami, pada hakikatnya masih bukan begitu. Mengapa bukan seperti begitu? Anda sekalian pikirkan, dimensi berbeda eksis waktu berbeda, dalam lingkup bumi kita ada suatu medan waktu, segalanya terbatas dalam waktu lingkup ini. Saat satelit buatan manusia itu seketika melampaui atmosfir kita, ia lantas adalah waktu yang lain, mutlak bukan satu medan waktu dengan waktu bumi. Lalu saat melewati planet lain, masih ada lagi medan waktu planet tersebut. Badan langit makin menuju besar, selisih waktu dan kecepatannya makin besar”.

“Anda katakan hal yang terjadi dalam galaksi harus 150.000 tahun cahaya baru terlihat, sebetulnya saya beri tahu pada anda sekalian, mungkin saja 3 atau 2 tahun anda telah melihatnya. Mengapa? Karena kecepatan cahaya juga terkendali oleh medan waktu. Saat menembus medan waktu yang berbeda, kecepatan cahaya “shwa…, shwa…, shwa…,” lalu berubah menjadi sebentar cepat sebentar lambat, ketika mencapai bumi kita ini, juga menyesuaikan medan waktu bumi, lalu berubah menjadi sangat lambat. Anda menggunakan medan waktu yang manusia bumi pahami ini untuk mengukur waktu alam semesta, sama sekali tak terukur. Pemahaman manusia terhadap kebenaran, pemahaman terhadap materi, pemahaman terhadap jiwa, konsep terhadap alam semesta, pemahaman terhadap banyak benda semuanya tidak benar, termasuk perkembangan manusia kita”. (Ceramah Fa pada Konferensi Fa di Swiss, Li Hongzhi, 4 September 1998).

Ilmu pengetahuan empiris masih perlu menempuh jalan panjang untuk bisa mengamati secara langsung kinerja nyata dari sinar yang melintas di antara galaksi di jagad raya. Namun bagi mereka yang melakukan kultivasi dan memperoleh pencerahan, mereka mampu melihat kejadian itu. Karena melalui kenaikan tingkat proses dalam kultivasi, akan terbentuk mata dari tingkatan proses yang berbeda, sehingga makin tinggi tingkatan proses kultivasi seseorang akan makin banyak pula mata yang ia peroleh, dengan demikian ia  mampu melihat fenomena sebenarnya yang terjadi di sana. Inilah perbedaan paling menyolok bila dibandingkan dengan ilmu pengetahuan empiris. Sesungguhnya kultivasi adalah satu-satunya praktek untuk memahami alam semesta.

Apa yang menentukan tingkat kehidupan yang sedang kita bahas di sini? Falun Dafa memberitahu kepada kita bahwa alam semesta ini selain mengandung materi, ia juga memiliki karateristik yang berupa Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar). Karakteristik inilah yang menentukan, membatasi segala sesuatunya di alam semesta.

“Seperti yang saya katakan perihal alam semesta, ia punya eksistensi materinya, di samping itu punya eksistensi karakternya. Karakter alam semesta Zhen, Shan, Ren, manusia biasa tidak dapat merasakan eksistensinya, karena manusia biasa semua berada pada suatu bidang dari tingkat tersebut. Bila anda naik melampaui tingkat manusia biasa ini anda akan dapat menghayati. Bagaimana cara menghayatinya? Bahwa segala materi di dalam alam semesta ini, termasuk segala substansi yang memenuhi alam semesta ini semua adalah makhluk berakal dan memiliki pikiran, semua adalah bentuk manifestasi Fa alam semesta yang eksis pada tingkat berbeda”.
(Zhuan Falun. Li Hongzhi).

Karakteristik alam semesta menciptakan berbagai tingkat keberadaan lingkungan, cara hidup, dan yang membatasi segala sesuatunya yang berada dalam ruang pada tingkatan yang berbeda, termasuk ruang itu sendiri. Seberapa banyak seseorang mampu berbaur dengan Sejati, Baik, Sabar itulah yang menentukan tingkatan jiwa seseorang.

Untuk memahami karakteristik alam semesta yang Sejati, Baik, Sabar, ilmu empiris memiliki cacat bawaan karena harus menyentuh ke ranah spiritual dan moral yang memang tidak bisa diterima dan dikucilkannya. Namun, karakteristik tersebut justru berada dalam   segala materi mikroskopik dan makroskopik. (Zhengjian/Sinatra/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular