Oleh Zhou Xiaohui

Setelah Marxisme lahir di Barat, pengaruh besarnya yang paling nyata adalah pasca Revolusi Oktober di Rusia yang digerakkan oleh Vladimir Lenin.

Revolusi Oktober sukses, Rezim  Soviet dapat dibentuk. Namun gegara itu juga para intelektual Tiongkok yang juga ingin segera mengubah situasi  Tiongkok pada saat itu langsung bangkit dan  ‘menelan’ begitu saja seluruh ideologi komunisme, Marxisme bahkan digiring masuk ke Tiongkok.

Dalam rangka mempertahankan legitimasinya, Partai Komunis Tiongkok/PKT berupaya keras untuk mempromosikan ‘kehebatan’ Revolusi Oktober Rusia. Bahkan pernah suata masa ketika PKT masih bercokol di Yan’an, setiap tahunnya selalu memperingati hari keberhasilan  Revolusi Oktober yang kemudian dijadikan Hari Lahirnya Uni Soviet.

Partai Komunis Tiongkok juga merayakan sebagai hari partainya berdiri. Kemudian film berjudul ‘Lenin di bulan Oktober’,  ‘Lenin di tahun 1918’ dan film lainnya dimanfaatkan oleh para intelektual tersebut untuk mencuci otak dan mempengaruhi masyarakat Tiongkok.

Namun, dengan runtuhnya Uni Soviet, pembeberan fakta yang terjadi pada zaman Lenin dan Stalin, serta makin banyak kedok Karl Marx yang terkuak membuat PKT dalam posisi risih. Selain Revolusi Oktober itu sudah memalukan  karena tidak mampu membuat rakyat Uni Soviet sejahtera, malahan rakyat Uni Soviet yang kemudian memilih untuk meninggalkan partai dan ideologi komunis.

Banyak lelucon politik beredar di masa-masa menjelang runtuhnya Uni Soviet, ini salah satunya adalah, “Ivanovic, apakah Anda sering membaca Harian Pravda?”

“Tentu saja, kalau tidak bagaimana saya tahu kalau saya dalam kondisi bahagia?”

Setelah Uni Soviet runtuh, Rusia mulai merenungkan dan mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan perjalanan sejarah mereka. Nilai Revolusi Oktober di mata para sejarahwan Rusia sudah banyak berubah. Mereka lebih mengaku Revolusi Februari sebagai revolusi yang benar, sedangkan Revolusi Oktober itu lebih cenderung dikatakan sebagai upaya untuk mengambilalih kekuasaan atau menggulingkan pemerintahan yang sah.

Bahkan banyak orang Rusia telah menggolongkan para pemimpin yang terlibat dalam Revolusi Oktober itu sebagai teroris. Saat ini, pandangan itu sudah dituangkan dalam buku pelajaran sekolah anak-anak Rusia.

‘Kudeta’ menurut definisinya adalah mengambilalih pemerintahan dengan cara kekerasan yang tidak dapat dibenarkan. Lalu bagaimana kejadian sesungguhnya?

Saat Perang Dunia Pertama berlangsung (1914 – 1918), Rusia dan Jerman berada dalam posisi bermusuhan dan terlibat peperangan. Sejak awal Lenin sudah berharap Rusia kalah perang dan kekacauan muncul, maka ia yang berada dalam pengasingan di Swiss segera memanfaatkan kesempatan untuk menghasut kaum revolusioner pengikutnya membuat ulah yang mengganggu pemerintah Rusia saat itu. Dan ia sendiri mulai membentuk dan melatih para anggota organisasi rahasia ‘revolusioner profesional’.

Kemampuan pemerintah Rusia menurun tajam seiring perang yang masih berlangsung. Kekuasaan pemerintah Tsar juga ikut melemah. Sejumlah orang Rusia penganut liberalisme, sosialisme, para pedagang termasuk militer, bangsawan dan lainnya juga menghendaki pemerintahan Tsar runtuh. (sinatra/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular